Al Munaafiquun (63) : 11.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”

Sungguh kematian adalah hakim yang paling tegas dalam kehidupan. Tak ada yang bisa menawar. Atau pun sekedar membantah.  Tak peduli apakah seseorang sudah siap mati atau belum. Tak ada tawar menawar dalam hal ini. Tak ada sogokan alias suap menyuap.

Kematian adalah kepastian. Silahkan berkata dan bersikap apa saja, kematian tetap pada pendiriannya.

Tak peduli apakah kematian bakal meninggalkan keluarga yang menderita. Anak-anak yang masih kecil dan butuh perhatian. Tak peduli apakah sang isteri tak sanggup menafkahi anaknya. Orang tua yang meraung-raung karena kehilangan tulang punggung keluarga.

Atau malah meninggalkan senyum dan tawa, karena yang mati adalah penjahat dan pengacau ketentraman masyarkat. Kepergiaannya, malah melegakan semua orang. Bahkan isteri dan anak-anak yang selama ini terzalimi.

Kematian tidak memperdulikan semua itu. Tugasnya hanya memisahkan jiwa dan raga manusia. Menghancurkan raganya. Melayangkan jiwanya ke alam yang berbeda.

Tangis dan tawa tidak berpengaruh apa-apa pada sang jenazah atau jiwa yang terlepas. Bukan berarti kalau orang yang ditinggalkan sedih, lantas jiwa sedih. Atau kalau yang ditinggalkan itu tetrawa lalu jiwa ikut tertawa.

Jiwa yang terlepas dari badan sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Sang jiwa terbelalak menyaksikan alam barzakh. Yang belum pernah melihatnya. Apalagi berhadapan dengan malaikat pada saat sakaratul maut bukan main menakutkan. Khususnya bagi orang-orang zalim.

QS. Al An’aam (6) : 93.

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”   

Maka tangis dan tawa lebih bermakna bagi orang-orang yang ditinggalkan. Bukan pada yang meninggal. Tangis yang berlebihan pada orang-orang yang ditingalkan dilarang oleh Rasulullah saw. Karena itu menunjukkan betapa kita tidak beriman dan bertaqwa kepada Allah dengan baik. Cengeng dan egois.

Coba Tanya pada diri sendiri, kenapa kita menangis pada saat ditinggalkan mati oleh yang kita cintai? Apakah kasihan kepada yang mati atau kasihan pada diri sendri? Kebanyakan jawabannya adalah karena kasihan pada diri sendiri. Merasa kehilangan. Takut hidup sendiri tanpa kawan. Takut tidak ada yang menafkahi. Kecewa karena kebahagiaan terputus. Atau banyak lagi alas an, yang berorientasi pada diri sendiri. Bukan pada yang mati.

Padahal boleh jadi kematian itu sebenarnya bermakna pembebasan bagi yang meninggal. Misalnya karena sakit parah yang sudah bertahun-tahun. Atau hidupnya selalu menderita dan teraniaya. Atau memang tugas hidupnya sudah selesai. Maka sudah sepatutnya ia kembali kepada Allah.

Ini seperti Rasulullah saw ketika haji wada’ Nabi Muhammad menerima wahyu terakhir. Maka beliau menjadikan momen haji itu sebagai perpisahan dengan para sahabat, sambil membacakan wahyu itu.

QS. Al Maa’idah (5) : 3

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Abu Bakar yang halus perasaannya menangkap sinyal itu  bahwa Rasulullah saw tidak lama lagi akan meninggal.  Karena tugas Rasulullah saw sudah selesai. Secara mental Abu Bakar sudah siap. Ia meneteskan air mata karena merasa sedih atas perpisahan itu.

Ia kehilangan sahabat yang dicintainya, yang selama bertahun-tahun merasakan suka duka bersama. Ia juga kehilangan menantu, karena Rasulullah saw adalah suami anaknya ‘Aisyah. Umat telah kehilangan seorang nabi yang begitu agung dan berbudi mulia, yang sangat perhatian pada umatnya. Membimbing mereka untuk keluar dari kedzaliman dan kebodohan peradaban. Menjadi tempat bertanya dan solusi atas berbagai persoalan umat.

Abu Bakar rela dan ikhlas atas kepergian Rasulullah saw, karena tugas beliau memang sudah selesai. Bahkan Rasulullah saw sudah berada di sisi Allah.

Sangat berbeda dengan Umar bin Khathab. Ia sangat terkejut dan terpukul mendengar berita wafatnya Rasulullah saw. Umar akan membunuh orang yang mengatakan Rasulullah saw meninggal dunia. Ia tidak siap mental ditinggalkan untuk Rasulullah saw.  Kemudian Abu Bakar mendekatinya sambil membacakan firman Allah.

QS. Ali ‘Imran (3) : 144.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Wallahu’alam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s