Nabi Nuh AS

Posted: 15 Juni 2009 in Nabi-nabi

Nuh AS, seperti halnya semua nabi lainnya, mengajak umatnya ke jalan yang benar. Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus beriman kepada Allah, bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu, bahwa mereka tidak boleh menyembah selain Allah, atau mereka akan dihukum. Kisah ini difirmankan di dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Dan sessungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ”Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kita, agar kita tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku khawatir kita akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan.” (QS Hud: 25-26)

Meski Nuh telah memperingatkan, hanya beberapa orang yang percaya kepada Nuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nuh membangun sebuah bahtera besar. Allah memberitahu Nuh bahwa orang-orang beriman akan diselamatkan di dalam bahtera itu.

Dibangunnya bahtera oleh Nuh, meskipun tidak ada laut di tempat itu, membuat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah merasa heran. Oleh karena itu, mereka menertawakan Nuh. Orang-orang yang tidak beriman tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka, sedangkan Allah mengetahuinya. Ketika bahtera tersebut telah dibangun, hujan lebat pun turun selama berhari-hari dan air pun membanjiri tanah itu, menenggelamkan segalanya. Bencana besar ini juga telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Di Timur Tengah, banyak bukti terungkap yang menunjukkan bahwa gunung-gunung yang ada sekarang pernah tertutup oleh air.

Di televisi, kamu mungkin pernah melihat banyaknya bencana banjir di berbagai tempat di dunia. Dalam menghadapi bencana seperti itu, orang-orang pada umumnya naik ke atas atap untuk mencari pertolongan. Dalam keadaan ini, hanya helikopter atau bahteralah yang bisa menyelamatkan mereka. Namun, pada masa Nabi Nuh AS, hanya Allah yang mampu menyelamatkan mereka. Bencana ini, yang disebut dengan “Banjir Nuh”, sebenarnya merupakan siksa yang khusus ditimpakan oleh Allah untuk menghukum orang-orang yang tidak beriman kepada Nuh. Karena mereka mengharapkan pertolongan dari selain Allah, tidak seorang pun dari orang-orang ingkar itu yang naik ke atas Bahtera Nuh. Mereka memang selalu menutup telinganya dari peringatan Allah. Mereka tidak pernah percaya kepada Allah, mereka hanya percaya kepada makhluk Allah.

Kecuali atas kehendak Allah, tidak ada yang dapat melindungi kita. Orang-orang yang mengingkari kenyataan ini pada saat itu, mendaki gunung-gunung atau berlari ke dataran tinggi, namun cara itu masih tidak bisa menyelamatkan mereka dari tenggelam.

Sangat sedikit orang yang beriman kepada Allah dan mempercayai-Nya, yang mengantar mereka menaiki bahtera bersama Nuh dan selamat. Sesuai perintah Allah, mereka membawa sepasang dari setiap jenis binatang bersama mereka. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Sebelum mereka telah mendustakan (pula) Kaum Nuh. Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan,”Dia orang yang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.”

Maka Nuh mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).”

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.

Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Alangkah dasyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (QS Al-Qamar: 9-16)

All the prophets who were sent to their individual communities communicated basically the same teaching and summoned their people to worship Allah and to obey the prophets. In return for their services, they asked for no wages since those people sent by Allah to communicate His Words do not do so. They render their services only because they love Allah and fear Him. Meanwhile, they face many difficulties: Their people slander them and subject them to cruel treatment. Furthermore, some peoples plotted to kill the prophets sent to them, and some even dared to do so. Yet because the prophets feared only Allah and no one else, no hardship daunted them. They never forgot that Allah would reward them bountifully both in this world and beyond.

Semua nabi yang diutus kepada masyarakat tertentu pada dasarnya menyampaikan ajaran yang sama dan mengajak umat mereka untuk menyembah Allah dan menghormati para nabi. Atas peringatan yang mereka sampaikan, para nabi itu tidak mengharapkan upah. Semua nabi yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya tidak pernah melakukan hal itu. Mereka beribadah karena mereka mencintai Allah dan takut kepada-Nya. Padahal, mereka menghadapi banyak kesulitan: Umat mereka memfitnah mereka dan memperlakukan mereka dengan kejam. Bahkan, ada yang berencana membunuh para nabi yang diutus pada mereka, dan bahkan ada pula yang berani membunuh mereka. Akan tetapi, karena para nabi hanya takut kepada Allah, dan tidak takut pada yang lain, tidak ada kekerasan yang membuat mereka gentar. Mereka tidak pernah lupa bahwa Allah akan memberi mereka pahala yang berlimpah di dunia maupun di akhirat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s