Bersifat Pemaaf

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“…  Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang…” (QS Al-Imran, 3: 134)

Manusia rentan membuat kesalahan.  Ia ada di bumi untuk dicoba.  Ia hanya bisa tumbuh dewasa sambil menghayati nilai-nilai Qur’an dan menyucikan diri dari kesalahan-kesalahannya.  Inilah bagaimana ia meraih kesempurnaan akhlak.  Sungguh, ayat-ayat tentang taubat dalam Qur’an menunjukkan kelemahan manusia.  Allah, Pencipta manusia, yang paling mengetahui kelemahan-kelemahan ini dan menyatakan ia akan mengampuni mereka yang melakukan kejahatan karena lalai, namun kemudian segera bertaubat dan membuat perbaikan atas kesalahan-kesalahan mereka:

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanya taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.  (QS Al-Nisa, 4: 17)

Jika seseorang tulus dipandu oleh kebijaksanaan dan nuraninya, namun masih tidak dapat mencegah membuat kesalahan, maka ia boleh berharap akan ampunan Allah.  Dalam banyak ayat, Allah memberitahu kita bahwa Dia pengampun dan penyayang.  Satu ayat berbunyi:

Kabarkanlah kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  (QS Al-Hijr, 15: 49)

Sebagaimana ayat ini memberitahu kita, Allah mengampuni kesalahan-kesalahan manusia.  Karena itu, akan tidak patut bagi manusia jika tidak memaafkan kesalahan.  Di samping  itu, Allah menasehati mukmin agar menjadi pemaaf:

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.  (QS Al-A’raf, 7: 199)

Sesuai dengan perintah Allah, mereka yang beriman sempurna menganut sikap pemaaf kepada mukmin.  Tak diragukan, inilah tanda nurani yang unggul.  Hal ini karena, biasanya, orang merasa sulit memaafkan kesalahan akibat kesalahan sering menyebabkan kerusakan lahir atau batin.  Mereka bahkan tidak dapat mengendalikan amarah dan merasa tidak ragu menunjukkannya.  Namun, sebagaimana dianjurkan ayat di atas, mukmin adalah “… orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang …” (QS Al-Imran, 3: 134)

Sesuai dengan perintah Allah, mukmin tidak menyerah, namun lebih memilih memaafkan.  Mereka mengetahui bahwa sikap terbaik yang dapat mereka anut terhadap orang yang membuat kesalahan adalah mendesaknya berbuat lebih baik.  Satu ayat berbunyi: “Tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Dzariat, 51: 55)

Dalam ayat lain Allah mengatakan, “… hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.  Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?  Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nur, 24: 22)  Ketika membuat kesalahan dan dengan tulus menyesalinya, seorang mukmin menginginkan Allah dan mukmin lain memaafkannya dan memperoleh kepercayaan mereka.  Menemui sikap memaafkan membuatnya menyadari betapa agung nikmat pengampunan dari Allah dan betapa damai hal itu.  Karena alasan ini, mereka yang beriman sempurna saling memaafkan dan ingin dimaafkan.  Pasti, inilah sikap yang memperoleh rida Allah:

…  Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..  (QS Al-Taghabun, 64: 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s