QS. Az-Zukhruf (43) : 36-37

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

Apa yang membedakan orang yang mendapat petunjuk dan orang yang sesat? Pembedanya adalah apakah orang itu menghiraukan ataukah tidak menghiraukan petunjuk Allah SWT. Jika dia  menghiraukan ajakan Allah, insya Allah dia akan mendapat petunjuk. Sebaliknya jika  tidak menghiraukan ajakan Allah, maka yang datang menemuinya adalah setan-setan yang menyesatkan.

Yang lebih parah adalah orang-orang yang sesat itu menyangka mereka mendapat petunjuk. Padahal kesesatan itu bakal mengantarkan mereka kepada penderitaan dunia dan akherat.

QS. Al-Furqaan (25) : 29-30

“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”   Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.

Orang yang berpaling dari ajakan Allah, akan selalu dihampiri oleh setan sebagai teman mereka. Setan yang datang itu bukan sebagai teman kebaikan, justru menyesatkan orang itu. Setan tidak pernah akan menolong manusia, tujuannya cuma satu yaitu menjerumuskan manusia. Harapan setan agar bersama-sama dengan mereka nanti di neraka.

Sungguh halus cara setan menjerumuskan manusia, sampai-sampai manusia tidak merasakan sedang berada dalam kesesatan. Bahkan manusia merasakan dan menyangka berada dalam petunjuk.    

Meskipun Alqur’an berisi petunjuk yang dapat menyelamatkan manusia, ternyata banyak yang tidak mengacuhkannya. Rasulullah menyampaikan keluhannya kepada Allah “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.

Sering terjadi, ada orang yang  menasehati dan ingin menyelamatkan kita, karena kesombongan diri hingga kita tidak mengacuhkannya. Bahkan ada yang menentang habis-habisan walaupun  tidak tahu substansi sebenarnya. Yang diikuti adalah setan yang selalu menyesatkan.

QS. Al Hajj (22) :  3.

“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat.”

Kebanyakan manusia merasa dirinya pintar. Padahal sebenarnya dirinya bodoh dan lemah. Semakin merasa pintar, maka semakin bodohlah ia. Sebaliknya semakin merasa bodoh, sebenarnya pintarlah ia.

Al Ahqaaf (46) :  11.

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama.”

Sungguh kesombongan yang besar dari orang kafir. Mereka merasa pintar dan hebat sampai-sampai mengatakan “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.” Bahkan mereka berani mengatakan “Ini adalah dusta yang lama.” Karenanya Allah menyesatkan orang-orang kafir dan  mereka akan mendapatkan kesengsaraan dunia dan akhirat.

Sedangkan orang-orang  tidak sombong yang beriman kepada Allah dan Kitab-Nya, adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Tentu saja orang-orang beriman inilah yang bisa menerima ajakan ajaran Alqur’an dan menjalankannya dalam kehidupan. Orang-orang yang menerima ajakan Allah SWT bakal menerima balasan yang baik berupa syurga.

QS. Yunus (10) : 9.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.”

QS. An Naml (27) : 77.

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang mendapat petunjuk itulah sebenarnya orang yang pintar. Kenapa demikian? Karena ia membuka pikiran dan mempelajari gejala-gejala alam untuk dijadikan ilmu. Sehingga dalam Alqur’an disebut sebagai orang yang berakal.

QS. Ali ‘Imran (3) : 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Orang-orang yang tidak mengacuhkan ayat-ayat Allah adalah seperti orang yang berjalan di jalan raya, kemudian tidak memperhatikan rambu-rambu yang ada. Tentu orang semacam ini akan tersesat di jalan. Yang lebih fatal adalah ia menabrakkan kendaraannya kepada pengguna jalan. Sehingga terjadi kerusakan yang parah di jalan raya.  Sangat berisiko  bagi pengguna jalan jika banyak orang-orang yang tidak memperhatikan rambu-rambu jalan. Risiko kecil bagi pengguna jalan jika ia menabrakkan diri sendiri di trotoar, namun tetap saja membuat kerusakan.

Begitupun dengan  mengacuhkan ayat-ayat Allah, maka orang itu akan tersesat jalan hidupnya di dunia dan akhirat. Dan membuat kerusakan pada kehidupan orang lain yang bersentuhan dengannya. Semoga saja kita termasuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri di hadapan Allah SWT dan mendapat Rahmat-Nya.……… Amin. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s