Setiap perintah dan larangan dari Allah SWT pasti mengandung hikmah yang besar. Dalam Alqur’an, begitu tegas Allah SWT telah mengharamkan babi untuk dimakan. Ada hikmah yang besar dan harus diambil himahnya yang terkandung dalam larangan Allah tersebut.

Dunia dikagetkan dengan flu jenis baru bernama flu babi, yang sebelumnya menghebohkan adalah flu burung. Dikatakan para ahli, ternyata flu babi ini lebih ganas dari flu burung. Yang namanya flu babi tentu  ditularkan oleh babi, yang sudah dilarang oleh Allah untuk mengkonsumsikannya.

Tidak sedikit manusia yang sudah menjadi korban flu jenis baru ini. Dan tidak sedikit juga biaya yang sudah dikeluarkan untuk mengatasi flu yang mematikan tersebut. Tempat-tempat umum diberi peringatan agar waspada terhadap flu babi. Di terminal mobil, stasiun kereta api dan bandara banyak orang menggunakan masker karena takut tertular oleh flu babi. Tentu saja membuat semua orang menjadi cemas – takut terserang penyakit tersebut, ia tidak saja berada pada suatu wilayah tetapi sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kenapa demikian?

Sepertinya manusia mengabaikan peringatan Allah SWT, Sang Pengatur Alam Semesta ini. Dimana Allah melarang memakan babi, binatang yang tidak layak konsumi itu.

Al Baqarah (2) : 173.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Al An’aam (6) : 145.

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam dua ayat di atas  sangat jelas, sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak mengkonsumsi babi. Ia dikategorikan dengan rijsun artinya keji, kotor dan bisa menimbulkan kemudharatan yang besar.

Jadi alasan utama larangan memakan babi adalah kotor dalam arti fisik dan fsikis. Lalu kita bertanya : Apanya yang kotor? Mari kita perhatikan kehidupan babi. Ia memiliki lingkungan yang kotor dan punya makanan yang kotor pula.

Apa saja bisa dimakannya. Mulai dari sisa makanan yang baik sampai yang busuk. Air bersih sampai comberan. Ia melambangkan binatang yang sangat rakus. Maka tidak salah kadang-kadang  manusia yang rakus disebut ‘babi’ oleh orang-orang.    

Lingkungan hidupnya sangat kotor, sehingga sangat riskan menjadi media penyebaran semua penyakit berasal dari virus dan bakteri. Tubuh babi menjadi media untuk tumbuhnya berbagai  macam jenis penyakit. Penyakit yang lagi ngetren sekarang dan belum ada obatnya adalah flu babi. Ternyata masih banyak penyakit lainnya seperti : cacing pita, cacing trachenea lolipia, kanker usus, iritasi kulit, kolera dan sejumlah penyakit persendian.

Karena itu dalam sebuah peternakan babi sering diberikan antibiotic yang sangat tinggi. Sehingga sering terjadi penolakan terhadap daging babi, karena kadar antibiotiknya tinggi tentu akan membayakan konsumen.

Pada mekanisme biokimia tubuh babi, juga sangat membahayakan. Babi banyak menyimpan uric acid di dalam darahnya. Hanya sekitar 2% saja urid acid yang dikeluarkan lewat kencingnya. Sedangkan 98% masih tersimpan di dalam tubuhnya.

Babi ternyata tidak bisa disembelih di bagian lehernya, karena babi memang tidak mempunyai leher. Sehingga darah yang semestinya dikeluarkan lewat penyembelihan tidak bisa dikeluarkan. Penyembelihan babi sangat mengerikan, karena untuk membunuhnya harus dengan aksi brutal.

Ada yang memukul kepalanya sampai pecah, ada yang membacoknya pakai pedang sampai mati, dan ada yang menusuk  jantungnya dengan besi hingga terkapar. Betapa tersiksanya seekor babi saat sekarat………. Akibatnya, orang-orang yang terus mengkonsumsi babi terkena berbagai macam penyakit.

Penularan penyakit babi ke manusia juga efektif, karena adanya kemiripan genetika pada keduanya. Karena alasan genetika itu pula, sebagian transplantasi organ dilakukan dari babi ke manusia. Kemungkinan pada masa depan kulit babi bisa didonorkan kepada manusia karena punya kemiripan.

Secara psikis, babi mempunyai sifat yang jelek. Babi selalu melawan perintah. Jika di dorong ke depan justru ia akan mundur. sebaliknya jika di tarik mundur, babi malah maju. Sehingga menyusahkan orang yang menternakkan babi dan mempunyai cara tersendiri untuk memasukkan babi ke kandangnya.

Sifat yang lain yang buruk adalah babi suka melakukan hubungan seks secara ramai-ramai, sekaligus homoseksual. Jika di dalam kandang ada satu ekor betina dan dua atau lebih jantan, maka tidak akan terjadi pertarungan antara pejantan seperti pada binatang lain untuk merebutkan betina. Para pejantan justru kompromi untuk melakukan perkawinan beramai-ramai. Ada juga yang melakukan homoseksual antar pejantan sendiri.

Karenanya ada istilah membabi buta bagi orang yang tidak punya kontrol dalam berprilaku. Babi yang tidak buta saja begitu rusaknya. Apalagi babi yang buta. Maka kita disarankan jangan membabi buta…!

Ternyata makanan jelek-buruk  yang dikonsumsi oleh manusia, berakibat pada prilaku manusia itu sendiri. Mungkin orang-orang yang suka membabi buta ada hubungannya dengan konsumsi yang diharamkan oleh Allah SWT.

Allah memerintahkan kita untuk mengkonsumsi makanan yang baik-baik dan melarang makanan yang tidak baik. Ternyata makanan yang baik-baik lebih banyak jika dibandingkan dengan makanan yang diharamkan oleh Allah. Mengapa  harus mencari lagi makanan yang tidak baik-haram?  Seharusnya tidak ada alasan lagi mencari makanan yang haram.   

QS. Al Mu’minuun (23) : 51.

“Hai rasul-rasul, makanlah  dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  

Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas dan mengikuti hawa nafsunya. Ancaman bagi orang yang melampaui batas adalah dengan diturunkannya murka dari Allah SWT.

QS. Thaahaa (20) : 81.

Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.”

Semua permasalahan terjadi disebabkan  oleh manusia sudah melampaui batas. Maka tugas kita bersama untuk memperingatkan penduduk bumi ini untuk tidak melampaui batas dan mengikuti ketentuan yang telah digariskan  Allah SWT. Kenapa demikian? Karena azab Allah  tidak saja akan menimpa kepada orang-orang yang zalim, tetapi orang-orang tak berdosapun  akan terkena imbasnya. Wallahu’alam. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s