Sikap yang Ditunjukkan Orang yang Beriman

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

Sempurna ketika Nikmat Dianugerahkan kepadanya

Sebagian besar orang – dalam kata-kata Qur’an – “berbangga” ketika Allah menyirami mereka dengan nikmat-nikmat setelah sejumlah tekanan yang mereka lalui.  Melupakan Pemberi semua nikmat ini, mereka segera memalingkan wajah mereka.  Akan tetapi, Allah berfirman, “…  Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS Al-Qashash, 28:  76)

Mereka yang sungguh beriman adalah mereka yang tidak pernah berbangga pada nikmat yang mereka nikmati dan yang sadar bahwa semua nikmat itu dari Tuhan mereka.  Mereka tak pernah gagal mempertimbangkan kenyataan bahwa mereka membutuhkan Allah pada masa-masa sejahtera dan tenteram maupun masa-masa susah.  Bahwa Allah dapat menarik kembali nikmatNya setiap saat Dia kehendaki dan membiarkan mereka kekurangan merupakan kenyataan yang tidak pernah mereka lupakan.  Dengan pola pikir ini, dalam kekurangan atau kelapangan, dalam kemudahan atau kesulitan, mereka selalu menganut sikap bersyukur kepada Allah.

Mereka yang beriman sempurna menakuti hukuman Hari yang mengerikan.  Mereka mengetahui Allah akan menghukum orang-orang yang tak bersyukur kepadaNya.  Bahwa Allah akan menghukum orang-orang yang tak bersyukur dikatakan dalam sebuah ayat:

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka.  Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.  (QS Saba’, 34: 17)

Sama seperti kesulitan, nikmat juga bagian dari cobaan ke dalam mana Allah tempatkan hamba-hambaNya di dunia ini.  Sebagaimana Nabi Sulaiman AS ungkapkan:

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmatNya.  Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia!”  (QS Al-Naml, 27: 40)

Sikap yang diambil mukmin beriman sempurna terhadap nikmat-nikmat adalah bersegera mencari perlindungan Allah dan merasa bersyukur kepadaNya, sadar bahwa semua itu cobaan.  Dan lalu ia mengubah nikmat-nikmat ini menjadi amal kebajikan demi meraih rida Allah.

Akan tetapi, seseorang perlu mengingat bahwa nikmat-nikmat yang Allah timbunkan pada hamba-hambaNya tidak terbatas hanya lahiriah.  Keimanan, kecantikan, kebijaksanaan, kepiawaian menilai, dan kesehatan yang baik merupakan juga nikmat-nikmat besar atas mana mukmin harus bersyukur.  Dalam Qur’an, Allah menarik perhatian kita pada tak berhingga nikmat yang diterima manusia: “Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya.  Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya ….  “ (QS Ibrahim, 14: 34)

Pengkajian Qur’an dan kehidupan para nabi menyingkapkan bahwa kekayaan dan kekuasaan yang dianugerahkan kepada mereka tidak pernah menyimpangkan mereka dari menerapkan keadilan atau menunjukkan kesempurnaan akhlak.  Mereka mempertahankan kerendahhatian mereka di hadapan Allah dalam semua keadaan.  Dalam Qur’an, Allah memuji kebijaksanaan akhlak mulia hamba-hambaNya ini dan menetapkan mereka sebagai:


Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah kembali segala urusan.  (QS Al-Hajj, 22: 41)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s