Program Judaisasi Masjid Al-Aqsha

Posted: 27 Juni 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

ADA yang selalu membuat Ali bin Abi Thalib keheranan. Ali yang masih remaja sering bingung mengapa kaum Quraisy menyembah batu-batu. Dulu ia sering dibawa ayahnya tawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengangkat berhala yang mereka puja. Namun sepanjang melakukan upacara, Ali tak kunjung mengerti apa gerangan manfaatnya mengagung-agungkan patung yang dibuat oleh manusia sendiri.

Setelah tinggal bersama Muhammad, ia tidak pernah mengalaminya lagi. Sebab, saudara sepupunya itu beserta seluruh keluarganya tidak pernah mengerjakannya.

Pada suatu malam, tanpa sengaja Ali memasuki ruang dalam rumah. Alangkah heran dan terkejutnya ketika dilihatnya Muhammad dan istrinya sedang melakukan perbuatan ganjil. Mereka rukuk dan sujud bersama menghadapi tempat kosong tanpa ada patung di mukanya.

Sesudah selelsai, Ali memberanikan diri bertanya, “Apa yang tengah kalian lakukan, wahai kemenakan ayahku? Kepada siapa engkau bersujud? Aku tidak menemukan berhala di ruangan ini….”

Sembari tersenyum, Muhammad menjawab, “Kemarilah Ali. Kami menyembah Tuhan yang telah menciptakan alam ini, dan memberi tugas kepadaku agar mengajak segenap umat manusia untuk bersujud kepada-Nya, karena aku telah dibangkitkan menjadi nabi dan utusan-Nya.”

Rasulullah kemudian menjelaskan tentang Islam sekadarnya. Dengan sabar dibacakan pula beberapa surah pendek dari Alquran, dan diterangkan makna serta tafsirnya. Barulah setelah itu Rasulullah berkata, “Nah Ali, aku mengajakmu untuk menganut agama Islam.”

Ali terdiam. Ia dilanda kembimbangan. Ia masih belum tahu apa-apa tentang itu. Bertahun-tahun Ali dijejali dengan ajaran tentang Lata, Uzza dan Manat. Sekarang hanya dalam sekejap, ia diajak untuk meyakini sesuatu yang baru. Ali sejenak menimbang-nimbang. Lata, Uzza dan Manat hanya berupa patung-patung batu atau kayu. Rasanya mustahil sekali mereka bisa mendatangkan bahaya apalagi manfaat. Ali tahu sekali bahwa patung-patung itu dibikin oleh manusia biasa, yang lemah dan tidak berdaya. Bahkan yang menatahnya adalah kuli-kuli atau hamba sahaya.

Bagi Ali, mungkin inilah saatnya untuk meyakini sesuatu yang lebih sejati. Apalagi ia tahu Muhammad itu seorang yang tidak pernah berbohong, sangat amanah dan berahlak amat baik. Namun, berpindah keyakinan merupakan pilihan yang berat dan keputusan itu menyangkut seluruh kehidupannya kelak. Maka dari itu rasanya ia perlu meminta izin untuk merenungkan dan kemudian merundingkannya lebih dulu dengan ayahnya, Abu Thalib.

Rasulullah mengangguk. “Ya, sebaiknya begitu. Namun, tidak juga tidak apa-apa…”

Maka, sepanjang malam itu Ali berguling-gelisah di tempat tidurnya. Ia tak dapat memicingkan mata sekejap pun. Di dadanya bagaikan terdapat sebuah pisau yang mengiris-ngiris tajam merampas semua pedalaman jiwanya. Ia ragu, apakah ayah dan keluarganya akan menyetujui pilihannya? Apakah mereka takkan mengalangi-halanginya? Kalau mereka keberatan, bagaimana ia mesti bertindak? Tetap pada pendiriannya, berarti melawan mereka; atau terpaksa menyerah, berarti mengorbankan hati nurani sendiri dan menggadaikan ketenteraman batinnya. Ajaran baru dari Muhammad itu memang benar-benar bisa membuatnya tenang dan yakin.

Akhirnya, pagi-pagi sekali, ia menjumpai Rasulullah. Kepada saudara sepupunya itu ia berkata, “Aku urungkan niatku semula…”

Rasulullah agak terkejut mendengar perkataan Ali. Namun ia diam saja, “Apa yang kauurungkan?” tanyanya kemudian.

“Meminta izin kepada ayahku agar aku masuk Islam.” Jawab Ali tegas.

“Maksudmu?” tanya Rasulullah, seakan tengah berusaha menjajaki isi hati anak muda itu.

“Rasululllah, Allah telah menciptakan aku tanpa harus berunding dahulu dengan kedua orang tuaku. Mengapa untuk beriman dan mengabdi kepadaNya aku harus berunding dulu dengan mereka?”

Rasulullah memandangi Ali. Ia tahu, di wajah anak itu ada sebuah kesungguhan yang amat dalam yang kelak akan membuat Islam semakin tegak dan kokoh. “Ali, kau ingat, mengapa aku mengatakan kau boleh berunding atau pun tidak dengan orang tuamu?”

Ali terdiam. Tanpa menunggu jawaban Ali, Rasulullah menyambung perkataannya, “Sebab kadang-kadang, untuk keselamatan iman di satu pihak dan keselamatan hubungan kekeluargaan di pihak lain, memeluk Islam bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa perlu ada yang tahu. Bukankah menjadi muslim adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya saja dari segi keimanan? Adapun yang bersangkutan dengan sesama manusia adalah segi muamalah—walaupun dengan kedua orang tuamu. Artinya dalam masalah keimanan, hanya Allah yang tahu. Sedangkan dalam perilaku keseharian, umat Islam harus menampilkan sikap hidup yang lebih santun dan penuh kasih sayang.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s