Bahayanya Darwinisme

Posted: 17 Juni 2009 in Umum
Tag:

Kesengsaraan dan Keputus-asaan

Menurut kaum Darwinis dan materialis, keseluruhan alam raya, termasuk manusia, terbentuk sebagai hasil peristiwa acak dan kebetulan. Berkembangnya pengaruh pandangan ini dalam masyarakat memunculkan sosok-sosok manusia tak bertanggung jawab yang sama sekali merasa tidak terikat oleh aturan apapun.

Seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup tidak akan berpikir, tidak mampu memberikan arahan bagi pengembangan diri mereka sendiri, tidak memiliki kepedulian, suka mencela, tidak berperasaan, tidak memiliki kepekaan, tidak mampu menggunakan hati nuraninya, dan tidak mengenal aturan atau batasan. Ia tidak memiliki sifat mulia atau akhlak terpuji. Dalam pandangannya yang menyimpang, dirinya adalah sosok hewan yang telah berkembang dan maju. Karenanya, dalam hidupnya di dunia ini, ia harus mencari makan dan berkembang biak sebagaimana makhluk hidup lainnya. Setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, ia hendaknya mencari hiburan dan kesenangan sepuas-puasnya, dan menunggu hingga saat kematian tiba. Begitulah, di sini kita pahami bahwa meskipun kebanyakan orang tidak memiliki pengetahuan tentang seluk-beluk Darwinisme, mereka menjalani kehidupan sebagai umat manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh Darwin.

Karena mereka menjalani kehidupan yang penuh dengan kekerasan, sebuah kehidupan yang suatu saat akan berakhir, maka orang-orang ini mudah terbawa oleh perasaan yang sangat menekan dan rasa keputusasaan. Keyakinan bahwa segalanya akan berakhir dengan kematian, dan tidak ada sesuatu pun setelah kematian, menjadikan hidup mereka tidak bahagia. Salah satu penyebab tindakan bunuh diri, gangguan jiwa, dan tekanan batin adalah pengaruh buruk sihir Darwinisme dalam diri manusia.

Richard Dawkins, salah seorang evolusionis terkemuka masa kini, mengungkap satu contoh kasus ini. Dawkins menyatakan manusia sebagai mesin gen, dan satu-satunya tujuan keberadaan manusia di dunia adalah untuk mewariskan gen ini ke generasi berikutnya. Dalam pandangan Dawkins, tidak ada tujuan lain bagi keberadaan manusia atau alam semesta. Seluruh jagat raya dan manusia terbentuk sebagai hasil peristiwa acak dan kebetulan.

Mereka yang terpedaya untuk meyakini pernyataan ini akan mudah merasa tertekan dan kehilangan harapan. Manusia yang mempercayai tujuan hidup hanyalah untuk mewariskan gen, bahwa segalanya berakhir dengan kematian dan tak satupun yang ia lakukan di dunia ini memiliki makna, dan yang menganggap persahabatan, cinta kasih, kebajikan, dan keindahan tidak memiliki arti, akan menganggap kehidupan ini begitu kejam dan tidak berguna. Mereka tidak akan mampu mendapatkan kebahagiaan dari apapun yang ada. Dalam kata pengantar bukunya Unweaving the Rainbow, Dawkins mengakui pengaruh negatif dan perasaan putus asa yang dialami oleh mereka yang telah membaca pernyataannya tentang tujuan hidup manusia:

Sebuah penerbitan asing yang menerbitkan buku pertama saya mengaku bahwa ia tidak dapat tidur selama tiga malam setelah membacanya, ia merasa sangat terganggu dengan apa yang ia anggap sebagai pesan yang dingin, dan mendorong rasa putus asa dalam buku tersebut. Beberapa orang yang lain bertanya kepada saya bagaimana saya masih sanggup bangun di pagi hari. Seorang guru dari sebuah negeri yang jauh menulis kepada saya dengan nada menyalahkan bahwa seorang murid datang kepadanya sambil menangis setelah membaca buku yang sama, karena buku tersebut telah mendorongnya beranggapan bahwa hidup ini hampa dan tidak memiliki tujuan. Ia menganjurkannya agar tidak memperlihatkan buku tersebut kepada teman-temannya karena khawatir akan mengotori mereka dengan pemikiran pesimisme nihilistik yang sama. Tuduhan serupa tentang kehampaan hidup, menyebarkan pesan yang gersang dan tidak membahagiakan, seringkali terlontar dalam ilmu pengetahuan secara umum, dan para ilmuwan mudah sekali menjadikan mereka terpengaruh. Rekan saya Peter Atkins memulai bukunya The Second Law (1984) dengan pernyataan serupa:

Kita adalah anak-anak yang hidup dalam dunia yang tidak memiliki tujuan, dan segalanya mengalami perubahan yang mengarah ke kerusakan. Pada dasarnya, yang ada hanyalah kerusakan dan kekacauan. Semua tujuan telah sirna; segala yang tertinggal hanyalah arah. Saat kita menyelami lebih jauh di kedalaman alam semesta, kita akan mendapati ketiadaan makna dan ini adalah sesuatu yang harus kita terima.135

Pendukung Darwinisme lainnya adalah Nietzshe, seorang filsuf Jerman yang menyatakan kehidupan ini tidak bermakna apapun, dan yang menjadikan orang-orang memandang hidup ini secara pesimis. Tesisnya tentang keunggulan ras memberikan dukungan filosofis bagi Hitler. Pemikiran yang ia kemukakan, yang dikenal sebagai “nihilisme” dan “nothingisme”, pada intinya adalah: Manusia hendaknya memiliki tujuan untuk hidup. Namun tujuan ini, menurut Nietzsche yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, tidak ada kaitannya dengan Tuhan yang telah menciptakan manusia. Karenanya, dalam pemahaman Nietzsche, manusia terus-menerus mencari tujuan hidup ini, akan tetapi tidak mampu menemukannya. Akibatnya, ia mengalami pesimisme dan keputusasaan.

Yang benar sesungguhnya adalah mencari tujuan di balik keberadaan atau penciptaan manusia. Namun, sebagaimana yang dikemukakan Nietzsche, jika seseorang sama sekali tidak mau menerima tujuan utama keberadaan dirinya, dan berusaha sendiri untuk mencari tujuan selain yang ada dalam batasan kebenaran ini, maka ia pasti tak akan mampu menemukannya. Dan perlu kami kemukakan di sini bahwa Nietzsche meninggal dalam keadaan gila.

Masyarakat yang melupakan penciptaan diri mereka oleh Tuhan, yang telah menciptakan untuk sebuah tujuan, akan benar-benar mengalami kehancuran moral dan spiritual. Kekayaan, kemakmuran, dan kemajuan ekonomi tidak akan memberikan kedamaian dan rasa aman bagi orang-orang ini. Manusia yang tidak mau menuruti akal sehat dan suara hati nuraninya, yang merasa tidak terikat oleh aturan apapun dan tidak memiliki tujuan hidup, akan menderita kesedihan dan keputusasaan. Mereka yang beranggapan bahwa kehidupan mereka di dunia akan berakhir dengan kematian, akan mengalami kesedihan, kesengsaraan, dan keputusasaan saat mereka menjalani kehidupan sesungguhnya setelah kematiannya.

Sebaliknya orang yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir memahami tujuan penting dari kehidupannya. Ia selalu merasakan kebahagiaan dan berharap akan ampunan, kasih sayang Allah beserta surga-Nya. Apapun yang terjadi, ia akan senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Karenanya, ia tidak pernah terpedaya untuk berprasangka buruk dan berputus asa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s