Meraih Kesuksesan Hidup

Posted: 27 Juni 2009 in Umum
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Seringkali orang menilai kesuksesan hidup dari ukuran fisik dan materi. Banyak orang merasa sukses bila jadi orang kaya, terkenal, cantik, atau punya jabatan tinggi. Untuk mencapai itu semua, orang rela berkorban apa saja.
Maka tak heran, jika acara kontes dan kuis yang berhadiah besar  pesertanya selalu membludak. Di bidang politik dan profesional, tak sedikit orang yang rela berkorban besar guna meraih posisi tinggi di jabatan publik.
Ketika semua tujuan itu dicapai dengan cara-cara halal, maka sah-sah saja. Namun, jika dilakukan dengan cara-cara terlarang—seperti mengumbar aurat, ada unsur judi atau  penipuan—ini jelas haram. Di sini,  pentingnya pemahaman yang benar.

Makna sukses tak boleh dipersempit sebatas pencapaian hal-hal duniawi. Islam sebagai agama agung nan sempurna  membimbing kita untuk mencapai kesuksesan. Tiga hal berikut bisa jadi kiat dan ukuran untuk menggapai kesuksesan hidup dunia dan akhirat.

1.    Manfaat bagi orang lain

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda: “Khairunnas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain).” Sebut misalnya, manfaat dari sisi sosial seperti Pengurus RT, RW atau  yayasan yang memberikan bantuan pelayanan bagi masyarakat.
Dalam kehidupan, orang yang paling banyak memberikan manfaat, maka ia akan disenangi banyak orang. Masyarakat lebih suka pada orang yang rajin, baik, dermawan, punya prinsip, murah senyum, peduli, suka menolong dan  memberi, dibanding dengan orang yang malas, pelit, sombong dan cuek.
Jika orang sudah senang pada kita, karena manfaat yang kita berikan pada mereka, maka hati kita pun akan senang dan bahagia. Sementara di sisi Allah, kita mendapatkan penghargaan yang tinggi seperti hadits Rasul di atas: sebaik-baik manusia.

2.    Keseimbangan hidup

Dalam surah al-Qashas 77, Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”  Ayat ini berbicara tentang menjaga keseimbangan hidup dunia dan akhirat.
Tentang keseimbangan aktivitas dan waktu,  Allah menjelaskan dalam surah an-Naba 9-11: “Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.”
Dari dua surah ini,  Allah menegaskan, pentingnya keseimbangan (tawazun) dalam kehidupan. Tujuannya tak lain agar tercapai kebaikan hidup bagi kita dan terpenuhinya hak-hak orang lain dengan prinsip keseimbangan itu.

Sesungguhnya Allah punya hak pada kita untuk menyembah-Nya. Hak Allah lebih besar dibanding yang lainnya. Anak dan istri punya hak atas kita. Tetangga kita, masyarakat kita, orang tua kita, punya hak atas kita.

Ketika kita bisa menjaga keseimbangan antara hak Allah, hak keluarga, dan masyarakat, maka kita akan merasakan kebahagiaan dalam hati. Hidup kita pun akan sukses. Sebaliknya, ketika tak ada keseimbangan, waktu kita hanya habis untuk teman, tetangga atau masyarakat, sementara keluarga kita telantarkan, berarti kita gagal menjadi orang sukses.
Kita nyaman di luar rumah, tapi di rumah bak neraka. Anak dan istri kita marah dan kesal bahkan mengacuhkan kita karena kecewa dengan sikap kita yang tak adil dan tak  seimbang.

3.    Husnul Khatimah

Dalam sebuah doanya Rasulullah saw pernah meminta pada Allah:
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya, dan sebaik-baik amalku pada penutupnya, dan sebaik-baik hari adalah hari ketika aku berjumpa dengan-Mu.”
Doa ini mengisyaratkan kepada kita tentang sebuah harapan Rasulullah untuk mendapatkan kebaikan pada saat-saat terakhir. Salah satunya adalah saat menutup hidup dan usianya dalam keadaan beriman, taat dan beribadah pada Allah.
Dari doa ini, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan  Rasulullah saw. Kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput, karena itu adalah rahasia Ilahi. Hidup, mati dan jodoh ada di tangan Allah. Karena kita tak tahu kapan, di mana dan sedang apa,  ajal menjemput. Karenanya, setiap detik kita harus menjaga diri kita dengan amal terbaik.
Kita tak pernah dianjurkan untuk memilah-milah amal kita. Masa muda adalah masa senang-senang dan foya-foya. Soal taubat itu urusan nanti, kalau sudah tua. Kita khawatir, ketika kita berfoya-foya atau bermaksiat kepada Allah, saat itu Allah mencabut nyawa kita sehingga mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s