Suatu pertanyaan yang harus kita jawab, benarkah kita sudah menjadi seorang muslim? Banyak sekali ayat-ayat Allah memerintahkan kita supaya menjadi seorang muslim. Kata muslim berarti ‘penyerahan diri’ kepada Sang Khaliq – Pencipta Alam Semesta. 

QS. Az Zumar (39) : 12.

“Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.”

QS. An Naml (27) : 31.

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Pertama yang harus dilakukan dalam beragama adalah ‘keikhlasan’ menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Banyak diantara kita berteori agama dan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh dari hati. Kalau sudah ahli bicara agama lantas merasa sudah ahli agama. Kalau sudah pintar bahasa Arab lantas sudah merasa menguasai ilmu Allah. Jika sudah menggunakan atribut Islami, rasanya sudah menjadi seorang paling Islam. Jangan kita berperasangka demikian…..!!! Sudahkah kita menyelaraskan hati, lisan dan perbuatan kita?  

Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang besar bagi kita, karena kita terlahir sebagai pemeluk Islam. Tanpa susah payah dan tidak perlu mencari lagi, kita sudah ditakdirkan menjadi Islam. Tidak ada agama yang diridhai Allah SWT selain Islam.

QS. Al Maa’idah (5) : 3

………………….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bahkan dari zaman nabi adam sampai kepada Rasulullah saw, misi yang diembankan adalah Islam. Ayat-ayat di bawah ini menjelaskan bentuk ajakan para Nabi dan Rasul kepada umatnya agar berserah diri kepada Allah.

QS. Huud (11) : 14.

“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri  (kepada Allah)?”

QS. Al Hajj (22) : 78.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.”

QS. Yunus (10) : 84.

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”

QS. Ali ‘Imran (3) : 67.

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

QS. Ali ‘Imran (3) : 52.

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

QS. Ali ‘Imran (3) : 64.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

QS. Al Hijr (15) : 2.

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”

Sekarang apa yang akan kita perbuat dengan Islam kita? Bersyukurlah kita karena sudah ditakdirkan menjadi seorang muslim, lantas kita bertanya benarkah kita menjadi muslim  sesungguhnya? Jangan-jangan kita hanya muslim KTP atau karena keturunan? Atau  karena atribut dan simbol-simbol Islam yang kita pakai saja?

Sering kali ibadah yang kita lakukan karena terpaksa, karena malu sama orang dan karena minta pujian orang banyak. Sering kita melaksanakan sholat, tetapi shalat kita tidak berpengaruh terhadap perbuatan kita. Seharusnya shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tetapi  justru kita gemar melakukan perbuatan keji dan mungkar.

QS. Al ‘Ankabuut (29) : 45.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Rajin kita melaksanakan puasa, supaya hidup sehat dan menjadi orang bertaqwa. Mengapa hidup kita tidak sehat dan tidak menunjukkan diri kita sebagai orang bertaqwa?

Al Baqarah (2) : 183.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Kita telah menunaikan ibadah haji, bahkan sudah berulang kali agar diri kita dekat dengan Allah SWT. Mengapa kita shaleh ketika menjalankan ibadah haji saja? Ketika sudah pulang dari haji seolah-olah Allah itu jauh.

Kita gemar melakukan infaq dan sadaqah, seharusnya kita menjadi orang yang bersih hatinya dan bersyukur. Mengapa masih ada di dalam hati kita rasa riya’ minta pujian orang, dan bangga atas pemberian tersebut?

Sering kita tidak bisa menahan nafsu amarah. Padahal Allah dan Rasulnya mengajarkan kesabaran.

Mengapa kita tidak menjadi hamba yang bersyukur dan sering mengeluh kepada Allah? Bukankah Allah sudah mengaruniakan banyak nikmat-Nya kepada kita?

Mengapa tidak kita gunakan hati, mata dan telinga kita untuk melihat kebesaran dan kekuasaan Allah? Hati, mata dan telinga seharusnya digunakan untuk melihat kebesaran Allah. Kita sangat khawatir jika dikatakan lebih rendah dari binatang……………!!!

QS. Al A’raaf (7) :  179.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Al A’raaf (7) : 126.

“Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).”

QS. Al-Ahzaab (33) : 35.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Kita hanya berharap, semoga Allah membimbing kita semua dalam Ridhanya. Membuka hati kita dalam kelembutan-Nya. Membuka pikiran kita mencari ilmu-Nya. Membuka mata dan telinga kita untuk menyaksikan Kebesaran dan Keagungan-Nya……. Amin. Wallahu’alam.   

Komentar
  1. Dangstars mengatakan:

    Dari judulnya aja..sudah merinding…

    Karena seorang muslim sangat saya dambakan sekali…

    Terimakasih telah berbagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s