Sebenarnya Kemerdekaan

Posted: 18 Juni 2009 in Umum

Rib’iy bin Amir dikirim oleh panglima perang Islam untuk menyampaikan dakwah Islam kepada Rustum, panglima perang Persia. Rustum bertanya, ”Apa yang kalian dakwahkan?” Rib’iy menjawab, ”Allah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah Yang Mahaesa, dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat, serta dari kecurangan berbagai agama yang sesat menuju keadilan Islam.” (Fi Zhilalil Qur`an 2/494).

Apabila kita perhatikan secara seksama, dakwah yang diserukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya ini adalah dakwah menuju kemerdekaan sejati. Penyembahan kepada makhluk dalam pengertian luas adalah menuruti dan menaati perintah orang lain, tanpa mempertimbangkan benar atau salahnya perintah itu. Ini adalah salah satu bentuk keterjajahan, yang pada zaman Bung Karno dikenal dengan sebutan exploitation de l’homme par l’homme.

Secara asasi, manusia mempunyai kemerdekaan untuk berpikir dan memutuskan sesuatu, tanpa bergantung pada makhluk lainnya. Tentu kemerdekaan ini diiringi dengan konsekuensi, yakni bahwa dia harus bertanggung jawab terhadap apa saja yang dia perbuat.

Tatkala salah satu poin dakwah Islam adalah mengeluarkan orang dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah Yang Esa, maka itu berarti Islam menyerukan menuju kemerdekaan sejati. Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah, karena Dialah Pencipta, Pemelihara, dan Pemberi rezeki seluruh makhluk.

Dakwah Islam juga memindahkan manusia dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Apabila Islam dijalankan, kesempitan dunia akan sirna. Karena, jurang pemisah si kaya dan si miskin dapat didekatkan, serta korupsi, kolusi, dan nepotisme dapat ditekan sampai taraf minimal, bahkan dapat dihilangkan sama sekali.

Islam juga membebaskan orang dari kecurangan yang dilakukan agama-agama sesat menuju keadilan Islam. Masih terekam dalam ingatan kita betapa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kalah saat beradu hujah dengan seorang Yahudi di Mahkamah Islam. Hakim memutuskan bahwa baju besi yang diklaim oleh Ali sebagai miliknya itu menjadi milik orang Yahudi. Karena, Ali tidak punya bukti bahwa baju besi itu miliknya.

Sedangkan si Yahudi berani bersumpah bahwa barang itu miliknya.
Dalam Islam, orang yang mengklaim barang milik orang lain sebagai miliknya harus mendatangkan bukti, sedangkan si pemegang barang cukup bersumpah saja. Begitulah jalan Islam dalam menghargai kemerdekaan dan hak orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s