QS. Al Jaatsiyah (45) : 21.

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”

Merupakan  kesalahan yang besar jika orang-orang yang berbuat jahat, menyangka mereka seperti orang-orang yang melakukan amal shaleh. Islam mengajarkan kepada kita agar kita selalu berbaik sangka terhadap segala sesuatu, kecuali kepada orang-orang kafir, zalim dan fasik.

Berburuk sangka adalah pekerjaan syaitan. Syaitan membuat manusia memandang indah dalam  persangkaan itu. Hati-hatilah terhadap prasangka, sebelum semuanya berbuah penyesalan. Tidaklah suatu kaum berperasangka buruk, melainkan kaum itu akan menjadi  binasa. 

QS. Al Fath (48) : 12.

“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” 

Diceritakan pada zaman dahulu ada sebuah keluarga. Tempat tinggalnya di pinggir desa. Mereka tinggal bertiga di sebuah rumah terdiri dari sang Bapak, sang ibu dan seekor kucing kesayangan mereka.

Sudah cukup lama keluarga tersebut mendambakan seorang anak, namun belum juga dikaruniakan oleh Allah SWT. Siang dan malam mereka berdua selalu berdo’a. Alhamdulillah berkat kemurahan Allah dan usaha mereka, akhirnya sang  ibu hamil dan melahirkan seorang bayi.

Kebahagiaan keluarga tersebut ternyata tidak berlangsung lama karena selang waktu beberapa lama, sang ibu  meninggal dunia.  Maka tinggallah sang Bapak, sang bayi dan seekor kucing.

Pada suatu hari, sang Bapak hendak pergi ke pasar membeli persediaan makanan yang sudah menipis. Sebelum berangkat sang Bapak berpesan kepada kucing agar menjaga anak bayinya baik-baik dan jangan ditinggal.

Sesampai di pasar sang Bapak bergegas membeli semua kepeluan untuk makanan di rumah. Setelah selesai berbelanja, sang Bapak langsung pulang untuk melihat bayinya. Alangkah terkejutnya sang Bapak, karena di depan pintu ia mendapatkan kucing yang mulutnya penuh dengan bekas darah segar.

Sang Bapak sudah berpesan agar menjaga bayinya dengan baik dan jangan  ditinggal. Ternyata malah memakan bayinya dalam pikiran Bapak tersebut. Langsung saja sang Bapak mengambil pentungan yang tersender di dinding, lalu memukulkannya pada kucing. Kucing mengerang kesakitan, sang Bapak tidak peduli dan terus memukul kucing itu. Sang kucing  terkapar dan bermandikan darah.

Dalam pikiran sang Bapak,  karena   persediaan makanan sudah habis, merasa lapar sang kucing memakan bayinya.  Setelah selesai memukul kucing kesayangannya, lalu sang Bapak bergegas melihat bayinya di kamar. Apa yang di dapatkan? Ternyata bayinya sehat dan tersenyum melihat sang Bapak datang. Di samping bayi itu tergeletak seekor ular besar yang sudah mati.

Rupanya sepeninggalan sang Bapak, kucing itu berkelahi dengan ular,  karenya mulut kucing penuh dengan bekas darah. Kucing telah berjuang dan memenangkan perkelahian hidup mati itu…..

Penyesalan yang luar biasa dari sang Bapak, karena ia telah memukul kucing kesayangan sampai sekarat. Lalu ia menggendong bayinya dan pergi menemui sang kucing yang sudah dipukulinya tersebut.

Sang Bapak merasa bersalah dan berdosa atas perbuatanya. Telah menganiaya kucing yang setia menjaga anak bayinya. Hidup sang kucing telah dipertaruhkan, namun perjuangan itu menjadi sia-sia lantaran buruk sangka sang Bapak………………..

Pelajaran yang penting dari itu adalah pertama, sang Bapak telah berburuk sangka kepada kucing yang setia. Ia tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu, tetapi langsung mengambil tindakan. Akhirnya kucingpun mati. Kedua, sang kucing tidak sabar menunggu sang Bapak sampai tiba di kamar. Ia langsung keluar ingin memberi tahu tentang jasanya yang telah berhasil membunuh ular besar.

QS. Ath Thuur : (52) : 48.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.”

Orang-orang yang melakukan amal shaleh tidak perlu menunjukkan amalan mereka terhadap manusia. Allah telah menyediakan balasan yang lebih baik berupa syurga. Apakah kita masih mengharapkan balasan dari yang lainnya?

QS. Yunus (10) : 26.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.”

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s