“Wahai umat manusia, takutlah terhadap syirik karena syirik itu lebih samar dari (suara) langkah semut.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kami takut terhadapnya?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunanMu, dari yang tidak kami ketahui” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)

Pada abad modern ini orang Islam kecil kemungkinan menyembah patung-patung untuk dijadikan berhala. Juga kecil kemungkinan umat Islam mau pindah ke agama lain. Justru yang menjadi  persoalan adalah perbuatan syirik yang terselubung. Dengan perkembangan zaman yang semakin canggih,  semakin sempitnya lapangan pekerjaan dan susahnya meraih kesuksesan hidup, kadang-kadang  membuat manusia lupa dengan Tuhan sebenarnya.

Justru zaman modern ini, orang-orang tidak malu lagi mendatangi dukun dan paranormal untuk  meminta kekayaan, pangkat, jabatan, kesuksesan dan jodoh. Tidak sedikit orang-orang Islam yang percaya kepada benda-benda yang dianggap bisa mendatangkan kebaikan dan keuntungan. Banyak orang-orang Islam yang masih mengkultuskan seseorang agar mendapatkan kemuliaan dan keselamatan. Dan tidak sedikit pula orang-orang mendatangi kuburan meminta semua kebutuhannya.

Sungguh celaka…! Ternyata perbuatan itu termasuk syirik – menduakan Allah SWT. Dan harus ditinggalkan jika ingin selamat.

QS. An-Nisaa’ (4) : 48.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

QS. An-Nisaa’ (4) : 116.

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”

Ayat di atas menjelaskan orang yang melakukan perbuatan syirik adalah orang yang melakukan perbuatan dosa besar. Dosa besar bisa dihilangkan hanya dengan bertaubat kepada Allah SWT. Perbuatan syirik juga dikatakan tersesat sejauh-jauhnya. Kalau seseorang sudah tersesat terlalu jauh maka akan bingung untuk mencari jalan  kembali. Agar cepat mengetahui jalan  kembali, harus segera bertaubat kepada Allah.

Tidak cukup itu saja, masih banyak syirik-syirik yang lain dan sangat halus. Ada manusia menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan.

QS. Al Jaatsiyah (45) : 23.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”  

Banyak manusia lebih mencintai keluarga, harta, wanita, pangkat, kekuasaan, sawah-ladang, dan perhiasan dunia lainnya. Sehingga  melupakan Allah SWT – Sang Pencipta Kehidupan Manusia.

QS. At Taubah (9) : 24.

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Jika ada keluarga, sanak famili, kaum kerabat yang melanggar atau melakukan kemungkaran, akankah kita hukum untuk menegakkan keadilan? Sungguh sesuatu yang berat…….

Mungkin  kita tidak akan sanggup menegakkan keadilan itu. Justru kita akan melindungi dan memberikan dukungan walaupun sudah jelas kesalahannya. Sering kita memandang adil sesuai dengan kaca mata kita. Kita tidak lagi melihat adil dari sisi Allah SWT. Lantas, apakah kita dikatakan lebih mencintai Allah daripada keluarga dan kerabat?

Kadang-kadang kita terjebak dengan gemerlapan harta. Untuk mendapatkan harta, sering kita  melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan Allah. Begitupun setelah harta ada di tangan, saat membelanjakan kita gunakan untuk bermaksiat kepada Allah.

Banyak manusia yang terjerembab dalam kubangan harta. Tidak sedikit manusia saling membunuh karena harta. Dan begitu banyak maksiat yang tercipta karena kelimpahan harta. Lalu dimana rasa syukur kita terhadap harta yang diperoleh? Apakah kita tidak sadar bahwa harta itu titipan dari Allah? Ternyata kita lebih mencintai harta dari pada Allah SWT.

Kita akan merasa rugi jika perniagaan kita bangkrut, pekerjaan tidak berhasil, karier-pangkat tidak naik, dan berbagai jenis pekerjaan dan profesi lainnya tidak berkembang. Tidak sedikit orang yang bekerja pada bidangnya masing-masing baik sebagai birokrat, politikus, professional ataupun lainnya sering menempuh jalan-jalan salah untuk meraih keberhasilan.  Mereka tidak lagi menghiraukan batasan-batasan yang sudah digariskan oleh Allah SWT.

Mereka punya prinsip, apapun akan dilakukan untuk mencapai tujuan………… Apakah ini pantas kita lakukan? Islam tidak mengajarkan cara-cara demikian.

Ternyata berhala-berhala itu sudah berubah menjadi bentuk yang lain, sementara kita tidak menyadarinya. Banyak orang-orang tidak lagi bangga dengan amal-amal shaleh yang diperbuatnya. Justru ia bangga dengan keluarga, pangkat, kekuasaan, harta dan perhiasan lainya. Akibatnya manusia jadi lupa kepada Sang Khaliq, sehingga mereka menganggap dirinya besar dan mulia. Timbul rasa sombong, congkak dan angkuh dan tidak lagi mengenal kebenaran………

Semoga kita tidak menjadikan makhluk Allah sebagai Tuhan. Mudah-mudahan kita menjadikan Allah semata sebagai Tuhan Langit dan Bumi. Dan kita mohon petunjuk ke jalan yang lurus……. Amin. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s