Saat kepentingan sudah merasuki diri seseorang dan kelompok, maka dengan segala upaya agar kepentingannya bisa menjadi sebuah kebenaran. Sehingga tidak sedikit orang yang lemah menjadi teraniaya, jika yang mempunyai kepentingan itu adalah orang yang punya kekuatan.

Kekuatan itu bisa berupa kekuasaan, pangkat atau jabatan, uang, relasi dan kekuatan lainnya. Kebenaran hanya untuk orang yang diuntungkan. Ketika segala sesuatu sudah berdasarkan kepentingan maka yang namanya kebenaran itu menjadi samar-samar dan kabur substansinya. Yang muncul adalah ‘kebenaran berdasarkan kepentingan’. Jika sesuai dengan kepentingan disebut dengan kebenaran dan jika tidak cocok dengan kepentingannya maka disebut suatu kesalahan. Sangat ironis sekali………

Dalam kaidah fiqh bahwa jika bertabrakan suatu kepentingan maka kita disuruh mengambil yang paling besar manfaatnya bagi umat. Lantas bukan mengorbankan kemaslahatan umat, demi menguntungkan segelintir orang yang punya kepentingan.

Islam sudah mengatur kehidupan manusia secara total – keseluruhan. Artinya semua urusan manusia baik hubungan manusia dengan manusia maupun hubungan manusia dengan Allah SWT sudah mendapat frame atau batasan-batasan yang jelas dalam Alqur’an dan sunnah Rasulullah saw. Allah menginginkan tidak ada satupun manusia dizalimi atau dikorbankan demi untuk kepentingan orang lain.

QS. Al-Baqarah (2) : 208.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

QS. Al-Maidah (5) : 8

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Seseorang atau kelompok tidak bisa mengklaim bahwa ia atau merekalah yang benar, selain ia atau mereka salah. Yang berhak mengklaim kebenaran itu adalah Allah dan Rasul-Nya. Jika seseorang atau kelompok ingin mendapatkan kebenaran maka mereka harus mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau mereka tidak mengacu kepada Allah dan Rasul-Nya, bisa dikatakan kebenaran mereka hanyalah melakukan pembenaran untuk mereka sendiri.

QS. Al-Kahfi (18) : 29.

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Acuan kebenaran itu sudah dipraktekkan oleh Rasulullah saw dalam kehidupannya, bahkan sudah dipraktekkan juga oleh para sahabat beliau. Maka Allah memerintahkan kita agar ikut dengan Rasulullah, sekaligus membuktikan keimanan kepada Allah SWT agar mendapat petunjuk. Dijelaskan oleh Allah SWT bahwa kebenaran itu diperoleh dengan cara kita  beriman kepada-Nya dan mengikuti Rasulullah saw.

QS. Al A’raaf (7) : 158.

“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”

Lalu bagaimana nasib orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya? Adapun orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Walaupun mereka berhasil melakukan pembenaran di atas dunia, di akherat nanti pasti mereka tidak akan lolos dari pengadilan Allah SWT.

QS. An Nisaa’ (4) : 135.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Sebagai umat Muhammad saw, kita harus punya ilmu pengetahuan, baik ilmu dunia maupun ilmu akherat, agar kita bisa mendekati dan mencapai kebenaran tersebut. Kebenaran tidak akan diperoleh orang-orang yang bodoh. Justru orang-orang bodoh bisa menyesatkan dan bisa menyengsarakan orang lain.

Berapa banyak harta di tangan orang-orang bodoh, tetapi digunakan untuk bermaksiat kepada Allah dan memutarbalikkan kebenaran. Berapa besar kekuasaan yang diberikan kepada orang-orang bodoh yang pada gilirannya digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Berapa banyak  jabatan yang diserahkan kepada pejabat-pejabat, sementara jabatan itu digunakan untuk menyusahkan urusan-urusan masyarakat kecil. Mereka ada yang berpendapat ‘jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah!?

Ternyata orang-orang yang bisa melaksanakan kebenaran dan keadilan hanyalah orang-orang yang berilmu, yang diistilahkan Alqur’an dengan Ulama. Allah sangat menghargai orang-orang yang berilmu dan meninggikannya beberapa derajat.

QS. Faathir (35) : 28.

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

QS. Al Mujaadilah (58) : 11.

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang menegakkan kebenaran agar kehidupan kita diberkahi oleh Allah SWT dan tidak mengikuti hawa nafsu. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang punya kepentingan lalu menghilangkan kebenaran………… Amin. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s