Salah Seorang sahabat Ibnu Mas’ud termasuk orang kaya. Tapi, dia hanya mempunyai satu orang anak perempuan yang kelak akan menikah dan kehidupannya ditanggung oleh suaminya. Karena itu, Ibnu Mas’ud menganggap dia tidak perlu rajin mencari rezeki.

Ia bekerja sekadarnya saja. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suatu sabda Nabi Muhammad SAW, ”Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok.” Sejak itu, Ibnu Mas’ud bekerja giat kembali sehingga hartanya bertambah banyak. Sampai akhirnya, ia tergolek sakit di tempat tidurnya. Karena merasa ajalnya kian dekat, Ibnu Mas’ud berpesan kepada para sahabatnya. Apabila ia meninggal dunia, semua kekayaannya harus disedekahkan.

Niat Ibnu Mas’ud itu terdengar oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau segera berangkat menemuinya dan menanyakan kebenaran laporan para sahabat tersebut. Ibnu Mas’ud mengangguk, tanda mereka tidak mengada-ada. Memang begitulah keinginannya, memberikan seluruh hartanya sebagai wakaf dan infak serta menyisakan sebagian hartanya untuk anak perempuannya.

Alasannya sederhana dan sangat mulia bahwa beliau percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan anaknya. Ia yakin dan pasrah terhadap kemurahan Allah SWT. Nabi Muhammad menyanggah, ”Tidak, Sahabatku. Menyedekahkan semua milikmu adalah tidak benar.” ”Kalau begitu, dua pertiganya akan saya sedekahkan,” ujar Ibnu Mas’ud. ”Dua pertiga masih terlalu besar,” ujar Nabi. ”Baiklah, setengahnya saja,” saran Ibnu Mas’ud.

Nabi melarang lagi, ”Tidak! Setengahnya juga masih terlalu banyak.” Kemudian, Nabi bersabda, ”Menyedekahkan harta untuk Allah SWT cukup sepertiganya saja, selebihnya untuk ahli warismu. Ingatlah, wahai Sahabatku, meninggalkan seorang ahli waris dalam keadaan berkecukupan jauh lebih baik daripada meninggalkannya dalam keadaan papa sampai harus menadahkan tangannya kepada orang lain.”

Itulah yang diajarkan Islam mengenai harta dan dunia, yaitu keseimbangan dalam berbagai kepentingan. Sebaiknya, kita pun diingatkan agar tidak sampai terpesona oleh harta dan dunia sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran. ”Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka, sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS Fatir [35]: 5).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s