Saat Salah Satu dari Kita Mati

Posted: 6 Juli 2009 in Nasehat
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Saat dunia jadi sunyi. Rekaman nostalgia kehidupan kita mulai memantulkan gambarnya tepat ke tembok perenungan didepan kita. Seharusnya tembok itu putih bersih, tapi apa dikata, guratan-guratan noda telah membuat gambar terlihat sedikit buram tidak seperti yang seharusnya.

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang mengiba. Jujur kar’na tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan hati enggan tuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli.

Ketika salah satu dari kita mati.

Semua kita akan melintasi masa itu, sahabat. Masa dimana kita berpindah dari dunia yang butuh harta dan ini itu ke dunia lain yang hanya butuh iman. Ya.. Kau yang matanya tengah menatap guratan kata ini, tak lama lagi. Walau mungkin saja tertunda lebih sedikit dibanding aku. Atau sangat mungkin lebih cepat. Karena tak ada kata ‘lama’ disini. Di dunia yang serasa baru kemarin saja kita pertama kali menghirup udaranya, dan kita harus rela suatu saat udara itu enggan memenuhi paru-paru kita. Bukan ia tak mau, tapi izin tak bersamanya. Karena ia tau kita tak butuh udara ketika beranjak ‘pindah’.

Maaf sajalah jika sejenak aku ajak kalian berpindah alam. Berpindah sejenak dari hiruk pikuk kehidupan yang seringkali berhasil menipu kita dengan wajah manisnya, ia rayu kita untuk percaya bahwa kita akan selalu bersamanya.

Bukan maksudku mengajak kalian berputus harapan dalam kehidupan ini, sehingga nanti jangan-jangan kalian berkesimpulan ‘lebih baik menyepi di sudut hutan setelah mengebiri diri’. Bukan itu maksudku, sahabat. Yang kuingin hanyalah sebuah penyadaran, bahwa dia yang menggoda kita sedari dulu itu hanyalah ia yang buruk rupa dan akan binasa. Sihirnya telah membuat kita tertipu secara kasarnya dan melupakan sesuatu yang selainnya. Sesuatu yang sejatinya sempurna dan abadi, namun kebodahan dan tipu daya telah membuat kita meniggalkannya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qoshosh: 77)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan MATI. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu belaka.”(Ali Imran 185)

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang mengiba. Jujur kar’na tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan hati enggan untuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli.

Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s