Pemahaman akan Rasa Sayang

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“… termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”  (QS Al-Balad, 90: 17)

Manusia, secara alamiah, cenderung merasakan kegembiraan dari hidup dengan nilai-nilai Qur’an dan merasa nyaman dengan kumpulan akhlak ini: “Maka hadapkanlah wajahmu lurus kepada agama (Allah); (tetaplah) atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…” (QS Al-Rum, 30: 30)  Karena hal ini, orang yang beriman sempurna biasanya memiliki semacam rasa kasih dan sayang yang dihimbaukan Qur’an.  Ketika mukmin mematuhi nilai-nilai Qur’an, Dia mewujudkan nama-nama indahNya, ar-Rauf (Maha Ramah) dan ar-Rahman (Maha Pengasih), pada mereka.  Allah Maha Pengasih dari pengasih, dan Maha Penyayang.  Allah menarik perhatian kepada sifat kasih dan sayangNya yang tak berhingga:

… Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.  (QS Al-Taubah, 9: 117)

… Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang “.  (QS Yusuf, 12: 92)

… Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.  (QS Al-Hajj, 22: 65)

Rasulullah SAW melukiskan rasa sayang Allah kepada mukmin dengan cara ini:

“Allah menunjukkan kasih sayang hanya kepada mereka di antara hamba-hambanya yang penyayang.”  (Bukhari, Muslim)

Karena memiliki kesempurnaan akhlak ini, mereka yang beriman sempurna itu penyayang dan pengasih kepada manusia.  Namun, pemahaman rasa sayang mereka sangat berbeda dengan pengertian yang meluas di masyarakat.  Karena merupakan wujud dari rasa sayang Allah, rasa sayang mereka mengambi bentuk yang layak mendapatkan rida Allah dan sesuai dengan Qur’an.  Mereka mengetahui bahwa pemahaman rasa sayang yang dibentuk oleh syarat tatanan yang tidak Qur’ani akan menjadi rasa sayang yang “jahat”.

Misalnya, selagi menolong orang lain, apakah pertolongan ini demi tujuan kebajikan atau maksud yang tidak menyenangkan Allah menjadi syarat utama bagi orang yang beriman sempurna.  Jika pertolongan ini diminta demi maksud-maksud baik, maka rasa sayang orang yang beriman sempurna akan menggerakkan mereka memberikan segala macam bantuan.  Namun, tidak pernah ia mau membantu seseorang yang akan memanfaatkan pertolongannya untuk melaksanakan perbuatan haram.  Inilah rasa sayang sejati yang Allah ridai.  Mencegah seseorang dari kesalahan dan memandunya ke jalan yang lurus merupakan kebajikan dan rasa sayang sejati, untuk mana bakal pendosa akan sangat bersyukur di hari kemudian, walaupun mungkin ia gagal meresapi nilai pentingnya di dunia ini.

Mukmin tidak menunjukkan rasa kasih dan sayang kepada mereka yang telah menjadikan menentang nilai-nilai agama sasaran utama mereka.  Syarat yang diajukan Qur’an tentang hal ini adalah sebagai berikut:

Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…  (QS Al-Fath, 48: 29)

Mukmin hanya menunjukkan rasa sayang kepada “mukmin”, hamba-hamba Allah yang setia.  Di sisi lain, sikap mereka kepada kafirin sangat tegas dan yakin.  Mereka tidak menunjukkan kasih sayang, sebab inilah jenis “rasa sayang yang jahat” tersebut di atas.  Sikap yang diambil orang-orang seperti mereka kepada mukmin diperjelas dalam ayat: “Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (QS Al-Mumtahanah, 60: 2)  Karena itu, jelaslah tidak bijaksana untuk memperlihatkan rasa sayang kepada orang yang menyimpan kebencian mendalam kepada mukmin dan mencari kesempatan memamerkannya.

Di samping ini, kasih dan sayang yang ditunjukkan mereka yang beriman kepada mukmin lainnya sungguh-sungguh teladan dan unik.  Rasa sayang ini diiringi oleh sifat-sifat kemanusiaan seperti pengorbanan, timbang rasa, pemaaf, pengasih, dan penghormatan.  Mereka yang beriman sempurna mengetahui kebutuhan-kebutuhan lahiriah dan batiniah mukmin lain bahkan sebelum mukmin itu mengungkapkannya, dan tidak membuang waktu demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu karena kasih sayang mendalam yang mereka rasakan kepada mukmin tersebut.  Sama dengan setiap masalah lain, Nabi kita SAW memberikan teladan terbaik dengan kesempurnaan akhlak yang ditunjukkannya dalam hal rasa kasih dan sayang.  Rasa kasih dan sayang yang dirasakan Nabi kita SAW terhadap Muslim dijelaskan dalam ayat berikut:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.  (QS Al-Taubah, 9: 128)

Sebagaimana terlihat dalam ayat di atas, kasih dan sayang yang Nabi kita SAW rasakan bagi mukmin begitu besar sehingga penderitaan mereka amat menekannya.  Inilah pemahaman rasa sayang bagi mereka yang beriman sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s