Tidak ada satupun ayat Al-Qur’an yang menyuruh melakukan pemaksaan kepada orang lain dalam menjalankan Agama. Islam hanya memberikan dua jalan alternative yaitu kebenaran dan kesesatan. Tergantung kepada manusianya, kalau mau selamat pilih jalan yang baik dan kalau mau celaka pilih jalan yang jelek. Artinya  Islam memberikan kebebasan memilih untuk menentukan jalan hidup kita sendiri, karena jalan yang benar dan sesat sudah jelas.

QS. Asy-Syams (91) : 8-10.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

QS. Al-Baqarah (2) : 256.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Allah SWT menjelaskan beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Maka sangat tidak baik jika beragama dipaksakan, sebab akan memberikan hasil yang tidak maksimal bahkan percuma saja – hasilnya akan zero. Agama harus dijalankan dengan keyakinan yang ada di dalam hati dan dijalani dengan hati yang teguh pula.

Seharusnya kita paham bahwa seseorang itu beriman atau tidak semuanya terserah kepada Allah. Semua manusia sudah dibekali dengan akal pikiran untuk memikirkan semua yang ada di alam semesta ini. Apakah manusia mau menggunakan akalnya atau tidak? Bagi yang mau menggunakan akalnya maka ia akan beruntung, sebaliknya bagi yang tidak menggunakan akalnya ia akan merugi.

QS. Yunus (10) : 100. “

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

QS. Al-Baqarah (2) : 164.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Setiap manusia yang dilahirkan mempunyai keinginan yang berbeda-beda, setiap manusia mempunyai kehendak yang bebas dan tak suka di paksa-paksa, setiap manusia punya keinginan untuk tampil beda, setiap manusia punyai kemampuan yang berbeda-beda, dan setiap manusia mempunyai latar belakang sosial-budaya-ekonomi-bentuk-kondisi yang berbeda pula.

Rasulullah saw tidak pernah melakukan doktrinisasi kepada umatnya, beliau hanya mencontohkan dan meneladani dan tanpa melakukan pemaksaan. Rasulullah saw sebagai utusan Allah SWT, tahu persis bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan diberi beban dalam menjalankan agama. Oleh karenanya seseorang dalam menjalankan agama menurut kemampuan masing-masing secara optimal.

Dengan para sahabat Rasulullah saw mempunyai sikap yang berbeda-beda, menurut karakter masing-masing. Ada sahabat pembawaannya lembut, dan ada yang keras. Rasulullah saw membiarkan antara sahabat yang satu dengan yang lainnya berberda dalam menjalankan aktifitasnya. Rasulullah saw tidak pernah memaksa harus memakai sorban yang sama, jubah yang sama, panjang jenggot yang sama, posisi tidur yang sama, cara berjalan yang sama dan sama semuanya…………..!

Dalam shalat Rasulullah saw hanya mengatakan : “shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat’. Rasulullah saw tidak pernah melakukan pelatihan khusus untuk mempraktekkannya.  Bahkan dalam jumlah shalat tarawih para sahabatpun berbeda jumlah rakaatnya, ada yang 8, ada 23, bahkan ada yang 32. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita cara beragama cukup dengan koridor alias batasan yang berlaku dan jangan melanggar koridor alias batasan tersebut.

Mengapa kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk meyakini Islam  dan tidak mesti seragam dalam menjalankannya? Jawabannya adalah Islam adalah agama fitrah, agama yang sesuai dengan pembawaan manusia. Buku petunjuk bagi manusia  yang cocok adalah Alqur’an dan Tuhannya yang cocok adalah Allah SWT.

Bagaimana jika tidak sesuai dengan fitrah manusia? Jawabannya : semuanya akan hancur dan berantakan. Bagaikan buku petunjuk untuk sepeda motor Yamaha, tetapi digunakan oleh sepeda motor Honda, jelas hasilnya kacau.

QS. Ar-Rum (30) : 30.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”   

Karena Islam adalah agama fitrah, seharusnya  tidak akan terjadi  keterpaksaan saat seseorang menjalankan agama dengan benar. Perlu penyadaran bahwa ternyata ISLAMLAH yang cocok untuk manusia yang hidup di atas bumi Allah ini. 

Jangan ada perpecahan karena ada perbedaan-perbedaan pandangan. Kita  berharap dengan perbedaan justru akan memberikan kekuatan yang besar ketika semuanya disatukan. Rasulullah saw berpesan kepada kita bahwa umat Islam bagaikan  satu diri, masing-masing berperan untuk menegakkan kalimah Allah SWT. Wallahu’alam.

Komentar
  1. lawliet90 mengatakan:

    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s