SEBUAH Pengorbanan SUCI

Posted: 14 Juli 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Ada seorang pemuda sedang dalam  perjalanan yang jauh,  dia merasa amat letih. Dia pun berhenti beristirahat di satu kawasan perkampungan dan melepaskan kudanya mencari makan di situ. Oleh karena keletihan, pemuda itu tertidur di bawah sebatang pohon. Kudanya yang kelaparan belum makan kemudian masuk pada suatu  kebun dan memakan  tanaman yang ada di situ. Tidak berapa lama kemudian, sang petani yang memiliki kebun tersebut datang.  Melihat tanaman di kebunnya habis musnah, petani itu hilang kesabaran lalu membunuh kuda yang memakan tanamannya.

Ketika pemuda terbangun dari tidurnya, pemuda itu mencari kudanya.  Akhirnya dia melihat bangkai kudanya di sebuah ladang. Melihat keadaan itu, dia menjadi marah dan mencari pembunuh kudanya. Dia menuju ke sebuah rumah di dekat kebun tersebut.

Kebetulan saja menjumpai tuan rumah, dia terus mengamuk dan terjadi perkelahian dan akhirnya petani itu terbunuh. Peristiwa itu diketahui orang banyak. Pemuda itu dibawa ke hadapan  khalifah untuk diadili. Menurut hukum qisas, membunuh dibalas dengan dibunuh. Khalifah memerintahkan supaya dia dipenjarakan sehari semalam sebelum dia dipancung pada jam 5:00 keesokan harinya. Pemuda itu memohon supaya dia dibolehkan pulang dalu bertemu dengan ibunya untuk menyelesaikan satu masalah  yang amat penting.

Khalifah tidak menerima permintaan pemuda itu. Namun pemuda itu tidak putus asa dan terus memohon sambil menyatakan dia mempunyai tanggungjawab yang mesti diselesaikan sebelum dia dihukum mati. Dia berjanji akan kembali segera setelah urusannya selesai. Khalifah meminta pandangan ahli waris yang meninggal. Anak petani tidak mengizinkan pemuda itu pergi karenaragu dia tidak akan datang lagi untuk menerima hukuman mati.

Berkali-kali pemuda itu memohon dan bersumpah akan datang kembali, namun tidak seorangpun menunjukkan tanda simpati. Akhirnya tampil seorang tua  mengadap khalifah menyatakan kesanggupan untuk menjadi tebusan bagi  pemuda itu untuk pulang ke rumahnya. Orang tua itu tidak lain tidak bukan ialah Abu Zar, seorang sahabat Nabi yang banyak merawikan Hadisth. Melihat apa yang terjadi, semua hadirin tercengang dan sebahagian besar memarahi Abu Zar karena tindakannya yang membahayakan diri sendiri. Abu Zar berjanji untuk menjadi tebusan dan membenarkan pemuda itu pulang menyelesaikan masalahnya. Melihat kejadian ini, pemuda itu menjadi tenang dan mengikat janji bahwa dia akan pulang kembali untuk melaksanakan hukum pancung setelah  urusannya selesai. Abu Zar faham kegagalan pemuda itu menunaikan janjinya akan mengakibatkan nyawanya tergadai.

Ketika ditanya Khalifah kenapa dia sanggup menjadikan dirinya sebagai tebusan? Abu Zar menerangkan demi keluhuran Islam, dia sangat malu melihat tidak ada satupun yang sanggup menghulurkan bantuan ketika pemuda asing itu dalam kesusahan yang luar biasa. Pemuda itu dibiarkan pulang ke rumahnya sementara Abu Zar  dikurung di penjara. Pada keesokan harinya, penuh sesak manusia menuju ke istana khalifah untuk menyaksikan episod yang mencemaskan. Banyak orang menganggap Abu Zar akan dibunuh karena kemungkinan besar pemuda itu tidak akan datang menyerahkan lehernya untuk dipancung. Saat yang mendebarkan  terjadi ketika beberapa saat lagi waktu yang ditentukan hampir tiba, namun pemuda itu masih belum tiba. Abu Zar dikeluarkan dari penjara. Kegagalan pemuda itu menghadirkan dirinya akan menyebabkan Abu Zar menjadi taruhannya.

Di detik-detik terakhir, orang banyak melihat kedatangan seorang lelaki menunggang seekor kuda dengan amat kencang sekali. Ketika itu kecemasan orang banyak bertukar menjadi reda. Tepat sekali sebagaimana yang dijanjikan pemuda itu sampai waktu yang ditentukan. Pemuda itu lantas turun ke  hadapan Khalifah seraya meminta maaf karena ‘terlambat’ menyebabkan suasana tegang dan cemas. Pemuda itu menerangkan seharusnya dia sampai lebih awal, hal ini  disebabkan tali kudanya putus di tengah perjalanan. Dia menerangkan urusan yang dikatakannya amat penting itu  ialah karena terpaksa menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai penjaga harta anak-anak yatim dan menyerahkan tugas itu kepada ibunya. Pemuda itu menemui Abu Zar untuk mengucapkan terimakasih karena kesanggupannya menjadikan dirinya sebagai tebusan. Kemudian dia segera ke tempat dilakukannya hukuman pancung. Ketika pengawal mulai mengayun pedangnya, tiba-tiba anak petani dengan suara yang kuat meminta hukuman dibatalkan. Dengan  hati yang tulus dia memaafkan kesalahan pemuda itu. Mendengar kata-kata anak petani itu, pemuda itu amat lega dan terus sujud tanda syukur kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s