Déjà vu adalah kondisi dimana seseorang pernah melihat atau mengalami suatu peristiwa yang sedang berlangsung, padahal ia tak pernah mengalami sebelumnya di alam nyata. Kata déjà vu berasal dari bahasa Perancis yang bermakna ‘pernah melihat’.

Hal yang demikian bukan saja dialami oleh satu, dua orang tetapi dialami oleh banyak orang, bahkan hampir setiap kita pernah merasakan. Dalam penelitian, itu benar-benar terjadi di ‘masa lalu’ imajiner kita. Kemudian terjadi pada masa kini sebagai realitas.

Awalnya, kejadian seperti ini memang dianggap sebagai angan-angan kosong belaka. Akan tetapi menurut berbagai penelitian psikologi, sangat banyak orang yang pernah mengalaminya sekitar 70% penduduk bumi – hingga disimpulkan sebagai realitas psikologis. Hanya saja tidak banyak yang bisa menjelaskan realitas ini secara memuaskan, sehingga tetap menjadi rahasia dan teka-teki ilmu pengetahuan.

Déjà vu kadang-kadang terjadi pada diri kita dengan melibatkan orang lain sebagai penontonnya. Pernah ada cerita seseorang yang menunaikan ibadah haji ke Makkah dengan isterinya. Yang aneh waktu di Mekkah dia melihat sahabatnya dan isterinya menunaikan ibadah haji juga, padahal ia tahu kawannya itu tidak berangkat. Ia menganggap mungkin salah lihat saja, tetapi bukan saja dia yang melihat melainkan isterinya juga melihat sahabatnya dan isterinya menunaikan ibadah haji. Itupun disaksikan oleh ia  sebanyak dua kali dan bukan sekali saja. Saat ia berusaha mendekati kawannya, ia kehilangan jejak karena jamaah penuh sesak. Yang aneh adalah tahun berikutnya saudaranya yang ia lihat menunaikan ibadah haji tersebut benar-benar berangkat ke Makkah.

Ada  beberapa teori yang mencoba menjelaskan secara ilmiah terhadap fenomena déjà vu itu.

Pertama, menganggap déjà vu memang peristiwa yang sudah pernah dialami dan dilihat sebelumnya. Dalam realitas maupun dalam mimpi. Ini sesuai dengan makna déjà vu yang bermakna ‘pernah melihat’.  

Maka para psikologi melakukan eksperimen dengan memanfaatkan jasa hipnotis. Beberapa sukarelawan diminta untuk melihat benda tertentu dan mengingatnya. Setelah itu mereka dihipnotis sehingga lupa terhadap benda itu. Ketika benda itu ditunjukkan kepada mereka lagi, mereka merasakan pernah melihat, tetapi lupa entah dimana dan kapan.

Teori ini dibantah oleh sejumlah pakar, termasuk orang-orang yang mengalami sendiri peristiwa déjà vu.

Kedua, penundaan penglihatan. Dikatakan bahwa sebelum mata melihat kejadian tersebut, sebenarnya realitas itu sudah sampai ke otak terlebih dahulu beberapa menit sebelumnya. Ini dikarenakan otak ‘berkomunikasi’ dengan dunia luar secara transceiver, seperti pemancar radio dengan antena penerimanya.

Teori inipun dibantah, karena dalam penelitian yang dilakukan oleh Akira O’Connor bersama timnya dari Universitas of Leeds, Inggris dibuktikan bahwa orang butapun bisa mengalami déjà vu berupa sensasi peraba, penciuman dan pendengaran. Artinya déjà vu benar-benar realitas dan bukan tipuan optik melainkan bisa diraba, dicium aromanya dan di dengar suaranya.

Ketiga, dikemukakan oleh kalangan Budha. Menurut mereka, déjà vu menjadi pembenar adanya reinkarnasi. Bahwa penglihatan kita sekarang adalah sebenarnya kejadian dari kehidupan masa lalu yang datang kembali ke masa sekarang. Sangat disayangkan pendapat ini sulit dibuktikan kebenarannya, kecuali mesti diyakini oleh pemeluknya.

Keempat, déjà vu sebenarnya adalah peristiwa yang memang benar-benar terjadi dalam dunia paralel. Karena semua peristiwa itu sebenarnya sudah ada dan tersimpan di Lauh Mahfuzh yaitu kitab induk alam semesta.

QS. Al-An’aam (6) : 59.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.   

QS. An-Naml (27) : 75

“Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

(AM) Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s