SIFAT APAKAH YANG DIKEHENDAKI OLEH ALLAH?

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

Al Qur’an, yang merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia, merupakan perkataan Allah. Kita bisa mencapai sifat yang diridhai oleh Allah dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an dan hidup dengan itu. Ini sangat mudah. Namun, meskipun demikian, sebagian besar manusia melakukan kesalahan karena menjauhi sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Jika suatu hari, semua orang di sekitarmu patuh pada keinginan Allah dan mengamalkan sifat-sifat yang dituntut oleh Allah dari manusia, maka dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik. Sekarang, mari kita lihat secara singkat tentang hal ini.

Kita semua tahu bahwa Allah telah menciptakan manusia. Dengan begitu, Allah-lah Yang Maha Mengetahui akhlak terpuji dan tercela yang dimiliki manusia. Seseorang mungkin bisa menipu orang lain, tetapi dia tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Allah. Hal ini karena, tidak seperti kita, Allah mengetahui apa yang dipikirkan seseorang. Oleh sebab itu, seseorang harus selalu ikhlas dan jujur kepada Allah. Salah satu ayat menyebutkan:

Katakanlah, ”Jika kita menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kita melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.” Allah mengetahui apa pun yang ada di langit dan apa pun yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali-Imran: 29)

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kita melahirkan yang ada di dalam hatimu atau kita menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kita tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang di kehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah: 284)

Orang yang sadar bahwa Allah Maha Mendengar segala kata yang ia ucapkan, mengetahui segala tindakan yang dia perbuat dan setiap pikiran yang melintas di pikirannya, tidak akan pernah berani melakukan perbuatan jahat, meskipun tidak terlihat oleh orang lain. Artinya, agar menjadi orang terpuji, kita harus benar-benar beriman pada adanya Allah dan keesaan-Nya, mengetahui sifat-Nya yang Mahakuasa dan sadar bahwa Dia Maha Melihat dan Mendengar segala sesuatu. Ini adalah salah satu syarat untuk mencapai sifat yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya.

Mencintai Allah dan Percaya kepada-Nya

Kita tentu menghargai cinta yang ditunjukkan oleh orang tua kepada kita, bukan? Kita juga mencintai mereka. Mereka melindungi dan mencintai kita dan memenuhi kebutuhan kita. Kita mempercayai mereka. Jika kita menghadapi kesulitan, kita mengetahui bahwa mereka akan selalu siap membantu kita.

Pernahkah kita memikirkan seberapa besar cinta dan rasa percaya kita kepada Allah?

Allah memenuhi semua kebutuhan seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Berkat kasih sayangnya yang tak terbatas, kita hidup di dunia ini dalam damai dan menikmati karunia yang tak terbatas.

Allah telah menciptakan matahari sehingga kita bisa hidup di bumi. Allah juga telah menciptakan sayur-sayuran, buah-buahan, dan hewan untuk kita. Kita punya nasi, susu, daging, dan berbagai sayuran dan buah-buahan lezat karena Allah telah menciptakan itu semua untuk kita.

Allah telah menciptakan hujan sehingga kita bisa memiliki air yang segar untuk diminum. Allah telah menciptakan lautan, tempat air asin yang selalu tersedia. Tanpa hujan, tidak akan pernah ada air atau air garam di bumi. Air itu sangat penting untuk kita. Seperti yang kita ketahui, manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa air selama beberapa hari.

Allah memberi kita sistem kekebalan dalam tubuh kita untuk melindungi kita dari penyakit. Berkat sistem kekebalan ini, kita tidak mati karena makhluk-makhluk kecil (virus atau bakteri) yang menyebabkan flu.

Di samping semua ini, Allah membuat jantung kita terus berdetak tanpa henti sepanjang hidup. Jika jantung kita memerlukan istirahat selama jangka waktu tertentu, seperti halnya mesin, kita pasti akan mati. Tetapi jantung kita berdetak tanpa henti selama berpuluh tahun tanpa istirahat sehingga kita tetap hidup.

Allah telah menciptakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, dan lidah untuk mengecap. Semua ini baru sedikit dari nikmat yang Allah berikan untuk kita. Kita tidak bisa menghitung semua nikmat yang Allah berikan untuk kita. Dalam satu ayat, Allah, Yang Maha Penyayang kepada kita, menyampaikan kepada kita hal berikut ini:

Dan Dia telah memberikan untukmu keperluanmu dari segala yang kita mohon kepadanya. Dan jika kita menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kita memperkirakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan mengingkari nikmat Allah. (QS Ibrahim: 34)

Seperti yang kita telah pahami dalam Al Qur’an, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat ini, melupakan bahwa seluruh nikmat itu berasal dari Allah, dan tidak bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia berikan bagi kita, adalah perilaku yang tercela. Allah tidak mencintai orang-orang yang tidak bersyukur.

Sebagai balasan atas nikmat-Nya, Allah hanya menginginkan agara kita mencintai-Nya, bersyukur kepada-Nya, yakni berterima kasih kepada-Nya. Perintah-Nya difirmankan dalam ayat sebagai berikut:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu hal pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78)

Maka makanlah yang halal dan baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika memang hanya kepada-Nya saja kamu menyembah. (QS an-Nahl: 114)

Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekita: pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikit kamu bersyukur. (QS Al-Mu’minun: 78)

Dalam ayat lainnya, difirmankan bahwa orang-orang yang beriman mencintai Allah di atas segala-galanya:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah. Mereka mencintainya seperti mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangatlah cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu adalah milik Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS Al-Baqarah: 165)

Allah melindungi dan memelihara ibu dan ayah kita serta semua orang lain. Kita semua butuh Allah. Baik orang tua kita maupun kita sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan kita. Untuk itu, kita harus mencintai Allah dan percaya kepada-Nya.

Mencintai Allah lebih dari siapa pun dan di atas segalanya, percaya kepada-Nya dan mengakui bahwa Dia telah memberi kita segalanya merupakan ciri utama sifat yang diridhai Allah.

Bagaimana Kita Bersikap pada Orang Lain

Allah melarang manusia bersikap sombong, berbohong, memperolok-olok orang lain dan angkuh. Jujur dan rendah hati adalah sifat-sifat yang diridhai oleh Allah.

Dalam kehidupannya, manusia sering dipengaruhi oleh orang-orang di lingkungannya. Jika mereka menyakiti teman-temannya, mungkin ia telah mendapat pengaruh jelek dari lingkungannya itu. Tetapi, seseorang yang beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Allah selalu melihatnya tidak pernah meninggalkan jalan yang benar, meskipun keadaan memaksanya untuk melakukan itu. Dia menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang tidak jujur dan sesat.

Allah mencintai orang yang sabar. Istilah ”kesabaran” dalam Al Qur’an tidak hanya berarti sabar menghadapi musibah, melainkan juga berarti sabar di setiap saat dalam kehidupan. Kesabaran seseorang yang beriman tidak berubah karena orang lain atau suatu kejadian. Misalnya, orang yang tidak begitu takut kepada Allah mungkin akan berlaku baik pada seseorang yang bisa memberinya keuntungan, tetapi tidak bisa selalu menunjukkan sikap terpuji ini. Begitu ia merasa bahwa kepentingannya diganggu, dia mungkin saja tiba-tiba berubah. Namun, orang yang beriman dengan seksama menghindari melakukan perbuatan tercela. Dia menunjukkan sikap yang baik kepada setiap orang dan beriktikad baik untuk tetap melakukan itu, apa pun keadaannya atau bagaimanapun sikap orang lain kepadanya. Meskipun ia marah, ia berhasil mengendalikan dirinya dan menunjukkan kesabaran.

Dalam satu ayat, Allah memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kesabaran:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kita, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah supaya kita beruntung. (QS Ali-Imran: 200)

Kesabaran orang-orang yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah teladan buat kita. Seperti yang kita ketahui, penderitaan Nabi Ayub AS berlangsung sangat lama. Tetapi hamba Allah yang mulia ini menunjukkan kesabaran dan berdoa kepada Allah. Allah menjawab doanya dan menunjukkan jalan keluar kepadanya.

Nabi Nuh AS menunjukkan kesabarannya ketika orang-orang menertawakannya karena bahtera yang dibangunnya. Ia tetap tenang dan menasihati mereka. Semua ini adalah contoh yang luar biasa mengenai kesabaran yang ditunjukkan oleh orang-orang mulia. Allah berfirman dalam banyak ayat bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang sabar.

Sebaliknya, Allah tidak mencintai orang-orang sombong yang suka membanggakan diri. Tidak semua orang menikmati keberuntungan harta benda yang sama di dunia ini. Ada orang yang mempunyai rumah dan mobil yang indah, sedangkan orang lain tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, yang penting adalah bahwa kita bisa berlaku benar. Misalnya, menganggap bahwa seseorang lebih baik dari orang lain karena ia punya paakaian yang lebih bagus merupakan sikap yang tidak disukai oleh Allah. Hal ini karena Allah memerintahkan kita untuk menilai manusia atas dasar keimanan mereka, bukan penampilan mereka.

Bagi Allah, yang menentukan kelebihan seseorang bukanlah kekayaan, kekuasaan, kecantikan, atau kekuatannya. Allah menilai manusia menurut takwa (rasa takut kepada Allah) mereka, cinta yang mereka rasakan terhadap-Nya, ketaatan mereka, dan keteguhan hati mereka untuk hidup berdasarkan nilai-nilai Al Qur’an. Inilah ukuran penilaian kelebihan seseorang dalam pandangan Allah.

Qarun adalah orang yang sangat kaya. Ia begitu kaya sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang. Orang-orang bodoh di sekelilingnya berkhayal ingin menjadi Qarun dan ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Qarun. Tetapi Qarun adalah orang yang sombong dan sangat angkuh, yang tidak patuh kepada Allah. Ia mengingkari bahwa Allah telah memberinya seluruh kekayaannya itu. Karena itu, Allah menimpakan azab yang pedih untuk Qarun: Ia dan seluruh harta bendanya lenyap dalam satu malam saja. Melihat azab yang pedih itu, orang-orang yang pernah berkhayal ingin menjadi Qarun merasa bahagia tidak menjadi Qarun. Mereka semua mengakui bahwa ini adalah hukuman dari Allah.

Qarun dijadikan sebagai contoh dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa. Ia melakukan kezaliman terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu berbangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS Al-Qasas: 76)

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ”Semoga kita mempunyai (harta) seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, ”Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan pahala itu tidak diperoleh, kecuali oleh-orang-orang yang sabar.

Maka kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. Dan ia tidak dapat membela diri.

Dan orang-orang yang kemarin bercita-cita mendapat kedudukan Qarun pun berkata, ”Sungguh, memang benar Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan menyempitkannya. Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, tentu Dia telah membenamkan kita juga. Sungguh benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.” (QS Al-Qashash: 79-82)

Al Qur’an memberi tahu kita bahwa menyebarkan gosip dan bergunjing termasuk perilaku yang juga tidak disukai oleh Allah. Mencari-cari kesalahan seseorang, bergunjing, dan menjadikan orang lain sasaran tertawaan adalah perilaku yang harus selalu dihindari oleh orang-orang yang takut kepada Allah. Dalam Al Qur’an Allah melarang menyebarkan gosip dan bergunjing. Ayat yang menyebutkan ini berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kita mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kita saling bergunjing satu sama lain. Adakah di antara kita yang suka memakan daging saudaraanya yang sudah mati? Tentulah kita merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)

Juga bisa dilihat dari ayat tersebut, Allah mengatakan kepada kita dalam Al Qur’an bahwa bergunjing sama menjijikkan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah mati.

Allah menyuruh kita untuk berbuat baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kehidupan adalah kesempatan yang dikaruniakan oleh Allah untuk mengikuti jalan-Nya yang benar. Saat ini, sebagian besar manusia tidak sadar tentang hal ini. Bukannya mematuhi perintah dan anjuran Allah, mereka justru mencari petunjuk lain. Karena terpengaruh oleh film-film yang mereka tonton atau lagu-lagu yang mereka dengarkan, mereka menganut ajaran-ajaran yang salah. Misalnya, para pemuda yang menonton tokoh kejam dan tak kenal kasihan dalam sebuah film sering mencoba untuk menirunya, setelah mereka meninggalkan bioskop.

Akan tetapi, seseorang yang bijaksana dan jujur selalu menunjukkan sifat yang diridhai oleh Allah. Para nabi adalah manusia yang harus kita teladani langkahnya. Sifat-sifat yang harus kita miliki adalah sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Sifat ini meliputi pengasih, pemaaf, rendah hati, sederhana, sabar, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Seseorang yang menjalankan ajaran mulia ini tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan dalam pertengkaran. Ia justru melerainya dan menunjukkan sikap tenggang rasa. Al Qur’an memerintahkan kita untuk hormat dan patuh kepada orang tua, bukan malah durhaka dan melawan mereka. Dalam Al Qur’an, Allah menegaskan pentingnya hormat kepada kedua orang tua:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kita berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kita mengatakan kepada keduanya perkataan, ”Ah!” Dan janganlah kita membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh rasa sayang, dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik aku sewaktu kecil.”(QS Al-Israa: 23-24)

Patuh kepada kedua orang tua, tidak menyakiti mereka walau sekecil apa pun dengan mengatakan, “Ah,” dan selalu sayang dan lemah-lembut terhadap mereka adalah sifat-sifat penting yang dituntut oleh Allah dari kita. Menunjukkan sifat-sifat ini akan mendatangkan cinta Allah kepada kita dan menjadikan kita lebih bahagia dan damai dalam hidup sehari-hari.

Kita hanya bisa menunjukkan sifat yang terpuji dalam Al Qur’an bila kita hidup menurut Islam. Orang-orang yang tak beriman hampir tidak mampu menjalankan nilai-nilai mulia ini. Kamu harus menghindar dari menjadi orang seperti itu dan selalu mencamkan ayat yang berbunyi, “Apakah kita mengira kita akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar?”(QS Ali-Imran: 142). Jangan pernah lupa bahwa Allah akan lebih mencintai kita dan memberikan nikmat-Nya yang lebih banyak kepada kita jika kita sabar, rendah hati, rela berkorban, dermawan, dan jika kita berlaku baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s