EKONOMI KAPITALISME

Posted: 17 Juni 2009 in Umum

Istilah kapitalisme berarti kedaulatan kapital atau modal, yakni sistem ekonomi bebas tanpa batas yang didasarkan secara penuh pada keuntungan, di mana masyarakat bersaing atau berkompetisi dalam batasan-batasan ini. Terdapat tiga unsur penting dalam kapitalisme: individualisme, persaingan (kompetisi) dan perolehan keuntungan. Individualisme penting dalam kapitalisme sebab manusia melihat diri mereka sendiri bukan sebagai bagian dari masyarakat, tetapi sebagai “individu-individu” yang berdiri sendiri di atas kedua kakinya dan harus memenuhi kebutuhan pribadi dengan kerja kerasnya sendiri. “Masyarakat kapitalis” adalah arena dimana para individu bersaing satu sama lain dalam lingkungan yang keras dan tanpa belas kasih. Ini adalah arena yang persis sebagaimana penjelasan Darwin, yang menempatkan hanya yang kuat yang tetap hidup, sedangkan kaum lemah dan tak berdaya akan terinjak-injak dan tersingkirkan; ini juga tempat di mana kompetisi sengit merajalela.

Menurut pola pikir yang dijadikan dasar berpijak kapitalisme, setiap individu – dan ini dapat berupa perorangan, sebuah perusahaan atau suatu bangsa – harus berjuang demi kemajuan dan kepentingannya sendiri. Hal terpenting dalam peperangan ini adalah produksi. Produsen terbaik akan bertahan hidup, sedangkan yang lemah dan tidak cakap akan tersingkir dan lenyap. Beginilah sosok sistem kapitalisme, yang telah melupakan kenyataan bahwa yang tersingkirkan dalam peperangan sengit ini, yang terinjak-injak dan jatuh miskin adalah “manusia”. Yang menjadi pusat perhatian kapitalisme bukanlah manusia, akan tetapi pertumbuhan ekonomi, dan barang, yakni hasil dari pertumbuhan ekonomi ini. Karena alasan tersebut, pola pikir kapitalis tidak lagi merasakan tanggung jawab etis atau memiliki hati nurani terhadap orang-orang yang terinjak di bawah kakinya, yang harus mengalami berbagai kesulitan hidup. Ini adalah Darwinisme yang diterapkan secara menyeluruh pada masyarakat di bidang ekonomi.

Dengan menyatakan perlunya mendorong kompetisi di berbagai bidang kehidupan, dan memaklumkan tidak perlunya menyediakan kesempatan atau bantuan bagi golongan masyarakat lemah dalam hal apapun, baik di bidang kesehatan hingga ekonomi, para perumus Darwinisme Sosial terkemuka telah memberikan dukungan “filosofis” dan “ilmiah” bagi kapitalisme. Misalnya, menurut Tille, sosok terkemuka yang mewakili mentalitas kapitalis-Darwinis, adalah kesalahan besar untuk mencegah kemiskinan dengan cara membantu “kelompok-kelompok yang tersingkirkan”, sebab ini berarti turut mencampuri seleksi alam yang mendorong terjadinya evolusi.

Dalam pandangan Herbert Spencer, perumus utama teori Darwiniwme Sosial, yang memasukkan ajaran pokok Darwinisme ke dalam kehidupan masyarakat, jika seseorang miskin maka ini adalah kesalahannya sendiri; orang lain tidak sepatutnya menolong agar ia bangkit. Jika seseorang kaya, bahkan jika ia mendapatkan kekayaannya melalui cara yang tidak bermoral, maka ini adalah berkat kecakapannya. Oleh karena itu, orang kaya akan bertahan hidup, sedangkan yang miskin akan lenyap. Ini adalah pemandangan yang telah berlaku hampir secara menyeluruh pada masyarakat sekarang dan gambaran ringkas tentang moralitas kapitalis-Darwinis.

Spencer, yang mendukung moralitas ini, menyelesaikan karyanya Social Statistics pada tahun 1850, dan menolak segala bentuk bantuan bagi masyarakat yang diusulkan oleh negara, seperti program pencegahan untuk melindungi kesehatan, sekolah-sekolah negeri, dan vaksinasi wajib. Sebab menurut Darwinisme Sosial, tatanan kemasyarakatan terbangun berdasarkan keberlangsungan hidup bagi yang kuat. Pemberdayaan masyarakat lemah yang menjadikan mereka mampu bertahan hidup adalah pelanggaran terhadap asas ini. Si kaya adalah kaya karena mereka lebih layak hidup; sebagian bangsa menjajah sebagian yang lain dikarenakan pihak penjajah lebih unggul dari pihak terjajah, manusia dengan ras-ras tertentu menjadi bawahan dari ras-ras lain karena tingkat kecerdasannya yang lebih tinggi. Spencer menerapkan doktrin ini dengan sungguh-sungguh pada masyarakat manusia, “Jika mereka benar-benar layak untuk hidup, mereka akan hidup, dan memang sebaiknya mereka harus hidup. Jika mereka benar-benar tidak layak untuk hidup, mereka akan mati, dan adalah yang terbaik jika mereka harus mati”

Graham Sumner, Professor Ilmu Politik dan Sosial di Universitas Yale, adalah juru bicara Darwinisme Sosial di Amerika. Dalam salah satu tulisannya, ia merangkum pandangannya tentang masyarakat manusia sebagai berikut:

…jika kita mengangkat seseorang ke atas kita harus memiliki tumpuan, yakni titik reaksi. Dalam masyarakat ini berarti bahwa untuk mengangkat seseorang ke atas maka kita harus mendorong seseorang yang lain ke bawah.

Richard Milner, editor senior pada Majalah Natural History terbitan American Museum of Natural History, New York, menulis:

Salah satu juru bicara terkemuka Darwinisme Sosial, William Graham Sumner dari Princeton, berpandangan bahwa kaum jutawan adalah individu-individu ‘paling cakap’ dalam masyarakat dan berhak mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka “secara alamiah telah terseleksi di arena kompetisi”

Sebagaimana telah kita ketahui dari pernyataan ini, para pendukung Darwinisme Sosial menggunakan teori evolusi Darwin sebagai pernyataan “ilmiah” bagi masyarakat kapitalis. Akibat dari hal ini, masyarakat telah kehilangan akhlak mulia yang diajarkan agama seperti saling membantu, kedermawanan, dan kerjasama. Sebaliknya, ajaran ini telah tergantikan oleh sifat mementingkan diri sendiri, kikir dan oportunisme. Menurut salah seorang perumus teori Darwinisme Sosial terkemuka, Profesor E.A. Ross asal Amerika, “Bantuan kemanusiaan yang dikelola kaum Kristiani sebagai sarana amal kebajikan telah memunculkan tempat berlindung di mana orang-orang dungu tumbuh dan berkembang biak.” Lagi menurut Ross, “Negara mengumpulkan orang bisu dan tuli di tempat-tempat penampungannya, dan ras manusia bisu dan tuli sedang dalam proses pembentukan.” Ross menolak semua ini karena dianggap mencegah kemajuan proses evolusi di alam dan berkata, “Jalan paling pintas untuk menjadikan dunia ini surga adalah dengan membiarkan mereka yang tergesa-gesa cenderung ingin ke neraka berjalan dalam langkah mereka sendiri.

Sebagaimana telah kita pahami, Darwinisme telah membangun dasar filosofis bagi semua sistem ekonomi kapitalis di dunia dan sistem politik yang terwarnai oleh sistem ekonomi ini.

Inilah alasan mengapa para pendukung utama Darwinisme Sosial adalah para pemilik modal. Kemenangan pihak kuat dengan menginjak-injak golongan lemah dan penerapan kebijakan ekonomi yang sangat jauh dari rasa kasih sayang, saling membantu dan mencintai tidak lagi menjadi perbuatan yang terkutuk. Sebab perilaku seperti ini dianggap sejalan dengan “penjelasan ilmiah” dan “hukum alam”.

Menurut Richard Hofstadter, penulis buku Social Darwinism in American Thought, yang juga seorang pengusaha besar kereta api di abad ke-19 Chauncey Depew mengatakan bahwa kalangan yang meraih ketenaran, keberuntungan dan kekuasaan di kota New York mewakili prinsip kelangsungan hidup bagi yang terkuat, melalui keahlian unggul mereka, kemampuan berpikir ke depan dan kemampuan beradaptasi.” Raja perkeretaapian yang lain, James J. Hill, mengatakan bahwa “keberuntungan perusahaan-perusahaan kereta api ditentukan oleh hukum kelangsungan hidup bagi yang terkuat”

Dalam biografinya, Andrew Carnegie, pemilik modal terkemuka lainnya di Amerika, menyatakan keyakinannya terhadap evolusi dengan mengatakan, “Saya telah menemukan kebenaran evolusi.” Di bagian lain ia menuliskan perkataan berikut ini:

(Hukum kompetisi) itu berlaku di sini; kita tidak dapat menghindarinya; teori yang dapat menggantikannya belum ditemukan; dan kendatipun hukum ini mungkin terkadang terasa berat bagi individu, namun ini yang terbaik bagi ras, sebab hal ini menjamin kelangsungan hidup bagi yang paling kuat di segala bidang (kehidupan). 

Dalam artikelnya Darwin’s Three Mistakes, ilmuwan evolusionis Kenneth J. Hsü, mengungkap pemikiran Darwinis kaum kapitalis Amerika terkemuka:

Darwinisme juga dijadikan pembenaran bagi individualisme kompetitif dan dampak alamiahnya di bidang ekonomi berupa kapitalisme bebas di Inggris dan di Amerika. Andrew Carnegie menulis bahwa “hukum kompetisi, secara sehat ataupun tidak, berlangsung dalam kehidupan ini; dan kita tidak dapat menghindarkannya”. Rockefeller melangkah lebih jauh ketika menyatakan bahwa “pertumbuhan bisnis besar hanyalah keberlangsungan hidup bagi yang terkuat; ini sekedar cara kerja hukum alam.”

Sungguh sangat menarik, di Amerika, lembaga-lembaga seperti Rockefeller Foundation dan the Carnegie Institution, yang didanai oleh kerajaan kapitalis seperti Rockefeller dan Carnegie, memberikan bantuan dana cukup besar untuk penelitian di bidang evolusi.

Sebagaimana telah dipahami dari uraian di atas, kapitalisme telah menyeret manusia untuk menyembah hanya uang dan kekuatan yang bersumber dari uang. Dengan sama sekali tidak mengindahkan nilai agama dan etika, masyarakat yang terpengaruh pemikiran evolusi akan lebih mengutamakan materi, dan menjadi semakin jauh dari perasaan seperti cinta, kasih sayang dan pengorbanan.

Akhlak kapitalis ini telah merajalela hampir di seluruh lapisan masyarakat sekarang. Akibatnya, kaum miskin, lemah dan tak berdaya tidak mendapatkan bantuan, perhatian ataupun perlindungan. Bahkan jika mereka menderita penyakit parah dan mematikan, mereka tidak mampu mendapatkan seseorang yang bersedia membantu mengobati mereka. Kaum papa terlantar begitu saja hingga sakit dan meninggal. Di banyak negara, seringkali dijumpai ketidakadilan dan perilaku tidak manusiawi seperti anak-anak di bawah umur yang dipaksa bekerja dan diterlantarkan tanpa mendapatkan hak mereka secara wajar.

Kini, alasan mengapa negara-negara seperti Etiopia menderita bencana kekeringan dan kelaparan adalah merajalelanya moral kapitalis ini. Kendatipun bantuan dan dukungan dari banyak negara sebenarnya mampu menyelamatkan penduduk yang kelaparan ini, mereka tetap saja dibiarkan kelaparan dan miskin begitu saja.

Ciri masyarakat kapitalis lainnya adalah tersebarnya kekayaan dengan tidak adil dan merata. Dalam masyarakat seperti ini, perbedaan antara si kaya dan si miskin semakin hari semakin melebar. Ketika si miskin semakin miskin, harta kekayaan si kaya semakin bertambah. Munculnya jutaan tuna wisma yang hidup terlantar dan sangat memprihatinkan, bahkan di Amerika yang merupakan negara paling maju di dunia, merupakan akibat dari moralitas kapitalis. Sudah pasti masyarakat Amerika cukup kaya untuk memberi bantuan dan perlindungan kepada semua orang ini, termasuk memberi mereka pekerjaan. Tetapi karena mentalitas yang berlaku bukanlah memberi kesempatan kaum miskin untuk bangkit, tapi untuk tumbuh berkembang dengan menginjak si miskin, maka jalan keluar tidak diberikan bagi kaum miskin ini. Inilah hasil penerapan ajaran Darwinisme Sosial yang menyatakan bahwa “Untuk tumbuh berkembang, diperlukan suatu batu loncatan bagi seseorang untuk berpijak”.

Di sini, perhatian hendaknya dialihkan pada satu hal penting: Sepanjang sejarah senantiasa terdapat masyarakat di mana golongan miskin dan lemah tertindas, di mana hanya hal-hal bersifat materi yang dianggap penting, dan di mana sifat mementingkan diri sendiri, mendahulukan kepentingan pribadi, dan berlaku curang dianggap satu-satunya jalan untuk menjadi kaya. Begitulah, di masa lalu pun terdapat orang-orang yang dalam hidupnya hanya menganggap materi sebagai sesuatu yang bernilai. Mereka berada jauh akhlak mulia. Namun, sejak paruh kedua abad ke-19, orang-orang berpandangan seperti ini memasuki zaman yang sungguh berbeda. Selama 150 tahun terakhir orang-orang dan masyarakat yang tidak memiliki hati nurani ini tidak lagi dikutuk dan dicemooh sebagaimana yang lain. Perilaku seperti ini pada akhirnya mulai diterima sebagai hukum alam. Dan di sinilah Darwinisme telah menjadi agama palsu yang membenarkan tindakan tak bermoral dan tanpa belas kasih.

Robert E. D. Clark menjelaskan keadaan tersebut sebagaimana berikut:

Evolusi, secara singkat, memberi kesempatan kepada pelaku kejahatan untuk berhenti menggunakan hati nuraninya. Perilaku paling tidak jujur terhadap pesaing kini dapat diterima secara akal; kejahatan dapat disebut sebagai kebaikan.”

Dan H. Enoch menulis dalam bukunya Evolution or Creation :

Prof J. Holmes berkata, “Darwinisme yang diterapkan secara konsekuen akan menilai kebaikan dalam hal kemampuan bertahan hidup”… Inilah hukum rimba di mana “yang kuat adalah yang benar”, dan yang terkuat tetap bertahan hidup. Apakah kecurangan dan kekejaman, ketakutan dan kebohongan, cara apapun yang dapat membantu seseorang untuk tetap hidup adalah baik dan benar bagi orang atau masyarakat tersebut.

Seperti telah kita pahami, keingkaran terhadap agama, dan Darwinisme yang menjadi sumber keingkaran ini, berada di balik semua orang, sistem dan ideologi yang membawa dunia kepada kehidupan yang penuh kegelisahan, kesulitan, penderitaan dan keputusasaan, khususnya dalam kurun 150 tahun terakhir. Mereka yang mengira dapat melindungi kepentingan mereka sendiri dengan mengutamakandiri pribadi dan berperilaku kasar tanpa belas kasih terhadap orang lain akibat pengingkaran terhadap agama, memandang Darwinisme sebagai juru selamat bagi mereka. Mereka mempercayai pendapat Darwin tentang “yang lemah musnah ketika yang kuat hidup” sebagai pedoman hidup.

Mereka tidak menyadari hal ini, namun orang-orang tersebut, yang berpikir bahwa mereka tengah merancang makar besar bagi seluruh umat manusia, sebenarnya sedang mempersiapkannya untuk diri mereka sendiri. Sebab, tak menjadi soal seberapa besar perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup, yang pasti terdapat satu-satunya Hakim, satu-satunya Tuhan dan satu-satunya Penguasa atas diri mereka sendiri, seluruh alam, segala yang mereka coba untuk memilikinya, para pemimpin yang mereka patuhi, atau ideologi dan “isme-isme” yang mereka yakini. Dialah Allah, satu-satunya Hakim dan Penguasa. Kekuasaan sementara dan berbagai kesempatan yang diberikan kepada manusia di dunia ini bukan mereka peroleh secara kasar melalui perjuangan sendiri, penindasan terhadap orang lain, atau kerja kerasnya sendiri. Kekayaan, kedudukan dan kekuasaan yang menurutnya diperoleh melalui usaha sendiri pada hakikatnya adalah pemberian Allah sebagai ujian baginya.Tidak menjadi masalah, seberapa jauh ia meyakini keberadaan dirinya di arena perjuangan, yakni tempat di mana yang lemah tersingkirkan dan yang kuat akan berkuasa. Yang pasti, setiap manusia menjalani hidup sebagai ujian yang telah ditentukan untuk dirinya. Allah menyatakan dalam sebuah ayat Alquran bahwa Dia menguji manusia dengan memberikan kesempatan hidup bagi mereka:Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di ntara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi, 18:7)

Mereka yang merasa telah mendapatkan segala yang mereka miliki sebagai hasil dari “perjuangan untuk bertahan hidup” akan benar-benar merasakan siksaan pedih yang tiada hentinya, dan kesedihan yang mendalam saat berhadapan langsung dengan kenyataan di akhirat dan menyadari betapa tak bermaknanya ajaran yang mereka ikuti:Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami engansebenarnya telah menperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (adzab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dzalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan mengimginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir terhadap kehidupan akhirat.” …. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.” (QS. Al A’raaf: 44-45,48)

Bagi mereka yang tidak terpengaruh oleh pemikiran Darwinis-kapitalis dan yang tidak melupakan tujuan keberadaan mereka di dunia serta keberadaan Allah, mereka ini memandang sesama manusia lain sebagai mahluk hidup yang Allah ciptakan. Sebagaimana Allah perintahkan, mereka selalu memperlakukan orang lain dengan baik, merasa kasihan dan terharu, dan berbuat apa saja yang mungkin untuk mengatasi kesulitan dan kegelisahan yang ia alami. Mereka selalu mengucapkan perkataan yang sopan, memelihara anak yatim, menolong yang sakit, serta melindungi dan menjaga mereka. Manusia seperti ini menghindari perbuatan dosa dan senantiasa menjalankan kewajiban mereka kepada Allah sebagaimana yang diajarkan Alquran. Merekalah yang paling mulia dalam pandangan Allah dikarenakan mereka tidak mementingkan kekayaan, ras, warna kulit, golongan, ideologi, atau filsafat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s