Pengorbanan Diri Mereka yang Beriman

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

Hanya menakuti Allah dan beriman kepada hari kemudian yang memandu manusia untuk berkorban tanpa mengharapkan hadiah apa pun sebagai balasannya; mereka yang takut kepada Tuhan mengharapkan pahala hanya dari Allah.  Karena alasan ini, tidak seperti orang-orang yang melalaikan nilai-nilai agama, mereka yang beriman sempurna tidak membuat pembedaan di antara manusia atau masalah selagi berkorban.

Akan tetapi, dalam masyarakat jahiliah (diliputi kebodohan), kebanyakan orang tidak memiliki pemahaman halus tentang pengorbanan.  Alasan utamanya adalah sifat mementingkan diri sendiri, sebuah sifat bawaan yang berhulu pada kejauhan dari nilai-nilai Islam.  Dalam masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agama, setiap orang utamanya atau hanya memperhatikan diri sendiri dan benar-benar mengabaikan kebutuhan dan keutamaan orang lain.

Sikap orang yang beriman sempurna lagi-lagi sepenuhnya berbed; ia, di atas segalanya, adalah seseorang yang telah menyucikan diri dari hasrat nafsu-nafsu rendah semacam itu.  Sungguh, hanya mukmin yang telah mengatasi hasrat yang tak pernah puas dalam dirinya dan telah berhasil mengendalikannya dapat berkorban dan bertimbang rasa dalam pengertian sebenarnyanya.  Sungguh, keimanan sempurna mendorong kesempurnaan akhlak bahwa mukmin menganggap kepentingan dan kebutuhan saudara-saudaranya lebih utama daripada kepentingan dan kebutuhan diri sendiri.  Inilah keimanan sempurna, kepasrahan sejati, dan nurani sejati.  Qur’an memberikan contoh berikut:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.  Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.  Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.  (QS Al-Hasyr, 59: 9)

Sebagaimana dikatakan ayat di atas, bahkan jika orang yang beriman sempurna sedang membutuhkan, ia lebih suka memenuhi kebutuhan dan keutamaan saudara-saudaranya.  Lebih jauh lagi, pengutamaan yang mulia ini tidak terbatas pada kejadian-kejadian tertentu; sifat ini timbul dari sikap yang menyaput seluruh kehidupannya.  Bahkan jika ia lapar, kurang tidur dan kelelahan, harfiahnya dalam keadaan yang buruk secara lahiriah, ia mendahulukan bagi kebutuhan–kebutuhan mukmin lain dan merasakan tiada kesulitan dalam mengenyampingkan kebutuhannya sendiri.  Sambil melakukan hal ini, ia tidak pernah merasakan ketertekanan.  Lebih-lebih, ia seksama menghindari melakukan sesuatu demi membuat pihak lain merasa berutang budi.

Ketika mereka yang tidak hidup dengan nilai-nilai agama membuat pengorbanan wajib, mereka pasti membuat sasaran “kedermawanan” merasakan ketakpuasan mereka.  Mereka menampakkan amarah dan ketaksabaran yang mereka rasakan jauh di dalam dengan pandangan gusar atau sikap masam.  Akan tetapi, orang beriman sejati tidak pernah merendahkan diri untuk menunjukkan sikap masam demi membuat pihak lain mencatat pengorbanannya.  Sebaliknya, ia membawakan diri paling mulia dan menyerahkan hak-haknya dengan sukarela, sebab pengetahuan Allah akan pengorbanan itu sudah cukup baginya.  Karena alasan ini, pada sebagian besar kesempatan, pihak lain tidak pernah merasakan bahwa sebuah pengorbanan telah dibuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s