Sering  mendapatkan  diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita suka berputus asa terhadap segala keadaan. Seharusnya sebagai seorang muslim tidak diajarkan  untuk berputus asa. Kenapa demikian? Karena Rahmat Allah itu sangat banyak sekali. Dan tidaklah yang berputus asa itu melainkan kaum kafir.

QS. Yusuf (12) : 87.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”  

Janganlah kita berputus asa walaupun usia sudah tua, harta tak punya, anak tak ada dan rumahpun tiada. Kalaupun  mengenang masa muda penuh dengan maksiat kepada Allah SWT, sehingga jika kita hisab diri sendiri dan kita tahu bahwa dosa lebih banyak dari amal shaleh, tetap saja  tidak boleh berputus asa. Jika kita mau bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Rahmat Allah lebih besar dari dosa-dosa hamba-Nya. Dan tidaklah yang berputus asa itu kecuali orang-orang yang sesat kata Allah SWT.

QS. Az Zumar (39) :  53.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS. Al Hijr (15) :  56.

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.”

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bersiap-siap. Apa saja yang sudah kita persiapkan untuk hari esok?  Kita sendiri tidak tau apa yang bakal  terjadi. Selagi masih hidup dan roh belum sampai di kerongkongan, mari kita siapkan semuanya untuk melanjutkan kehidupan berikutnya. Yang kekal kehidupan akhirat, sementara kehidupan dunia hanyalah sementara saja.

QS. Al An’aam (6) :  32.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Allah berfirman, supaya kita menyiapkan hari esok dengan taqwa. Dengan bekal taqwa inilah yang akan menyelamatkan diri kita. Kunci kehidupan ini hanya dua saja, melakukan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT.

QS. Al Hasyr (59) : 18.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kapan waktu yang tepat untuk mempersiapkannya? Apakah kita akan menunggu besok? Menunggu tua?  Menunggu sampai roh di kerongkongan? Atau nunggu dimasukkan ke dalam kubur? Sekali-kali tidak…!

Justru sekaranglah waktu yang tepat mempersiapkan segala sesuatunya. Siapa yang menjamin kita hidup sampai tua? Siapa yang menjamin kita masih melihat mentari pagi? Semuanya tidak ada kepastian. Yang pasti kita akan menemui kematian itu sendiri.

Bersegeralah kita, sebelum  pemutus segala kenikmatan itu datang menemui. Di hari berbangkit nanti sungguh penyesalan yang luar biasa dari orang-orang yang berdosa. Allah tidak mengizinkan lagi untuk kembali ke dunia. Walaupun orang-orang berdosa itu terus memintanya…….

QS. As Sajdah (32) : 12.

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikan kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

QS. Ibrahim (14) : 44.

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”

Yang kita punya saat ini hanya waktu. Kita isi waktu yang tersisa ini untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Karena manusia memang diciptakan untuk beribadah kepada Allah, dan bukan untuk yang lainnya. Manusia adalah makhluk ibadah dan bukan mengingkari-Nya.

Adz Dzaariyaat (51) : 56.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” 

Iman Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Ali pernah berkata, “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, tidak ada penghisaban. Sedangkan esok waktunya penghisaban, tidak ada amal.”

Muadz bin Jabal saat dihampiri sakaratul maut di waktu fajar, ia berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya engkau tahu bahwa aku menyukai kehidupan ini bukan karena pohon yang ditanam, sungai yang mengalir, rumah yang dibangun, dan istana yang didirikan. Tapi demi Allah, kucintai kehidupan ini karena tiga hal : berpuasa pada hari yang panas, melakukan qiyamul lail, dan ikut meramaikan halaqah zikir (ilmu) bersama para ulama.”

Semoga kita tergolong orang-orang  yang tidak berputus asa. Mudah-mudahan kita termasuk orang optimis mendapatkan Rahmat dari Allah SWT……… Amin. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s