Tidak ada satupun manusia di dunia yang mampu merubah keadaan seseorang. Akan tetapi orang yang bersangkutanlah yang merubahnya. Apakah ia ingin baik atau ingin buruk?! Semuanya tergantung pada usahanya.

QS. Ar Ra’d (13) : 11.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Manusia diberikan oleh Allah akal pikiran yang berfungsi untuk memilih jalan hidup. Dari pikiran itu maka lahirlah visi. Manusiapun diberikan hati yang berfungsi untuk memutuskan. Situasi hati yang sedang kita alami disebut dengan mentalitas. Allah juga memberikan fisik yang berfungsi melakukan segala hal yang disebut sikap. Ini adalah kemampuan dasar yang ada pada manusia.

Pada diri manusia ada tiga hal yang bisa merubah dirinya menjadi apa yang ia inginkan. Tiga hal itu adalah akal, hati dan fisik. Dari akal akan lahir visi. Dari Hati akan lahir mental. Dari fisik akan lahir sikap.

Dalam kehidupan ini Allah telah memberikan pilihan-pilihan jalan hidup. Banyak orang yang gagal karena tidak mampu menciptakan pilihan. Kemampuan menciptakan pilihan  adalah kekuatan pertama yang dimiliki seseorang. Kemudian kemampuan itu didukung oleh hati dan fisiknya.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi, genetika dan sosial. Pendidikan  waktu masih kecil sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang. Ketika sudah dewasa maka akan muncul sikap hasil didikan itu. Semuanya tergantung kepada orang tuanya. Ada seseorang yang pendiam, ada yang pemarah, ada yang ceria dan sebagainya. Perilaku orang tua sangat berpengaruh dengan pola dan tingkah laku anak-anak mereka. Rasulullah saw mengatakan sifat turunan sangat mempengaruhi orang.

Lingkungan juga berpengaruh dengan perilaku seseorang. Lingkungan mana yang ia tempati, maka ia seperti lingkungannya. Orang yang berada pada lingkungan pesantren cendrung rajin melakukan ibadah. Sementara orang yang berada di lingkungan orang-orang jahat, tentu ia akan cendrung ikut jahat juga. Jika tidak terlatih untuk berpuasa, maka pada bulan Ramadhan akan berat melakukan puasa.

Pemikiran sangat menentukan bagaimana sebuah tindakan akan terjadi. Pemikiran seseorang perlu diluruskan, agar ia berpikir kepada yang baik-baik. Ibnu Qayyim mengatakan, “Hati-hati terhadap lintasan pikiran yang melintas di pikiran anda” Awal dari semua yang kita lakukan berasal dari lintasan pikiran. Dari ratusan lintas pikiran pada setiap harinya, hanya satu atau dua yang sering terlintas. Semakin sering terlintas, lama kelamaan menjadi gagasan. Jika gagasan itu menguat lalu menjadi keyakinan. Keyakinan akan dapat berubah menjadi kemauan. Dengan kemauan inilah kita melakukannya.

Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebiasaan. Lama-kelamaan kebiasaan yang dilakukan terus menerus menjadi watak. Karenanya Imam Ghazali menggambarkan akhlak sebagai tindakan yang muncul dari seseorang yang tidak didahului dengan proses berpikir.

Oleh karena itu jika kita ingin mengubah perilaku, dengan cara merubah cara berpikir. Jika kita sering berpikir kotor maka akan mudah melakukan tindakan yang kotor. Sebaliknya jika suka berpikir yang baik, maka akan mudah melakukan yang baik-baik.

Begitupun dengan cara setan mempengaruhi manusia pertama kali lewat lintasan pikiran. Kemudian lintasan hati. Saat semuanya sudah terprogram lama-kelamaan menjadi sebuah tindakan.

Itu sebabnya Al-Qur’an ketika ingin menyampaikan pengharaman khamar, yang pertama kali diubah adalah cara berpikir orang tentang khamar.  

Apabila ingin melakukan sesuatu dengan mudah, perlu  memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang ingin dilakukan dan rasa cinta terhadap sesuatu. Kita harus menghidupkan pikiran yang baik-baik dalam diri. Kita juga harus memunculkan kecintaan yang kuat terhadap sesuatu yang ingin di capai. Sebaliknya membenci terhadap sesuatu yang tidak diinginkan. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s