Di berbagai media, diberitakan bahwa masyarakat dunia sedang dilanda krisis ekonomi, khususnya mengenai kepada  rakyat kecil. Krisis  di bidang ekonomi,  terjadi baik di dalam maupun di luar negeri. Akibat dari krisis tersebut tidak sedikit yang stress karena terjadi pemutusan hubungan kerja. Di seluruh penjuru dunia,  angka pengangguran tidak terhitung lagi jumlahnya.

Di Indonesia banyak yang minum racun, dikarenakan tidak kuat lagi membiayai hidup keluarganya. Bahkan seorang ibu ada yang membunuh anaknya, karena khawatir terhadap keberlangsungan hidup anaknya yang masih kecil.  Di Jepang dikabarkan banyak yang melakukan bunuh diri, karena himpitan ekonomi dan pemutusan hubungan kerja. Tidak ada satu negarapun yang tidak bermasalah dengan perekonomian atau masalah ‘perut’. Ini sangat mengkhawatirkan  penduduk dunia. Ternyata ada kekuatan besar penyebab  tidak meratanya ekonomi masyarakat dunia. Kekuatan besar itu adalah Ekonomi LIBERAL.

Awalnya paham liberalisme muncul di eropa, di zaman Renaissance (zaman kebangkitan eropa). Di berbagai Negara terjadi pertentangan dan perebutan pengaruh antara penguasa dan para tuan tanah. Maka muncullah pertarungan wacana  mencari jalan keluar atas kemelut tersebut. Kemudian bangkitlah faham Liberalisme, yang kemudian mengimbas pada revolusi Perancis dan Revolusi Amerika.

Saat ini faham liberalisme sudah merasuki pada sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Faham ini sudah masuk pada wilayah politik, ekonomi, social, budaya bahkan agama. Yang lebih parah adalah sudah mewarnai kehidupan seluruh penjuru dunia.

Kalau kita lihat tokoh-tokoh pemikir abad 18 diantaranya Jean-Baptiste Say, Destutt de racy, Rousseau, Voltaire, di Perancis. Bejamin Franklin dab Thomas Jefferson di Amerika Serikat. Immanuel Kant di Jerman, Adam Smith di Scotland dan sebagainya.

Maka muncullah “Declaration of the Rights of Man and Citizen” (Deklarasi Hak-hak Azasi manusia dan warganegara di Perancis. Tak lama kemudian muncul Undang-undang Hak Azasi Manusia di Amerika Serikat. Kemudian meluas ke Spanyol dan Amerika Latin, sampai menjalar ke Jepang, Rusia serta Turki.

Pada awalnya Cuma gerakan politik kelas menengah untuk melawan dominasi penguasa. Mereka menghendaki pengakuan kebebasan individu dan mengurangi peran pemerintah dalam mengelola kebutuhan rakyat. Dengan beranggapan rakyat lebih tahu kebutuhannya, sementara pemerintah cukup mengatur tentang hal-hal tertentu saja.

Adapun keinginan faham liberalisme antara lain : pengakuan hak-hak individu, kebebasan berfikir, berpendapat dan memperoleh informasi, pembatasan peran pemerintah terhadap hak-hak individu, sistem pemerintahan yang transparan dan penerapan hukum yang jelas dan adil.

prinsip-prinsip dasar pemerintahann inilah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia dalam berbagai bentuk yang bervariasi.

Pada  era modern ini menjadi sebuah mekanisme penyelenggaraan Negara dan Pemerintahan yang dikenal dengan ‘demokrasi’. Walaupun praktek demokrasi di masing-masing Negara memiliki perbedaan-perbedaan, sesuai dengan keadaan Negara masing-masing.

Ada hal yang mengkhawatirkan pada  perkembangannya selanjutnya, dimana faham liberalisme kemudian memunculkan negara-negara ‘sekuler’. Sekuler adalah praktek bernegara yang memisahkan antara praktek pemerintahan dengan praktek beragama. Agama diposisikan sebagai hak  individu yang tidak boleh dicampuri dan diurusi oleh Negara.

Faham liberalisme ketika memasuki wilayah ekonomi, akan punya konsekuensi  pengakuan atas hak-hak individu dan kepemilikan pribadi. Negara tidak boleh mengatur harta benda dan aktifitas ekonomi warganya. Kecuali hanya menyediakan aturan main dan memungut pajak untuk membiayai proses perekonomian negara. Liberalisme menghendaki pasar bebas yang mekanismenya sepenuhnya diserahkan  kepada pelaku ekonomi itu sendiri. Pemerintah tidak boleh ikut campur………….

Penerapan ekonomi liberal dalam berekonomi telah menghasilkan system ekonomi kapitalis. Siapa yang punya modal, dialah yang bakal  merajai pasar baik local maupun internasional. Sementara orang-orang yang lemah dan tidak mampu, semakin lama akan semakin terpuruk. Mereka akan kalah saing, karena tidak punya modal yang besar, tidak punya akses informasi yang cukup terhadap peluang bisnis dan tidak punya SDM yang bagus.

Seperti yang dinyanyikan oleh H. Rhoma Irama : ”Yang kaya makin kaya dan yang miskin bertambah miskin”. Ternyata ekonomi liberal hanya memberikan legitimasi kepada sekelompok orang saja, dan mengorbankan masyarakat yang banyak. Tidak salah  dalam prakteknya penerapan sistem ekonomi liberal itu memunculkan perlawanan dari kalangan yang merasa lemah terutama dari kaum buruh.

Kadang-kadang terjadi kompromi masalah ‘terlalu jauh range pemisah antara si kaya dan si miskin’. Andaikan itu terjadi,  hanya dalam rangka bukan menunjukan kepedulian dan keadilan social bagi masyarakat bawah, tetapi strategi untuk tetap melayani kepentingan penguasa ekonomi kapitalis.

Praktek ekonomi liberal  dalam negara dan pemerintahan diarahkan untuk melakukan pelepasan penguasaan hak terhadap asset-aset negara kepada swasta, dikenal dengan ‘swastanisasi’.  Dengan cara ini, para kapitalisme bisa membeli aset-aset negara dimanapun di penjuru dunia. Begitu mudahnya mereka meraih keinginan lewat lantai bursa. Ada yang melakukan dengan paksa, dengan cara memainkan kurs mata uang suatu Negara.

Kasus di Indonesia karena kurs rupiah melemah, hingga banyak asset Negara yang telah terjual. Sebut saja di bidang perbankan, telekomunikasi, transportasi, ritel dan bidang lainnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi pada Negara-negara lain.

Akibat dari praktek ekonomi liberal ini, keadilan ekonomi sudah lenyap. Orang-orang kaya terus mengeruk keuntungan di Negara manapun dan di bidang apapun. Bahkan para penguasa politikpun bisa bertekuk lutut terhadap pemegang modal besar ini.

Di Amerika, pemilihan  presiden sangat tergantung kepada para pelaku ekonomi kapitalis ini. Di Indonesia, kita saksikan begitu gampang para aparat dikendalikan oleh praktek suap,. Bahkan konglomerat sangat gampang mengendalikan  kebijakan publik untuk kepentingan mereka.

Akhir dari itu semua adalah terjadi kerusakan di sana-sini baik di laut, di darat maupun di udara. Kekayaan laut habis dikuras tanpa memperhatikan ekosistem yang ada di laut, tambang-tambang yang mengakibatkan kerusakan permukaan bumi, pabrik-pabrik yang mencemarkan udara dan hutan-hutan digunduli menyebabkan musibah banjir. Tentu yang sangat merasakan akibatnya adalah masyarakat banyak (kecil), yang kadang-kadang mereka tidak tau permasalahan yang sebenarnya……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s