TERNYATA MAKELAR DAN PERANTARA TIDAK DIBUTUHKAN DALAM BERDO’A

Posted: 3 Agustus 2009 in Nasehat
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

 

Mungkin kita pernah mendengar atau menyaksikan langsung orang-orang yang datang ke makam memohon segala kebutuhannya. Ada yang meminta rezeki, jabatan, anak, jodoh, ilmu spiritual dan sebagainya.

Hal semacam ini merupakan perbuatan syirik. Dimana menyembah atau minta tolong selain kepada Allah SWT. Padahal Allah sangat melarang perbuatan itu, karena dapat merusak aqidah paling dasar dalam Islam. Al-Qur’an mengistilahkan dengan perbuatan ‘dosa yang tidak terampuni’ 

QS. An-Nisaa’ (4) : 117

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka”.

 QS. Al-A’raaf (7) : 192-194

“Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.”

“Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.”

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

QS. An-Nisaa’ (4) : 48

 ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Karenanya, tidak ada keraguan lagi bahwa meminta pertolongan, apalagi bergantung dan menyembah selain kepada Allah adalah dosa besar yang harus ditinggalkan. Itu merupakan perintah Allah sejak di awal masa kenabian Rasulullah saw.

QS. Al-Muddatstsir  (74) :

“Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.”

Yang aneh bagi orang yang datang ke makam wali, berdo’a kemudian meminta apa yang menjadi keperluannya menganggap bukan perbuatan syirik. Mereka mengatakan pengganti ziarah ke makam Rasulullah saw.

Sebenarnya tidak ada beda antara ziarah ke makam nabi dan makam para wali. Kedua-duanya mengingatkan kita betapa besar perjuangan mereka menegakkan syiar Islam bagi umat manusia. Tentu saja para Nabi dan Rasul lebih besar jasanya dalam pengembangan Islam dibandingkan dengan wali.

Permasalahan yang muncul adalah ketika berdo’a dimakam itu. Kalau do’anya kepada Allah untuk memohon ampun atas segala kekhilafan dan membalas amal baik mereka serta berselawat untuk Nabi, tidak masalah dan itu dianjurkan. Tetapi, kebanyakan yang terjadi bukannya mendo’akan arwah itu, melainkan minta tolong pada arwah itu. Kalau ini terjadi maka akan kena dengan ayat-ayat di atas. Meminta tolong dan berdo’a selain kepada Allah adalah perbuatan syirik.

Jangankan minta tolong kepada arwah, kepada manusia yang masih hidup saja jika niatnya salah, bisa menyebabkan syirik maka berhati-hatilah. Jika kita datang kepada seorang dokter dan meminta pengobatan, seandainya kita yakin sepenuhnya kepada dokter dan kita lupa bahwa dokter hanyalah perantara Allah dalam menyembuhkan penyakit kita, itupun dikategorikan perbuatan syirik.

Dalam Alqur’an dikatakan bahwa arwah itu sudah tidak berdaya dan tidak bisa lagi mendengar, meskipun disebutkan mereka masih hidup di alam yang berbeda.

QS. Faathir (35) : 22   

Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.”

QS. Ar-Ruum (30) : 52

“Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang.”

Dalam istilah Alqur’an, jiwa orang yang mati itu sudah ditahan dan ditidurkan oleh Allah. Karena itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka sudah tidak bisa beramal, apalagi untuk membantu manusia yang masih hidup.

QS. Az-Zumar (39) : 42

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”          

Justru tolong menolong itu dianjurkan terjadi antara orang-orang beriman yang masih hidup, yang banyak berbuat kebajikan, yang shalat, yang berzakat, dan yang taat. Sedangkan orang yang sudah mati malah dido’akan bukan diminta tolong.

QS. At-Taubah (9) : 71

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(AM) Wallahu’alam.

Komentar
  1. Azzahra mengatakan:

    Ibadah itu bgtu indah. Tanpa butuh perantara, murni kepada Maha Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s