Mau Hidup sehat dengan zakat dan sadaqah???

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

Mungkin judul tersebut  terasa aneh. Apa hubungan antara hidup sehat dengan zakat dan sadaqah? Bukankah kalau ingin hidup sehat dengan makan dan olah raga teratur? Apalagi secara kasat mata, ketika seseorang membayar zakat dan sadaqah, justru hartanya menjadi berkurang?

Yang jelas, Rasulullah SAW menegaskan: ”Bentengilah hartamu dengan membayar zakat, obatilah penyakitmu dengan sadaqah, dan bersiaplah menghadapi cobaan dengan berdo’a”. (HR.al-Thabrany).

Secara rasional, orang yang disiplin dan dengan senang hati membayar zakat dan sadaqah, hatinya telah terbebas dari ancaman dan derita penyakit bakhil dan kikir, yang menguras energi tersendiri. Orang yang bakhil, hidupnya dikuasai oleh harta bendanya. Dia diperbudak oleh hartanya, karena yang ada dalam hati dan pikirannya adalah, bagaimana caranya menumpuk kekayaan dan menyimpannya, agar bertambah kaya.

Pemikiran demikian secara diamdiam, perlahan, namun pasti, akan menggerogoti perasaan dan hatinya, dan bahkan mungkin merasa tidak adil terhadap kewajiban zakat yang dibebankan agama. Betapa tidak, mencari rizqi yang haram saja susah, apalagi mendapatkan yang halal. Lha kok setelah rizqi itu didapatkan, harus dikeluarkan 2,5 persen untuk diberikan kepada orang lain yang berhak menerimanya.

QS. Al-Taubah: 103 memerintahkan kepada Rasulullah SAW (dan umatnya) untuk mengambil (secara proaktif) sebagian dari harta penghasilan seseorang (yang masih kotor) guna membayar zakat. Fungsinya untuk membersihkan dan mensucikan harta tersebut. Jika ayat ini dikaitkan dengan sabda Nabi SAW di atas, yang diperintahkan adalah bentengilah hartamu. Benteng lebih dari sekedar pagar, tetapi dengan benteng tujuannya untuk melindungi dan mengamankan supaya harta yang sudah dizakati tersebut, benar-benar aman secara lahiriyah dan batiniyah.

Lagi pula ketika harta yang dikonsumsi itu sudah dizakati, berarti benarbenar sudah bersih dan suci dari halhal yang dan karena itu menyehatkan. Karena itu zakat secara bahasa artinya berkah, berkembang (al-nama’), dan meningkat.

Demikian juga dengan sadaqah. Sadaqah merupakan obat bagi orang yang sakit. Karena pangkal sakit adalah dari penyakit hati. Orang yang kikir, biasanya dibarengi dengan hasud (dengki) dan sombong (takabbur). Dalam kata-kata bijak, sadaqah dapat mencegah terjadinya cobaan (albala’).

Sehat sosial

Dalam Alquran sudah diatur bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat ada 8 (delapan) kelompok (ashnaf tsamaniyah), seperti dijelaskan dalam QS al-Taubah: 60 sebagai berikut: ”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Taubah: 60).

Apabila mereka ini tidak diperhatikan dengan baik dan seksama, bukan tidak mungkin akan menjadi permasalahan sosial. Karena itu dengan zakat, diharapkan mereka tidak lagi menghadapi masalah, tetapi problem yang dihadapi mereka telah teratasi.

Di dalam pendistribusian zakat, ‘Umar bin al-Khattab berpendapat bisa saja diberikan kepada salah seorang mustahiq, bisa juga dibagi rata. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah, bahwa tujuan zakat adalah untuk merubah mereka, dari sebagai penerima zakat menjadi pembayar zakat (muzakki) (Rawas Qal’ah, t.th:368).

Ini adalah bentuk penyelesaian secara tuntas, agar mereka dapat secara bertahap dientaskan dari ketidakberdayaan ekonomi dan sosial. Orang yang tidak berdaya secara ekonomi, maka implikasinya adalah ketidakberdayaan sosial. Aksesnya lemah dan berkurang, dan pasti kemandiriannya juga sangat kecil.

Kalaupun selama ini yang dipraktikkan dalam masyarakat, pembagian zakat masih sering lebih diorientasikan pada pembagian konsumtif, sehingga begitu zakat dibagi, pihak yang menerima hanya dapat memanfaatkannya untuk kepentingan konsumtif dan sesaat. Maka berarti tujuan pokok zakat tersebut tidak pernah tercapai, karena pola pembagiannya yang kurang tepat.

Karen itu, pendistribusian zakat secara konsumtif perlu ditinjau dan dipertimbangkan kembali. Menurut hemat saya, pembagian zakat secara konsumtif boleh jadi masih diperlukan, namun tidak semua harta zakat yang dihimpun dari para aghniya’ dihabiskan dan dibagi secara konsumtif. Maksudnya, ada sebagian lain yang mestinya lebih besar, dikelola dan didistribusikan secara produktif, untuk memberikan modal kepada para mustahiq.

Dengan ”modal” tersebut, mereka dapat membuka usaha dan diharapkan mereka akan dapat memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, sehingga bisa memenuhi kebutuhan mereka dalam waktu yang lebih lama, atau bahkan bisa membayar zakat.

Para mustahik perlu diberi motivasi yang kuat agar memiliki kesungguhan untuk merubah dirinya dari mustahiq menjadi muzakki. Mereka yang memiliki ”kesungguhan” untuk merubah dirinya dengan cara ”sanggup” melakukan kegiatan usaha, dipertimbangkan untuk menerima harta zakat yang cukup untuk usaha. Sementara yang ”tidak sanggup” melakukan kegiatan usaha tidak perlu diberi bagian zakat yang besar, tetapi pola lama dalam bentuk konsumtif.

Syukur lagi, apabila dalam upaya pemberdayaan usaha mereka, pengelola baik BAZ atau LAZ, menyediakan pendampingan manajemen kepada para mustahiq tersebut, agar tujuan zakat untuk memberdayakan ekonomi para mustahiq dapat direalisasikan. Karena itulah, Alquran telah menunjukkan suatu badan atau lembaga yang bertugas mengurus, menghimpun, mendistribusikan, melaporkan, dan mempertanggungjawabkan pengelolaan zakat tersebut, yang bernama ’amil.

Dengan demikian, jika zakat dapat dikelola secara professional, mulai dari penghimpunan data muzakki, pengumpulan zakat, pendistribusian zakat kepada mustahiq tepat dan proporsional, maka dapat diharapkan masyarakat yang sehat secara sosial. Semoga bermanfaat, Allah a’lam bi al-shawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s