Menurut Rasulullah SAW, bahwa waktu ini laksana sebuah garis lurus yang terus bergerak ke depan seirama dengan waktu yang terus berjalan  mengikuti kehidupan dunia.

 

Kehidupan manusia ada awal dan ada akhirnya, bukan sebagai lingkaran bola yang tak ada ujung pangkalnya. Karenanya manusia harus berhati-hati dalam hidup ini. Ironisnya, kapan ujung kehidupan itu akan di dapatkan oleh setiap insan dan tidak satupun manusia dapat mengetahuinya.

 

Terkadang garis itu dicapai oleh orang yang mengalami sakit parah, kadang pula dicapai oleh orang yang masih sehat wal’afiat…….. Sebab, sakit atau sehat bukanlah penyebab seseorang meninggal dunia ini.

 

Yang penting, yang harus kita kerjakan adalah kita berusaha dan berupaya agar hidup sehat. Dengan tubuh sehat Insya Allah kita akan dapat menikmati kehidupan dengan nikmat dan dapat melakukan ibadah dengan khidmat.

 

Bacaan sholat yang wajib dibaca oleh kaum muslimin adalah surat Al-Fatihah, yang di dalamnya terdapat ayat yang berbunyi : “……..ihdinash shiratal mustaqiim…” (Tunjukilah kami jalan yang lurus).

 

Begitu pentingnya ayat ini sampai-sampai dalam satu hari satu malam seorang muslim diwajibkan oleh Allah untuk mengucapkan ayat ini (memohon jalan lurus) paling sedikit 17 kali.

 

Jalan lurus atau garis lurus, secara matematika memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Garis yang tidak berbelok arah (arahnya hanya satu)
  2. Merupakan jarak terpendek (jarak penghubung tercepat).
  3. Tidak akan kembali ke titik semula.

 

Garis yang tidak berbelok arah

Adalah garis yang arahnya hanya satu, tidak mempunyai arah yang lain, dan terfokus pada suatu yang dituju saja. Ia hanya mempunyai satu sudut yang tetap atau kemiringan garis yang tetap dan tidak akan berubah.

 

Inilah karakteristik seorang muslim. Dalam perjalanan hidupnya seorang muslim  tidak perlu berbelok arah. Tidak ada duanya menuju Allah Yang Maha Tunggal. Jalan yang lurus ini sudah diakui oleh orang beriman dengan menghadapkan wajah fisiknya ke satu arah saja, yaitu ka’bah. Tetapi, bathinnya hanya diperuntukkan dan dihadapkan kehadirat Allah SWT.

 

Abu Sufyan bin Abdullah Astsaqofy ra berkata :

“Ya Rasulullah, ajarkan kepada saya kalimat yang menyimpulkan pengertian islam, sehingga saya tidak membutuhkan bertanya lagi kepada orang lain selain engkau….

Jawab Rasulullah :

“Katakanlah aku percaya kepada Allah, kemudian tetap lurus dalam mendisiplinkan diri terhadap pengakuan itu.” (HR. Muslim)

 

Merupakan Jarak Terpendek

Jalan terpendek untuk mencapai suatu tujuan adalah dengan melewati garis lurus. Jika melewati garis yang berbelok-belok atau garis melengkung, maka akan membutuhkan waktu  yang lama untuk mencapai tujuan bahkan akan membuat seseorang tersesat dalam sebuah perjalanan. Lebih-lebih lagi tersesat dalam menuju Allah SWT.

 

Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim, tujuan hidup kita adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Dialah sebagai suatu titik, yang harus dan akan dituju oleh seluruh makhluk ciptaanNya. 

 

QS. Ali-Imran : 51

“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan juga Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah JALAN yang LURUS.”

 

Menurut ayat tersebut di atas, jalan yang lurus adalah menyembah kepada Allah SWT. Dari sekian banyak tata cara pengabdian kepada Allah, maka Sholat adalah cara yang paling penting dan paling efektif serta disimpulkan sebagai jalan yang lurus. Sholat merupakan cara ibadah  terpendek  bagi seorang hamba untuk mengabdi kepada Tuhannya.

 

Tidak akan kembali ke titik semula

Secara matematis, garis adalah kumpulan titik-titik yang tak terhingga banyaknya. Keberadaan garis lurus bagaikan perjalanan himpunan titik-titik yang menuju suatu arah tertentu dengan sudut yang tetap, titik terakhir garis lurus akan bertambah jauh dari titik semula. Artinya titik yang baru tidak akan pernah bertemu dengan titik yang terdahulu.

 

Orang bijak berkata : “Hidup ini hanya terdiri dari tiga hari: Kemarin, Hari ini, dan Hari Esok”. Kalau tiga hari itu merupakan tiga titik yang terletak pada satu garis lurus, maka sebagai titik terakhir, hari esok harus lebih baik dari pada hari ini. Apalagi jika dibandingkan dengan hari kemarin. Jangan kegagalan hari ini dan hari kemarin terulang pada hari esok. Apakah masalah ilmu, pekerjaan, perbuatan, ibadah dan sebagainya. Hari akhir haruslah lebih baik, lebih berharga dan lebih bahagia dari pada hari ini…………………..

 

QS. Al-A’laa : 17

“Sesungguhnya hari akhir itu lebih baik, lebih kekal, dan lebih abadi”

 

QS. Adh-Dhuhaa : 4

“Dan sesungguhnya hari akhir itu lebih baik bagimu dari pada permulaan…”

 

Dengan memahami bahwa kehidupan akhir lebih baik dari kehidupan hari ini dan hidup tidak akan pernah kembali ke masa lalu, setiap manusia pasti akan bertemu dengan kehidupan akhir. Orang beriman harus ‘optimis’ dan tidak ada kata ‘pesimis’ dalam kehidupannya. Disinilah kita akan bertemu dengan Allah dan mengharapkan ampunanNya………..     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s