Wanita Yang Mendapat Karamah

Posted: 16 Juli 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Diriwayatkan bahwa Syeikh Sariy Saqaty r.a adalah seorang alim dan ulama  yang terkenal. Murid-muridnya terdiri dari  berbagai macam kaum yang datang dari seluruh negeri. Salah seorang dari  muridnya adalah seorang wanita yang solehah, jujur dan senantiasa taat dan patuh kepada perintah Allah. Wanita ini mempunyai seorang anak yang bernama Muhammad. Anaknya telah diserahkan kepada seorang guru untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan mempelajari Al-Quran.

Pada suatu hari guru agama ini pergi ke tepi sungai Dajlah bersama-sama anak wanita tadi untuk mengambil udara sejuk dan sambil berjalan-jalan. Ketika guru itu duduk beristirahat, anak  tadi bermain-main di tepi sungai dan tidak di sadari bahwa anak itu telah terjun ke dalam sungai itu. Ketika di sadari oleh sang guru  dan belum sempat guru  untuk menarik anak itu ke darat, tiba-tiba anak itu tenggelam ke dalam sungai. Dengan perasaan cemas sang guru  mencari-cari anak tersebut tetapi tidak ditemui. Setelah lama mencari sang guru  tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan beliau berfikir mungkin anak itu telah mati dan di bawa arus sungai.

Guru tersebut merasa bersalah  atas perbuatannya karena mengajak anak tersebut bermain-main di tepi sungai. Pikirannya buntu tidak bias  memikirkan bagaimana untuk memberitahu ibunya perihal tentang kehilangan anak tersebut, dia takut dimarahi oleh wanita itu karena  kelalaiannya. Dengan perasaan yang tidak menentu itu, tiba-tiba ia teringat tentang syeikh Sariy seorang ulama tempat ibunya mengaji, mungkin syeikh tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah ini. Tanpa membuang waktu lagi sang guru terus menuju ke rumah Syeikh Sariy untuk memohon bantuannya menyelasaikan masalah hilangnya anak  wanita tersebut.

Sesampainya di sana sang Guru  menceritakan kepada Syeikh Sariy tentang kehilangan anak itu, dia memohon supaya mencari jalan keluarnya, bagaimana untuk memberitahu ibunya tentang kehilangan anaknya. Syeikh Sariy mengajak kawannya Al-Junaid yang kebetulan berada disitu untuk pergi ke rumah wanita itu dan sama-sama membantu supaya wanita itu tidak mengamuk atau memaki sang guru itu karena sudah lalai menjaga anaknya  yang menyebabkan  tenggelam di dalam sungai.

Saat tiba di rumahnya Syeikh Sariy dan Al-Junid mengajarnya tentang kesabaran untuk  menghadapi sesuatu, jika sesuatu musibah yang menimpanya itu adalah takdir Allah semata-mata. Wanita itu keheranan tentang tingkah laku Syeikh Sariy dan kawannya Al Junaid. Wanita itu berkata kepada Syeikh Sariy “Apakah sebenarnya yang terjadi? sehingga tuan-tuan menceritakan tentang hal yang telah saya ketahui”. Syeikh Sariy berterus terang dan menceritakan tentang kehilangan anaknya yang telah tenggelam ke dalam sungai sewaktu anaknya bermain-main bersama-sama gurunya di tepi sungai Dajlah.

Mendengar cerita tersebut wanita itu berkata dengan perasanan tenang “Insya Allah, Allah tidak akan berbuat sedemikian kepada aku”. Wanita itu mengajak mereka supaya menunjukkan tempat hilang anaknya. Mereka menuju ke tepi sungai dan saat sampai di sana guru itu menunjukkan tempat anaknya tenggelam. Kata wanita itu “Apakah kamu pasti bahwa anakku hilang di sini” Jawab guru itu “Benar di sinilah dia tenggelam dan saya tidak sempat untuk memegang tangannya ketika  dia tenggelam”. Lalu wanita itu menyeru nama anaknya “Hai anakku Muhamammad” beberapa kali, tidak lama kemudian anaknya menjawab “Ibu, Saya ada disini”. wanita itu lalu turun ke dalam sungai kemudian mengulurkan tangannya ke dalam air dan menarik keluar anaknya. Syeikh Sariy, Al Junaid dan Gurunya hanya tertegun melihat keajaiban yang terjadi di hadapan matanya. Syeikh Sariy berkata “jika kita memberitahu kepada orang, tentu mereka tidak percaya”. Jawab Al Junaid “Benar kata tuan, keajaiban tidak didapati oleh semua orang, kecuali mereka yang benar-benar takwa dan taat kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan kelebihan kepada mereka”.

Wanita itu memeluk anaknya dangan penuh kegembiraan. Mereka terus meninggalkan  sungai itu untuk pulang ke rumahnya dan tinggallah Syeikh Sariy, Al Junid dan Guru di situ. Mereka berbincang-bincang tentang karamah yang diberikan Allah kepada wanita itu. Syeikh Sariy berkata “Wanita itu telah mendapat firasat bahwa anaknya masih hidup sewaktu ia berkata bahwa Allah tidak akan membuat demikian kepadanya” Mereka bertiga pun pulang  dengan membawa kenangan yang tidak dapat di lupakan dan mereka bersyukur kepada Allah atas kebesaran dan kekuasaan-Nya dan segala yang terjadi di atas muka bumi ini adalah  ketentuan-Nya.

Komentar
  1. anandamaharani04 mengatakan:

    subhanallah, salam kenal ya.jalan2 ke blog ku ya…anandamaharani04WordPress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s