HAMBA SAHAYA YANG ANEH BIN AJAIB

Posted: 17 Juli 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pada suatu hari Abdul Wahid bin Zaid r.a berjalan-jalan di pasar tiba-tiba ia melihat seorang budak yang sedang dijualbelikan. Budak tersebut melihat Abdul Wahid dengan sorotan mata yang tajam lalu Abdul Wahid ingin untuk membeli budak tersebut untuk membantu pekerjaan dirumahnya. Budak ini adalah seorang yang taat dan senantiasa melakukan pekerjaan dengan tekun sekali.

Abdul Wahid merasa heran tentang tingkah laku budak ini karena diwaktu siang ia bekerja dengan tekun sedangkan pada waktu malam ia tidak ada di rumah walaupun  Abdul Wahid sudah mencarinya sedangkan pintu rumah senantiasa tertutup dan tidak ada tanda-tanda bahwa pintu telah dibuka. Pada waktu pagi, budak tersebut telah berada kembali di dalam rumah dan menyerahkan satu keping uang dirham yang terukir surah Al-Ikhlas diatasnya. Ketika ditanya oleh Abul Wahid, budak tersebut menjawab ” saya akan memberi kepada tuan setiap hari satu keping uang dirham asalkan tuan jangan bertanya kemana saya pergi”. Abdul Wahid menerimanya dan tidak mau tahu lagi hal tersebut.

Setelah sekian lama permasalahan tersebut berlalu, pada suatu hari datang seorang teman Abdul Wahid dan memberitahu bahwa kerja budak yang tinggal di rumahnya setiap malam adalah menggali kubur orang yang maninggal dunia. Abdul Wahid amat terkejut terhadap apa yang diberitahukan oleh kawannya, akan tetapi dia tidak percaya. Abdul Wahid berjanji akan mendiamkan permasalahan ini terlebih dahulu.

Pada suatu malam selesai sholat Isya, Abdul Wahid mengintai gerak gerik budaknya tanpa diketahui bahwa dia sedang di intai. Ketika Abdul Wahid melihat budaknya menuju ke pintu hanya dengan menunjukkan jarinya saja pintu tersebut terbuka dengan sendirinya dan  Abdul Wahid merasa  keheranan. Satelah budaknya keluar pintu maka tertutup kembali seperti semula. Abdul Wahid terus mengikuti budaknya sehingga sampai pada suatu tempat yang lapang (padang pasir). Budaknya langsung menggantikan pakaiannya dengan pakaian lain yang dibuat dari kain goni. Budak tersebut lalu menunaikan sholat sehingga terbit fajar. Setelah selesai solat budak tersebut menadah tangan ke langit dan memohon doa kepada yang Maha Berkuasa dengan berkata “wahai tuanku yang besar berilah upah kepada tuanku yang kecil”. Selesai ia berdoa jatuhlah sekeping uang dirham dari langit dan diambil oleh budak tersebut. Abdul Wahid memperhati budaknya dengan perasaan heran dan takjub sekali.

Oleh karena hari sudah hampir pagi, Abdul Wahid mencari air di sekitarnya untuk berwudud dan menunaikan sholat Subuh. Sewaktu beliau berdoa dia berjanji akan memerdekakan budaknya karena budak yang sholeh seperti dia  tidak seharusnya mengbudakkan diri kepada sesama manusia. Selesai berdoa Abdul Wahid mencari budaknya tetapi tidak ditemui.  Dia telah menghilangkan diri  bEgitu cepat sekali. Abdul Wahid mencoba mencari jalan untuk pulang ke rumahnya tetapi tidak bisa menemukan jalan pulang, karena tempat tersebut asing baginya. Dengan perasaan cemas dan menyesal atas tindakannya dan dalam keadaan mondar mandir yang tidak menentu tiba-tiba dia melihat bayang-bayang dari jauh seorang yang berkuda sedang menuju kearah beliau.

Dengan parasaan tidak sabar, Abdul Wahid menunggu kedatangan orang tersebut dan saat sampai ke tempat beliau, orang berkuda tersebut bertanya “apakah yang kamu perbuat  di tengah-tengah padang pasir ini wahai Abdul Wahid”. Abdul Wahid keheranan dan berkata didalam hatinya, bagaimanakah orang ini mengetahui nama aku? Abdul Wahid menceritakan kepada orang berkuda apa yang telah terjadi. Orang berkuda itu berkata lagi “janganlah kamu merasa curiga terhadap apa yang terjadi” Abdul Wahid mengangguk-ngangguk saja apa yang dikatakan oleh orang berkuda tadi. Orang berkuda berkata lagi ” tahukah kamu berapa jauh rumah kamu dangan tempat ini? ” jawab Abdul Wahid ” saya tidak tahu”. “Jaraknya adalah dua tahun perjalanan dengan kuda yang berlari dengan cepat” kata orang berkuda. Abdul Wahid keheran dengan kata-kata orang berkuda tadi dan berkata didalam hati saat aku mengikuti budakku malam tadi hanya beberapa minit saja perjalannya kemari.

Sebelum berpisah orang berkuda tersebut memesan kepada Abdul Wahid supaya menunggu disini dan jangan kemana-mana, nanti malam budakmu akan datang dan kamu bisa mengikutinya pulang nanti. Abdul Wahid menunggu saja di situ seperti yang dipesan oleh orang berkuda tadi. Sewaktu menuggu Abdul Wahid sudah beberapa kali tertidur dan terjaga karena keletihan dan kehausan. Ketika Abdul Wahid tersentak dari tidurnya dia mendapati makanan dan minuman telah terhidang disisinya dan budaknya juga berada di situ. Budaknya mempersilahkan  Abdul Wahid makan makanan yang telah terhidang. Tanpa berkata apa-apa Abdul Wahid makan dengan lahapnya karena sangat lapar dan haus dahaga. Budaknya berkata kepada Adul Wahid “janganlah tuan mengulangi lagi pebuatan ini dan tunggulah disini hingga saya selesai sholat”. Budaknya terus mengerjakan sholat sampai terbit fajar. Satelah selesai sholat budaknya berdoa seperti malam sebelumnya , tiba-tiba jatuh sekeping dirham dari langit dan diberikan kepada Abdul Wahid dan dia mengambilnya satu dirham lagi dari sakunya seraya berkata “ini uang dirham untuk malam tadi”.

Satelah selesai budaknya  menuntun Abdul Wahid dan berjalan dengan cepatnya dan tidak sampai beberapa saat mereka telah tiba di depan rumah Abdul Wahid. Budaknya bertanya kepada Abdul Wahid “betulkah tuan akan memerdekakan saya karena Allah” jawab Abdul Wahid “benar” Lalu budaknya menunjukkan kepada batu pengganjal pintu dan menyatakan bahwa itu adalah uang tebusannya. Abdul Wahid merasa heran bagaimnana batu yang telah lama berada disitu dijadikan uang tebusan. Lalu Abdul Wahid mengambil batu tersebut dan dengan serta merta batu tersebut bertukar menjadi sebongkah emas. Abdul wahid keheranan atas keajaiban yang terjadi yang dilihatnya sebelum ini dan pada hari ini.

Pada waktu siangnya Abdul Wahid pergi kerumah kawannya yang menuduh budaknya menggali kubur dan menceritakan kepadanya apa yang sebenarnya  terjadi. Sementara di rumahnya terjadi kekacauan dimana anak perempuan Abdul Wahid memaki  budaknya karena menyangka selama dua malam anyahnya tidak pulang ke rumah dan menuduh budaknya membunuh ayahnya karena mengintip perbuatan jahatnya menggali kubur orang. Anak perempuan Abdul Wahid dengan perasaan marah telah mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah budak tersebut lalu terkena   matanya dan menyebabkan mata budaknya keluar dan dia jatuh pingsan.

Satelah Abdul Wahid kembali ke rumahnya melihat keadaan  telah terjadi sesuatu di rumahnya dimana orang banyak yang berada disitu telah memberitahu kepadanya apa yang telah terjadi. Dengan perasaan marah Abdul Wahid mengambil pedang lalu memotong tangan anaknya hingga putus. Abdul Wahid merasa kesal atas tuduhan yang dibuat oleh anaknya sedangkan mereka tidak mengetahui keadaan sebenarnya.

Satelah budaknya sadar dari pingsan, budaknya bangkit serta mengambil mata yang terjatuh lalu dimasukkan kembali ke tempat asalnya sambil berdoa kepada Allah supaya memulihkan kembali penglihatannya. Satelah berdoa, matanya kembali sembuh seperti sedia kala dan budaknya pergi mengambil tangan anak Abdul Wahid yang putus lalu menyambungnya seraya membaca sesuatu. Tidak lama kemudian tangan anak Abdul Wahid kembali pulih seperti sedia kala. Budaknya terus mohon diri dan pergi dari situ. Orang banyak  keheranan melihat keajaiban yang telah terjadi.

Bagitulah tingginya derajat orang yang taat dan patuh kepada perintah Allah dan dia telah mendapatkan derajat dan kemulian dari Allah s.w.t.  Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s