Kesabaran Mereka yang Beriman Sempurna

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

Bagi orang yang beriman sempurna, cakupan kesabaran tidak terbatas pada menanggung kesusahan dan masalah dengan ketenangan.  Menurut ayat: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu…” (QS Al-Imran, 3: 200), sepanjang hidup ia menunjukkan tekad tak goyah untuk seksama memenuhi semua perintah Qur’an, menghindari yang dilarang, menunjukkan kesempurnaan akhlak dalam setiap keadaan, tanpa menjadi cemas atau takut.  Pendeknya, ia berbulat tekad memperlihatkan kesabaran dan sikap baik sebagaimana disarankan agama.  Hal itu karena seseorang dapat mengembangkan sifat bawaan mulia ini hanya jika ia melakukan upaya yang tekun.  Mereka yang beriman sempurnalah yang menunjukkan kesabaran selagi berupaya demikian.  Sebagaimana diberitahukan Nabi Muhammad SAW kepada Muslim dalam hadis berikut, mereka mengetahui bahwa kesabaran itu hadiah untuk mereka dari Allah:

“Tak seorang pun dapat diberi hadiah lebih baik dan lebih mewah daripada kesabaran.”  (Bukhari dan Muslim)

Itulah mengapa kesabaran meliputi seluruh kehidupan orang yang beriman sempurna dan mewujud dalam semua perbuatan dan sikapnya.  Orang yang beriman sempurna menunjukkan kesabaran luar biasa dalam penaatan perintah Tuhan kita, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (QS Al-Ma’arij, 70: 5)  Ia memperlihatkan kesabaran dalam kerendah-hatian dan menjadi orang yang paling rendah hati; ia menunjukkan kesabaran dalam tidak mendahulukan diri sendiri dan menjadi orang yang paling banyak berkorban …

Contoh berikut dalam Qur’an tentang kesabaran yang tersingkap selagi menunjukkan kesempurnaan akhlak akan memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang gagasan ini:

Dan tidakkah sama kebaikan dan kejahatan.  Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.  (QS Fushilat, 41: 34-35)

Sebagaimana ditunjukkan ayat itu, Allah memerintahkan manusia menanggapi perbuatan jahat dalam cara sebaik mungkin dan menekankan bahwa hanya mereka yang sabar dapat berhasil melakukannya.  Contoh ini dengan gamblang memperlihatkan bahwa jika kesempurnaan akhlak mesti ditunjukkan, penting  untuk bersabar.  Tidak pernah merasa gusar menghadapi peristiwa-peristiwa yang tampaknya buruk merupakan sifat lain mukmin yang beriman sempurna.  Di sisi lain, saat mendapatkan nikmat yang dianugerahkan kepadanya, ia tidak menjadi teranja.

Seseorang bisa sangat dermawan, mengorbankan diri dan sangat rendah hati pada masa tertentu kehidupannya.  Atau, ia mungkin tetap tabah menghadapi kesusahan.  Akan tetapi, kegagalan menunjukkan sifat bawaan terpuji ini di bawah keadaan tertentu, dan karena itu memiliki sejumlah batasan atau titik lemah, mungkin memansukhkan upaya sebelumnya seseorang untuk bertindak benar.  Orang harus menghayati semua nilai-nilai ini dalam wataknya.  Sifat-sifat ini harus jauh dari peniruan, pemalsuan, kedangkalan atau kesementaraan; semua itu harus menjadi pembentuk-pembentuk bangunan Qur’aniah yang mapan.  Allah juga menyatakan bahwa menunjukkan terus-menerus nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi bagian terpadu watak seseorang adalah terpuji di mata Allah: “Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi, 18: 46)

Kesabaran adalah salah satu tanda terpenting ketulusan mukmin dan upayanya mendekat kepada Allah: orang hanya dapat menunjukkan kesabaran dalam kaitan dengan ketulusan dan kedekatannya dengan Allah.  Mereka yang beriman sempurna yang bertekad menunjukkan sifat-sifat ini bersaing dengan mukmin lain dalam bersabar.  Jika membuat pengorbanan dibutuhkan, mereka membawakan diri dengan benar dan membawa semua sumberdaya harta dan tenaga ke dalam kancah.  Perhatian kita ditarik ke sifat ini dalam sebuah ayat yang berbunyi: “Orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya…” (QS Al-Ra’d, 13: 22)  Menghadapi kesukaran, orang-orang seperti mereka berpaling kepada Allah tanpa menyimpan perasaan tertekan atau ketakpastian apa pun dalam hatinya.  Hal ini juga diungkapkan oleh Nabi kita SAW:

“Menakjubkan sungguh urusan mukmin.  Baginya ada kebajikan dalam semua urusannya, dan ini hanya bagi mukmin.  Jika sesuatu yang menyenangkan terjadi, ia bersyukur, dan itu baik baginya; dan ketika sesuatu yang menyusahkan terjadi, ia bersabar, dan itu baik baginya.”  (Muslim)

Orang sering salah menafsirkan kesabaran dan mengiranya sebagai “menahan diri terhadap sesuatu”.  Ini cuma makna kait jauh kesabaran yang dialami dan dirasakan oleh orang yang beriman sempurna, sebab “menahan diri terhadap sesuatu” merupakan bentuk wajib ketabahan yang diperlihatkan di hadapan keadaan yang menekan dan menyakitkan.  Akan tetapi, kesabaran yang ditunjukkan demi tujuan Allah bukanlah sumber ketertekanan, melainkan penyebab kegirangan dan kebahagiaan luar biasa.  Orang yang beriman sempurna menunjukkan kesabaran demi meraih rida Allah, dan karena itu tidak menjadi tertekan.  Sebaliknya, dengan harapan menerima nikmat dan ganjaran yang Allah janjikan sebagai balasan bagi kesabarannya, ia menarik kegembiraan besar dari situ.  Allah memberitahu kita dalam Qur’an bahwa kesabaran membuat tertekan kafirin:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.  Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.  (QS Al-Baqarah, 2: 45)

Kesabaran orang yang beriman sempurna begitu besar sehingga kesabaran dan kegigihannya memohon tidak goyah, walaupun ia tidak dapat melenyapkan masalah atau mencapai keinginannya hingga kematian menjemput.  Ia mengetahui bahwa Allah mengendalikan segalanya dan bahwa ia akan meraih ganjaran besar sebagai balasan kesabarannya.  Karena alasan ini, ia puas terhadap Allah apa pun keadaan yang dihadapi, ia beriman kepada sifat pengasih dan penyayangNya yang abadi, dan menaruh kepercayaannya kepadaNya.  Jika Allah tidak segera mengabulkan doanya, ia pasti mengetahui ada kebajikan dan keindahan lebih besar tersembunyi di dalamnya.  Ia tidak pernah melupakan bahwa Allah mengabulkan semua doa dan memberikan ganjaran luar biasa bagi mereka yang sabar.  Dan janjiNya sungguh benar.  Satu ayat berbunyi: “…Siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (QS Al-Nisa, 4: 87)  Mukmin yang sadar akan kenyataan ini berpikir bahwa Allah mungkin akan memberinya lebih banyak nikmat namun, sebelumnya, Dia ingin ia tumbuh lebih dewasa.  Mukmin yang teladan dalam kepasrahan mereka dirujuk dalam Qur’an sebagai: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’ (sungguh kita berasal dari Dia dan sungguh kepadaNya kita kembali).” (QS Al-Baqarah, 2: 156)

Sungguh, Allah menganjurkan para hambaNya agar bersabar dalam menghadapi kesukaran yang mereka temui dan memberi kabar gembira bahwa mereka akhirnya akan memetik manfaat besar:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.  Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (QS Al-Baqarah, 2: 155)

Mukmin menerapkan kesabaran sepanjang hidupnya.  Ia menaati perintah Tuhannya: “Dan untuk Tuhanmu, bersabarlah kamu.” (QS Al-Muddatstshir, 74: 7) pada setiap saat kehidupannya.  Akhirnya ia akan menemui Tuhannya dan diganjar dengan surgaNya.  Malaikat-malaikat di pintu gerbang surga akan menyalaminya sebagai berikut: “(sambil mengucapkan): ‘salamun`alaikum bima shabartum’ (salam bagimu karena kesabaranmu).  Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Al-Ra’d, 13: 24)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s