Bagaimana Rasulullah Mengentas Kemiskinan?

Posted: 5 Juli 2009 in Kisah-Kisah

Dalam sebuah kisah, suatu hari Rasulullah SAW didatangi seorang pengemis yang pakaiannya compang-camping. Wajah lelaki itu tampak sedih dan mengenaskan. Tentu saja Rasul kasihan. Tapi tahukah Anda, apa yang diberikan Rasul kepada pengemis itu?

Bukan uang atau makanan, tetapi sebuah kampak tajam sambil bersabda, ”Pergilah ke hutan. Kumpulkan kayu bakar. Jual dan kembalilah kepadaku setelah lima belas hari.” (HR Abu Dawud). Subhanallah. Begitulah Rasul kita. Sang guru besar yang selalu mendidik dan mengajari umatnya. Rasul tidak memanja pengemis dengan memberi uang atau makanan, tetapi memberinya kampak untuk bekerja. Sebab, dengan bekerja, sang pengemis bisa kembali punya harga diri di mata masyarakat.

Kita, paling tidak, bisa mengambil dua hikmah dari hadis Rasulullah SAW di atas. Pertama bahwa bantuan langsung yang diberikan kepada masyarakat miskin bukanlah solusi tepat untuk mengentaskan kemiskinan. Sebab, bantuan-bantuan seperti itu malah berpotensi memanjakan mereka dengan terus-menerus menggantungkan harapan pada datangnya bantuan. Justru yang efektif adalah membuka lapangan kerja bagi si miskin, atau memberi modal untuk usaha.
Kedua, tidak perlu gengsi dalam bekerja. Apa saja, asal halal dan terhormat, kita hendaknya dengan senang hati menjalaninya. Terkadang kita gengsi dan memilah-milah pekerjaan. Kita selalu ingin bekerja yang enak, bergaji besar, punya prestise, dan disanjung orang.

Kita lupa Rasulullah SAW dan nabi-nabi yang lain bekerja sebagai penggembala. Kita pun mungkin tak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah, sang perawi hadis paling andal, bekerja sebagai pembantu. Bahkan, gajinya hanya sepiring nasi untuk mengganjal perut kosong. Agama Islam mengarahkan umatnya untuk tidak menjadi beban masyarakat. Untuk bekerja apa saja tanpa harus merasa gengsi, selagi itu halal. Menjadi penjual kayu bakar dalam pandangan agama jauh lebih terhormat dan mulia ketimbang mengemis yang sangat tidak dianjurkan.

Sekarang, mari kita lihat nasib si pengemis tersebut. Setelah waktu yang ditentukan, si pengemis benar datang menghadap Rasul. Tapi, sudah bukan lagi seperti lelaki pada waktu lima belas hari yang lalu. Dia datang dengan baju yang tidak lagi compang-camping. Dia datang dengan semangat baru, jiwa baru, kondisi baru, bahkan dengan postur tubuh baru, yang lebih segar. Kondisinya sama sekali berubah. Dia sukses menjadi pedagang kayu bakar hingga kembali hidup terhormat penuh percaya diri. Itulah nilai sebuah usaha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s