BEGINILAH PEMIMPIN YANG SEBENARNYA

Posted: 11 Juli 2009 in Umum
Tag:, , ,

Dewasa ini orang berebut-rebut ingin menjadi pemimpin atau ketua. Mereka menganggap besarnya manfaat yang bisa diambil dari sebuah kepemimpinan atau keuntungan secara pribadi. Bagi mereka yang menyadari tentang besarnya risiko memegang jabatan sebagai pimpinan sudah tentu keberatan menerima jabatan tersebut.  Abu Bakar sendiri semasa hendak meninggal dunia, mengeluh dan kesal kerana dilantik sebagai ketua (khalifah).

Begitu juga dengan  Umar yang dilantik sebagai khalifah selepas kematian  Abu Bakar.  Umar sangat mengambil berat tentang kebajikan rakyatnya. Pada suatu malam sedang dia melakukan ronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat keadaan rakyatnya, dia mendengar tangisan anak-anak.   Umar menghampiri sebuah pondok yang buruk tempat tinggalnya anak-anak itu.

Dia mendengar ibunya memasak sesuatu. anak-anak tadi diam seketika  melihat ibunya sedang memasak. Namun masakannya tidak selesai-selesai sehinggalah anaknya tertidur dalam kelaparan. Melihat keadaan yang menyayat hati itu,   Umar memberi salam dan meminta izin untuk masuk. Wanita itu tidak sadar bahwa tamu itu ialah Umar.  Umar bertanya tentang hal kehidupan wanita itu. Wanita itu mengadu dimana dia dan anaknya sudah berhari-hari tidak makan. Apabila anaknya menangis hendak  makanan, dia pura-pura memasak dengan memasukkan beberapa buah batu ke dalam periuk. Melihat keadaan itu, anaknya diam sebentar kerana menyangka ibunya memasak sesuatu.

Wanita itu mengadu dan mengutuk Khalifah Saiyidina Umar kerana tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Mendengar kutukan wanita itu,   Umar terdiam sejenak. Sebentar kemudian, dia memohon diri meninggalkan keluarga wanita itu. Dalam kegelapan malam,  Umar terus menuju ke Baitul Mal lalu mengambil sendiri beberapa karung gandum untuk dihantar ke rumah wanita itu.

Sesampainya di rumah wanita itu,  Umar memberi salam dan masuk ke rumahnya untuk kedua kali. Dia mengambil gandum dari karung lalu terus memasakkan untuk wanita dan anaknya. Wanita itu masih tidak sadar bahwa orang yang datang membawa gandum dan memasak itu ialah khalifah sendiri. Setelah selesai Umar sendiri yang menghidangkan makanan untuk wanita dan anaknya.

Melihat mereka gembira mendapatkan makanan,  Umar berasa amat senang hati dan pergi dari situ. “Kalaulah  Umar berbuat begini, alangkah baiknya….”, kata wanita itu tanpa menyadari orang yang berada di hadapannya ialah Saiyidina Umar sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s