Rendah Hati

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“…  Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepadaNya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”  (QS Al-Hajj, 22: 34)

Pengertian Qur’an tentang kerendahhatian adalah pengakuan kedudukan seseorang sebagai hamba Allah yang tak sempurna dan menjalankan seluruh kehidupannya dalam penerimaan kenyataan ini.  Sikap sebaliknya tak terpikirkan oleh orang yang dapat menghargai Penciptanya.  Dialah Yang menciptakan manusia, Yang memberi dan mengambil jiwanya, dan Yang mengatur semua urusan.  Tiada tuhan melainkan Dia, Dia Maha Pengasih, Paling Pengasih.  Dia meliputi segala sesuatu, Dia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, Dia Yang menciptakan takdir, Dia Yang mendengar, melihat, dan mengetahui segala sesuatu.  Allah tinggi di atas segalanya.  Dia tidak membutuhkan apa pun.  Dia tidak alpa maupun lupa.

Di sisi lain, manusia adalah makhluk tak sempurna yang tidak mampu menciptakan apa pun.  Lebih jauh, ia sendiri diciptakan dan tidak mengetahui apa pun selain daripada yang telah diajarkan Allah kepadanya.  Setiap saat ia bergantung pada ribuan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.  Bahkan, jika satu saja dari nikmat-nikmat ini hilang, ia menjadi lemah dan putus asa.  Ia makhluk tak sempurna yang terus-menerus memerlukan nikmat-nikmat Allah agar bertahan hidup.

Tidak rendah hati itu melawan sifat paling alamiah manusia yang lemah dan tak sempurna di hadapan Allah.  Karena itu, orang yang beriman sempurna tidak pernah gagal melihat kelemahan dirinya.  Kesadaran ini yang ia bangun melalui perenungan, adalah apa yang mengilhaminya dengan semangat rendah hati, dan ini mewujud di raut wajah, penampilan, pembicaraan, maupun di setiap sifat bawaannya.  Misalnya, hanya orang yang rendah hati dapat menerima peringatan.  Ia senang mendengar kecaman atau nasehat apa pun yang datang dari mukmin.  Sungguh, orang yang beriman sempurna bahkan tidak berkeberatan atas kecaman tentang sesuatu yang ia paling seksama; ia menerima nasehat dan berjuang demi perbaikan tindakan-tindakannya.  Ketika diberitahu ia salah tentang sesuatu padahal benar, ia menerima kecaman ini dengan kedewasaan, sebagaimana dalam contoh Nabi Yusuf AS:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku….  (QS Yusuf, 12: 53)

Karena pemahaman akan kerendahhatian semacam itu menghindarkannya dari merasa puas diri dan akibatnya membanggakan kecerdasan, ia menarik manfaat dari semua peringatan, nasehat, dan kecaman.  Orang yang, gagal mengingat ketaksempurnaannya, membanggakan kecerdasannya dan dengan angkuh berpaling dari Allah, menganut sikap yang bertentangan dengan sifat paling alamiahnya.  Allah menarik perhatian ke kenyataan bahwa inilah hasrat yang tak tergapai:  “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya…” (QS Al-Mukmin, 40: 56)  Allah tidak mencintai siapa pun yang membanggakan diri:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.  (QS Luqman, 31: 18)

Nabi Muhammad SAW juga menyarankan mukmin untuk menunjukkan kerendahhatian satu sama lain:

“(Allah) telah menyingkapkan kepadaku bahwa kalian harus menerapkan kerendahhatian sehingga tidak saling menindas.”  (Riyadhush Shalihin)

Si sombong dan si pembangga diri telah melupakan penciptaan serta kelemahan lahiriah dan kecerdasan mereka di hadapan Allah, yang merupakan sifat-sifat iblis sebagaimana dijelaskan Qur’an.  Allah menciptakan Adam dan memerintahkan semua malaikatNya bersujud di hadapannya.  Menganggap dirinya lebih unggul daripada manusia, iblis memberontak terhadap Allah dan tidak mengindahkan perintah ini.  Sikap jahat iblis dijelaskan dalam Qur’an:

(Ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.  Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”  Lalu, seluruh malaikat-malaikat itu bersujud, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan dia termasuk orang-orang yang kafir.  Allah berfirman: “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tanganKu?  Apakah kamu menyombongkan diri, ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?“  Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”  Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari pembalasan.”  (QS Shad, 38: 71-78)

Inilah keadaan mereka yang memperlakukan manusia dengan keangkuhan karena berpaling dari Allah.  Yakin setinggi-tingginya akan kemampuan diri sendiri, mereka tidak menghargai pendapat orang lain.  Mereka bersikeras dengan cara berpikir mereka sendiri, yang merupakan kecenderungan yang menyebabkan mereka terseret menjauh dari nilai-nilai Qur’an.  Lebih penting lagi, mereka yang gagal mengenali kelemahan diri di hadapan Allah akan dikirim ke neraka:

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.  (QS Al-A’raf, 7: 36)

Di sisi lain, mereka yang beriman sempurna akan dibalas dengan surga karena menghindari sikap tercela seperti itu:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.  Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  (QS Al-Qashash, 28: 83)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s