Jamuan istimewa dari Allah berupa petunjuk hidup yaitu Alqur’an. Di dalamnya  mengatur seluruh seluk beluk kehidupan manusia dan alam semesta. Mulai dari penciptaan manusia sampai bagaimana  bentuk kesudahan  manusia beriman dan kafir. Bahkan menerangkan dimana tempat  hunian manusia yang beriman dan kafir.

QS. Al Baqarah (2) : 185.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, membaca Alqur’an itu ibarat sebuah jamuan istimewa. Alqur’an langsung sebagai pembicaranya adalah Allah dan disampaikan oleh Rasulullah. Sang Maha Berilmu dan sangat Pemurah dalam memberikan ilmu dan Rahmat-Nya.  

Audiensinya adalah kita semua, seluruh makhluk Allah. Para malaikat, manusia, para jin, dan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Undangan diberikan kepada mereka yang memang ingin hadir untuk memperoleh bimbingan Sang Maha Guru.

Seluruh makhluk baik yang berada di langit maupun bumi, dengan suka cita menghadiri jamuan istimewa itu, kecuali jin dan manusia. Seluruh makhluk datang dengan berserah diri kepada Sang Guru. Karenanya mereka memperoleh Rahmat serta karunia-Nya. Semuanya bertasbih memuji Penguasa alam semesta, kecuali jin dan manusia.

QS. Al Hadiid (57) :  1.  

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kita manusia adalah makhluk yang suka membantah dan pembangkang. Merasa diri paling hebat dan sok tahu dengan semua persoalan. Suka membanggakan diri sendiri, kekayaan dan keturunan.  Sebenarnya manusia itu lemah, pelupa, tergesa-gesa, berubah-ubah dan bodoh.

QS. Al Kahfi (18) : 54.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.
QS. Luqman (31) : 18.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang  sombong lagi membanggakan diri.”

At Taubah (9) :  67.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”

Dengan jamuan Allah manusia bisa belajar banyak tentang kehidupan. Sejak wahyu pertama Allah memang mengajarkan  apa saja yang tidak diketahui oleh manusia. Kemudian Allah menutup firman-Nya dengan menyempurnakan semuanya berupa agama, nimat-Nya dan meridhai Islam sebagai satu-satunya agama yang mendapat pengakuan-Nya.

QS. Al ‘Alaq (96) :  1.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

Al Maa’idah (5) : 3.

“……………. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Alqur’an merupakan firman Allah yang langsung  disampaikan kepada makhluk-Nya. Lewat Alqur’an Allah menyuruh kita merealisasikan seluruh peraturan yang berlaku. Kita akan menemukan ayat-ayat Allah  ditujukan pada semua makhluk. Bahkan sebenarnya seluruh alam semesta ini tidak lebih dari perwujudan dari kalimat Allah ; ‘Kun’. Sehingga Allah menyebut seluruh realitas ini adalah kalimat dan ayat-ayat-Nya semata.

QS. An Nahl (16) :  40.

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia.”

QS. Luqman (31) :  27.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya  (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kenapa kalimah Allah tidak cukup dituliskan dengan tinta tujuh samudera? Karena realitas alam semesta  ini adalah kalimah Allah itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin samudera yang hanya 2/3 bumi bisa menuliskan seluruh kalimah yang berwujud alam semesta? Tak mungkin habis kita tuliskan.

Pada ayat yang lain, Allah mengatakan kemanapun kita menghadap sebenarnya kita sedang berhadapan dengan Allah. Berhadapan dengan kalimah-kalimah-Nya dan ayat-ayat-Nya.

Al Baqarah (2) : 115.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Jadi jamuan Allah itu berupa Alqur’an dan berupa kalimah-kalimah dalam alam semesta ini.  Tinggal kita, apakah mau mengambil hidangan Allah ataukah kita mau mengambil hidangan setan yang menyesatkan itu?!

Sungguh beruntung orang yang mengambil hidangan Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengambil hidangan itu. Dan sungguh celaka orang yang mengacuhkan hidangan Allah. Semoga kita tidak termasuk golongan itu.

QS. Al Hajj (22) :  46.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s