Masih Adakah Pemimpin Yang Mau Menebus Kesalahan???

Posted: 17 Juli 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pada suatu hari Khalifah Umar Al-Khatab baru saja pulang dari mengunjungi negeri Syria. Seperti biasa  Umar akan berjalan-jalan dan meninjau sekitar kawasan untuk melihat keadaan rakyat jelata untuk mengetahui sendiri kondisi mereka. Kali ini  Umar menuju ke sebuah pondok yang jelek dimana disana  ada seorang nenek tua.

Umar pergi ke rumah nenek tersebut dengan menyamar sebagai orang biasa. Sudah menjadi kebiasaan  Khalifah Umar menyamar menjadi orang awam karena beliau ingin melihat sendiri akan penderitaan yang di alami oleh rakyatnya dan ingin mendapat masukan atau pandangan rakyat terhadapnya. Ketika ia tiba di rumah nenek tersebut Khalifah memberi salam dan berkata. “Apakah nenek mendengar  berita tentang Umar?”. jawab nenek tua itu “Khabarnya Umar baru saja pulang dari Syria dengan selamat”. Kata khalifah lagi “Bagaimana pendapat nenek tentang khalifah kita itu”. Jawab nenek “Semoga Allah tidak memberi ganjaran baik kepadanya”. Umar bertanya lagi ” Mengapa nenek berkata begitu?”.

Jawab nenek “Ia sangat jauh dari rakyatnya. Semenjak menjadi khalifah dia belum pernah menjenguk pondok aku ini apalagi memberi uang”. Jawab Umar “Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui keadaan nenek sedangkan tempat ini jauh terpencil” Nenek mengeluh dan berkata “Subhanallah! tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui  keadaan rakyatnya walau dimanapun mereka berada”.

Mendengar kata-kata tadi Khalifah Umar tersentak lalu berkata didalam hatinya “Celakalah aku karena semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku”.  Umar menyesal sambil meneteskan air mata.  Umar berkata lagi “Wahai nenek, berapa kamu hendak menjual kezaliman Umar terhadap nenek?. Saya kasihan kalau Umar mati nanti akan masuk neraka. Itu pun kalau nenek mau menjualnya”. Kata nenek “Jangan engkau berguaru dengan aku yang sudah tua ini”.

Sambung Umar lagi “Saya tidak bergurau, saya betul-betul ini, berapa nenek akan menjualnya. Saya akan menebus dosanya, maukah nenek menerima uang sebayak 25 dinar sebagai harga kezalimanya terhadap nenek” sambil menyerahkan uang tersebut kepada nenek. “Terima kasih nak, baik sekali budi mu” kata nenek sambil mengambil uang tersebut.

Kebetulan waktu itu Ali Abu Talib bersama Abdullah bin Mas’ud lewat di kawasan itu. Mereka melihat Khalifah Umar berada disitu, mereka pun memberi salam. “Assalamualaikum ya Amirul Mukminin”. mendengar ucapan tersebut, tahulah nenek bahwa tamu yang berbicara denganya  adalah Khalifah Umar Al-Khatab. Dengan perasaan takut dan gementar nenek berkata “Masya Allah, celakalah aku dan maafkan nenek atas kelancangan nenek tadi ya Amirul Mukminin!. Nenek telah memaki Khalifah Umar dihadapan tuan sendiri”. Keluhan si nenek telah menyadarkan Khalifah Umar.

“Tak apa-apa  nek, mudah-mudahan Allah memberi restu kepada nenek” kata  Umar. Ketika itu juga Khalifah Umar telah membuka bajunya dan menulis sebuah tulisan berikut di atas bajunya.

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan ini Umar telah menebus dosanya atas kezalimannya terhadap seorang nenek yang merasa dirinya dizalimi oleh Umar, semenjak menjadi khalifah sehingga ditebusnya dosa itu dengan 25 dinar. Dengan ini jika perempuan itu mendakwa Umar di hari Padang Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tidak tersangkut-paut lagi”.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh  Ali bin Abu Talib dan di saksikan oleh Abdullah bin Mas’ud. Baju tersebut diserahkan kepada Abdullah bin Mas’ud seraya berkata “Simpahlah baju ini dan jika aku mati masukkan kedalam kain kafanku untuk dibawa mengadap Allah s.w.t.”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s