Apa yang dimaksud dengan pahala itu? Apakah berupa benda, jasa, surat berharga, tabungan atau semacamnya? Dan apakah bisa kita pastikan bahwa apa yang kita lakukan menghasilkan pahala?

Sering kita menjumpai ada ustadz yang mengajak jamaah dalam forum pengajian atau dalam masjid untuk membaca ayat-ayat tertentu dalam Alqur’an dan meniatkan menghadiahkan pahalanya untuk orang tua kita yang sudah meninggal dunia atau guru-guru misalnya.  

Dari mana landasan praktek menghadiahkan pahala do’a ini diambil? Kalau kita telusuri dalam Alqur’an maka tidak akan dijumpai. Praktek do’a dalam Alqur’an hanya berkisar pada mendo’akan diri sendiri dan mendo’akan orang lain. Tetapi tidak ada yang sampai menghadiahkan pahala  tersebut.

Berdo’a adalah memohonkan ampun kepada Allah dan meminta pertolongan semua kebutuhan hidup di dunia ini dan selamat di akherat nanti. Menghadiahkan pahala bukanlah wewenang manusia, karena pahala menjadi hak atau wilayah Ketuhanan. Belum tentu apa yang kita bayangkan menghasilkan pahala, lantas pada kenyataannya mendapatkan pahala.

Berdo’a adalah hal yang sangat pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hasilnya terserah kepada Allah, apakah Dia berkenan menolongnya atau tidak, karena Dialah Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-NYa.

Dalam hal berdo’a yang lebih tepat bukanlah menghadiahkan pahala, melainkan mendo’akan orang-orang yang kita cintai seperti keluarga kita sendiri, orang tua, karib kerabat, sanak famili, handai tolan serta guru-guru dan pemimpin kita. Kalau yang ini memang diajarkan oleh Allah dan Rasulullah saw dan itu tuntunannya jelas.

Soal dapat pahala atau tidak bukanlah urusan hamba, melainkan sepenuhnya urusan Sang Maha Pemurah. Sehingga niat kita ingin menghadiahkan pahala, jangan-jangan sudah melampaui batas. Dan seakan-akan menodong Allah untuk memberikan apa yang seharusnya bukan menjadi wewenang kita.

Yang bisa kita lakukan adalah berdo’a sepenuh hati. Kewenangan atas semua permohonan itu terserah kepada Allah SWT. Jangankan kita, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad saja dikritik oleh Allah saat mendo’akan orang yang mereka cintai. Hal ini disebabkan orang yang mereka do’akan adalah orang kafir. Maka sebagai pertimbangan yang lebih besar bagi Allah adalah amal kebajikan yang dilakukan oleh seseorang.

QS. Al-Qashash (28) : 56

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

QS. Huud (11) : 61

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).”

 (AM) Wallahu’alam.

Komentar
  1. saya juga sering prihatin banyak orang yang ziarah kubur dia minta do’a pada sang ahli kubur,,nah apakah itu ziarah, bukankah itu malah musyrik..yang seharusnya kita mendo’akn ahli kubur supaya dapet ampunan,, dan kita ziarah untuk mengingat kematian..tapi malah kebanyakan menjadi kemusyrikan naudzubillah …. lam kenal mas link jenengan dah ku pasang..ya klo boleh tukeran ya…. kliksekarang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s