Sungguh indah dan mulia ajaran Islam. Betapa tidak seorangpun yang luput dari perhatian Islam. Islam bukan hanya untuk orang-orang yang beruntung, yang kaya, yang gagah-cantik, yang pintar, dan penguasa serta orang sempurna.

Islam  juga bagi mereka yang bodoh, yang miskin, yang tertindas, yang buruk rupa serta yang tidak sempurna fisik dan yang cacat. Islam juga untuk hamba-hamba Allah yang kurang beruntung dan yang malang.

Karenanya Islam justru membela mereka yang malang dan tertindas serta memberikan perhatian besar. Memberikan pembelaan dan membela hak-hak yang tertindas dan membebaskan dari penderitaan. Karena mereka tidak mampu melakukannya sendiri serta tidak bisa bersaing dalam kehidupan.

QS. At Taubah (9) : 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

QS. Al Anfaal (8) : 41.

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang  miskin dan ibnussabil,  jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa, yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Coba kita perhatikan ayat di atas. Allah menyuruh kita memperhatikan hamba-hamba-Nya yang lemah. Orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat, mu’alaf, memerdekakan budak, orang yang berhutang, ibnussabil serta orang-orang yang dalam kesusahan lainnya. Justru disini letak indahnya Islam, jika yang lemah diperhatikan maka akan terjadi keseimbangan dalam peradaban manusia.

Kenapa  terjadi  kemiskinan dan penindasan  dimana-mana? Karena orang-orang kaya dan orang punya kekuatan tidak memperhatikan yang lemah. Justru mereka memanfaatkan kelemahan orang lain. Islam datang membela kaum-kaum yang lemah, karena ketidakberdayaan mereka.

Suatu ketika Rasulullah saw pernah ditegur oleh Allah karena kurang memperhatikan seorang  buta bernama Ummi Maktum yang mau belajar tentang Islam kepadanya.  Waktu itu Rasulullah saw berusaha merangkul pembesar-pembesar Quraisy. Karena menurut hemat beliau pembesar-pembesar Quraisy berpotensial untuk mengembangkan dakwah Rasulullah saw. Dan beliau melihat bahwa yang buta kurang berpotensi mengembangkan dakwahnya. Rasulullah saw merasa agak terganggu kedatangan Ummi Maktum itu, karena sedang berhadapan dengan orang-orang penting Quraisy.

Langsung saja Allah menegur Rasulullah saw dan diabadikan di dalam Alqur’an.

QS. ´Abasa (80) : 1-11

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,  karena telah datang seorang buta kepadanya, Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,  maka kamu melayaninya, Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),  sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.”  

Bisa kita bayangkan seorang Rasulullah  ditegur oleh Allah SWT, karena mengabaikan seorang yang buta. Padahal pada saat itu Rasulullah saw sedang menemui pembesar-pembesar Quraisy untuk keberlangsungan dakwahnya.

Coba kita perhatikan suatu teguran yang keras. Jangan meremehkan orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Allah lebih menghargai orang-orang yang mempunyai niat untuk membersihkan diri dari pada pembesar Quraisy yang belum  tentu mendukung dakwah Rasulullah saw.

Tugas Rasulullah saw adalah menyampaikan misi dakwah dan tidak bisa menentukan siapa yang bakal mendapatkan hidayah Allah. Bahkan Rasulullah saw tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya sendiri, karena hidayah itu menjadi hak paten dari Allah.

QS. Al Qashash (28) : 56.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Petunjuk akan datang kepada orang yang memang mau memperoleh petunjuk.  Yang berniat dan berusaha mencari petunjuk. Tidak masalah apakah ia orang miskin, kaya, tua, muda, penguasa, rakyat jelata, buta, tuli dan semuanya.

Allah akan memberikan ilmu kepada manusia, selagi  mau mempelajari dan mengamalkannya. Allah akan membuka mata hati orang-orang yang buta matanya. Allah akan menguatkan orang yang lemah. Allah akan membukakan pendengaran orang tuli. Selagi mau belajar insya Allah akan mendapatkan petunjuk.

QS. Al An’aam (6) : 125.

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s