Menyerukan Kebajikan

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”  (QS Al-Imran, 3: 104)

Mereka yang beriman sempurna seksama menaati perintah Allah ini.  Mereka “menyerukan kebajikan dan mencegah kejahatan” sepanjang hidup.  Qur’an memberikan kita makna cermat dari “menyerukan kebajikan dan mencegah kejahatan”.

“Menyerukan kebajikan” menurut pengertian Qur’an adalah mengajarkan seseorang sifat-sifat Allah, dan membuatnya mengerti bahwa ia perlu mencintai Allah dan menakutiNya.  Ini supaya ia mengerti bahwa hari kemudian itu kebenaran mutlak dan bahwa ia akan dinilai sesuai dengan Qur’an.  Hal ini mendorongnya untuk mendengar nuraninya dan menjadi mukmin yang tulus, berbulat tekad, penuh cinta, penuh hormat, pengasih, penyayang, penenggang, pemaaf dan suka berkorban.  Singkatnya, “menyerukan kebajikan” adalah mendesak orang lain agar sungguh-sungguh hidup dengan nilai-nilai Qur’an.  Inilah kebajikan sejati.  Hal ini karena desakan semacam itu akan memastikan kehidupan terbaik di dunia ini dan sesudahnya, dan menyelamatkan bakal pendosa dari siksa abadi di neraka.

Di sisi lain, “mencegah kejahatan” adalah menangkal orang dari mengikuti Setan, membuatnya menyucikan diri dari hasrat mementingkan diri, kepura-puraan, kemunafikan, kesombongan, keangkuhan terhadap Allah, ketakjujuran, dan menganut sikap yang akan tidak menyenangkan Allah.  Inilah bagaimana mereka yang beriman sempurna menghimbau satu sama lain untuk menerima kebenaran.  Allah mengartikan orang-orang seperti mereka dalam Qur’an sebagai berikut:

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.  (QS Al-Imran, 3: 114)

Sebagai balasan atas upaya mereka, mereka tidak mengharapkan hadiah apa pun.  Mereka bermaksud hanya menaati perintah-perintah Qur’an dan karena itu meraih kesukaan Tuhan kita.  Sepanjang sejarah, utusan-utusan Allah memperingatkan kaumnya sebagaimana yang dilakukan Nabi Nuh AS:

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.  (QS Al-Syu’ara, 26: 109)

Contoh lain yang disebutkan dalam Qur’an adalah parkataan Nabi Musa AS kepada Firaun.  Allah memerintahkan:

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yakni, Lembah Thuwa: “Pergilah kamu kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.  Dan katakan (kepada Firaun): ‘Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kupimpin kejalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadaNya.’”  Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.  Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai.  Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).  Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata: ”Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.  Maka, Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.  Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).  (QS Al-Nazi’at, 79: 16-26)

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, Nabi Musa AS menghimbau Firaun agar beriman kepada Allah, namun ia langsung menolak dan memberontak terhadap Allah.  Sikap tercela Firaun ini melepaskan Musa AS dari tanggung jawabnya terhadap Firaun, sebab ia hanya bertanggung jawab menyerukan kebajikan dan mencegah kejahatan.  Allah-lah yang memandu hati manusia ke jalan yang lurus atau menyesatkannya.

Akan tetapi, tugas seorang mukmin untuk menyerukan kebajikan tidak terbatas hanya pada menghimbau orang ke jalan yang lurus.  Mereka juga menyerukan mukmin lain untuk mendesak mereka meraih pemahaman lebih dalam akan nilai-nilai Qur’an, menyucikan diri dari kesalahan-kesalahan, dan membuat mereka memperlihatkan kesempurnaan akhlak.  Seorang mukmin menyerukan kebajikan kepada saudara-saudaranya dan melarang kejahatan.  Ia ingin mereka meraih rida Allah dan diganjar dengan ditempatkan setinggi-tingginya di surga.

Mereka yang beriman sempurna tidak menyampaikan akhlak agama hanya melalui kata-kata; cara mereka membawakan diri dan seluruh kehidupan mereka juga wujud dari akhlak ini.  Bukan hanya berbicara tentang makna persahabatan, kebulatan tekad, atau ketulusan, mereka sendiri memperlihatkan ketulusan dan kebulatan tekad dan karena itu menjadi teladan untuk diikuti.  Perilaku mereka menyampaikan makna ketulusan jauh lebih baik daripada kata-kata.  Hal ini berlaku bagi semua sifat-sifat akhlak yang disebutkan dalam Qur’an.  Orang yang beriman sempurna menunjukkan keikhlasan berkorban, kerendahhatian, pengampun, keadilan, penyayang, kejujuran – singkatnya, apa pun yang berkaitan dengan kesempurnaan akhlak, dengan hidup menerapkan nilai-nilai ini.  Inilah apa yang paling berkesan bagi orang lain.  Sungguh, orang yang bergembar-gembor tentang pentingnya pengorbanan diri, namun berkali-kali bertindak mementingkan diri, tidak akan pernah amanah atau nampak tulus di mata orang lain.

Jelaslah bahwa ia yang tulus hidup dengan nilai-nilai yang diucapkannya pasti akan menarik nurani orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s