Berpaling kepada Allah

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.  Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu.  Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  (QS Al-Baqarah, 2: 186)

Allah meliputi segala sesuatu.  Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat nadi lehernya.  Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.  Allah mengetahui apa pun yang terjadi pada manusia; tidak sekeping pun pikiran dapat tersembunyi dariNya.  Mukmin  mengetahui hal ini dan mengakui bahwa ia hanya perlu berpikir demi memohon sesuatu kepada Allah.  Bahkan jika pikiran ini tersembunyi di dada seseorang, Allah mendengarnya dan tak terbantahkan? mengabulkan doa seseorang karena Allah adalah sahabat, pelindung, dan penolong mukmin.

Menurut Qur’an, doa adalah keberpalingan manusia kepada Allah dalam segala ketulusan, mencari perlindungan dalam kekuatanNya yang tak berhingga dan tak terikat, dan memohon akan pertolongan dariNya.  Doa adalah hubungan pribadi seseorang dengan Allah.  Semua pikiran dan keinginan manusia tetap tersimpan di antara ia dan Allah.  Karena itu, tidak ada kemungkinan terkecil sekalipun berlaku sombong dalam bentuk pemujaan ini.  Ini adalah pemujaan yang dibangun sepenuhnya di atas ketulusan.

Mereka yang merasakan dalam-dalam bahwa Allah lebih dekat kepada mereka daripada siapa pun dan apa pun, bahwa Dia mendengar dan mengabulkan semua doa, dan yang hidup dengan kebenaran-kebenaran ini, adalah mereka yang beriman sempurna.  Mereka lagi-lagi adalah orang-orang yang berpaling kepada Allah dengan hati yang tulus dan mengetahui kelemahan-kelemahan diri sebagai manusia di hadapan keMahaKuasaanNya.  Lebih jauh mereka mengetahui hanya Allah Yang mengabulkan semua doa dan menyelamatkan manusia dari semua kesulitan dan masalah.

Tidak hanya dalam masa-masa susah atau musibah, namun setiap saat mereka yang beriman sempurna berpaling kepada Allah, karena mengetahui tidak ada satu saat pun dalam kehidupannya manusia tidak memerlukan Allah.  Mereka tidak menunggu musibah menimpa sebelum berdoa kepada Allah.  Mereka mengetahui bahwa inilah sebentuk pemujaan, tugas seorang hamba kepada Penciptanya, dan satu cara penting agar lebih mendekat kepada Allah.  Senyatanya, inilah salah satu sifat terpenting yang membedakan mereka dari orang-orang lain.  Akhlak yang ditunjukkan oleh mereka yang berdoa kepada Allah saat dalam kesusahan, namun bersegera memutar badan seketika dilepaskan dari kesusahan dijelaskan dalam ayat berikut:

Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri.  Tetapi, setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.  Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.  (QS Yunus, 10: 12)

Di sisi lain, mereka yang beriman sempurna adalah orang-orang yang berpaling kepada Tuhannya apakah sedang dalam kesenangan ataupun dalam kesusahan, sebab mereka memahami pandangan yang diberikan oleh ayat:  “…Tuhanku tidak mengindahkanmu, melainkan kalau ada ibadatmu… .” (QS Al-Furqan, 25: 77)

Mereka berdoa sebagaimana dilukiskan dalam Qur’an.  Dalam satu ayat, Allah memerintahkan yang berikut:

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.  (QS Al-A’raf, 7: 205)

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.  (QS Al-A’raf, 7: 55)

Sebagaimana nampak jelas, Allah meminta doa yang rendah hati dan penuh takut dari hamba-hambaNya.  Karena, dalam doa mereka, satu-satunya syarat yang ditetapkan Allah bagi hamba-hambaNya adalah ketulusan.  Tuhan kita, kepada siapa kita bermohon, mengetahui dan mendengar apa yang kita ucapkan maupun pikiran terdalam kita.  Sadar akan hal ini dan mengikuti naluri, mereka yang beriman sempurna kadang berdoa diam-diam dan kadang keras, namun tak pernah mereka menjadikan doa sebuah sandiwara, sebab, dalam Qur’an, Allah menarik perhatian pada pentingnya “memanggil Allah, memurnikan agamaNya”:

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepadaNya.  Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.  (QS Al-Mukmin, 40: 65)

Mukmin “merasakan keberadaan Allah” selagi berdoa.  Sambil berdoa, tidak hanya mereka menyampaikan permohonan kepada Allah, namun juga merasakan dalam-dalam kesatuan dengan Allah, keberadaanNya, keagunganNya dan kekuatannya yang tak berhingga.  Dalam Qur’an, Allah memerintahkan sebagai berikut:

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepadaNya dengan penuh ketekunan.(QS Al-Muzzammil, 73: 8)

Selagi berdoa, mereka yang beriman sempurna menjaga pikiran agar tersaput oleh ingatan akan nama-nama indah Allah.  Nama-nama Allah membuat kita meraih pemahaman lebih baik tentang sifat-sifat Allah.  Mukmin yang memanggilnya, sadar bahwa Dialah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sungguh-sungguh meresapi kedekatanNya kepada hamba-hambaNya dan kasihNya.  Sungguh, orang dapat berdoa kepada Allah dengan menyebutkan nama-nama indahNya:

Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama indah), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya.  Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (QS Al-A’raf, 7: 180)

Sebagaimana juga benar dalam perkara-perkara lain, doa yang tulus merupakan sifat yang terbaik diperlihatkan dalam diri para nabi Allah.  Dalam Qur’an, ketulusan doa-doa para nabi ditekankan khusus:

Ia (Sulaiman) berkata: ”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”  (QS Shad, 38: 35)

Musa berdoa: ”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”  (QS Al-A’raf, 7: 151)

Dalam sebuah hadis, kita membaca doa Rasulullah SAW berikut ini:

“Ya Tuhanku!  Tuhan Tujuh Langit dan Tuhan Singgasana yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segalanya, Pencipta tumbuhan dan pepohonan; kumencari pertolongan dariMu terhadap kejahatan semua makhluk; Engkaulah yang Pertama, tidak sesuatu pun sebelumMu.  Engkaulah yang Terakhir, tidak sesuatu pun sesudahMu.”  (Muslim)

Mukmin juga bersabar dalam doanya.  Sebagaimana dikatakan ayat, mereka “jadikan sabar dan shalat sebagai penolong…” (QS Al-Baqarah, 2: 45) dari Allah.  Kepasrahan mereka kepada Allah dan kepercayaan yang mereka taruh padaNya menyebabkan kesabaran dan tekad sedemikian.  Mukmin merasa yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkan doanya.  Ia tidak pernah berputus asa dan terus memohon kepadaNya: “… Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.  “ (QS Yusuf, 12: 87)

Orang yang beriman sempurna menakuti Allah dan berdoa kepadaNya dengan penghormatan dan kesabaran besar.  Ia berdoa kepada Tuhannya di setiap saat; pada waktu dan tempat yang tak diperkirakan, mukmin menyisihkan waktu untuk berdoa kepada TuhanNya dengan sungguh-sungguh.  Bahkan dalam saat-saat tersibuknya, ia mencari perlindungan dariNya, bermohon kepadaNya dan meminta petunjukNya.  Ia melakukan semua ini karena mengetahui inilah cara termudah untuk lebih mendekat kepada Allah, untuk meraih rida dan surgaNya.  Tak ada penghalang yang akan mencegah orang seperti dia dari lebih mendekat kepada Penciptanya.  Allah hanya menginginkan hamba-hambaNya berpaling kepadaNya dengan hati yang tulus.  Allah memerintahkan yang berikut dalam Qur’an:

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (berhala), (yaitu) tidak menyembahnya, dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; karena itu, sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu.  (QS Al-Zumar, 39: 17)

Sikap-sikap Teladan yang Diambil Mereka yang Beriman Sempurna dalam Masa-masa Susah

Sebelum membahas sikap-sikap yang dianut mereka yang beriman sempurna di masa-masa susah, kita perlu memiliki pemahaman yang sebenarnya tentang cara mereka merasakan kesusahan.  Mereka yang beriman sempurna adalah mereka yang benar-benar meresapi bahwa dunia ini adalah tempat yang dirancang khusus untuk menempatkan manusia ke dalam cobaan.  Mereka juga benar-benar mengetahui bahwa gagasan “kesusahan” diciptakan untuk membedakan antara “orang-orang yang sungguh-sungguh beriman” dan “orang-orang yang di hatinya ada penyakit”.  Masa-masa susah dan masalah adalah saat-saat penting bagi makhluk yang memungkinkan mereka membuktikan ketulusan mereka dalam beriman.  Karena itu, berlawanan dengan makna biasanya, “kesusahan” sungguh-sungguh “nikmat” bagi orang yang beriman sempurna.

Karena kesan ini, mereka menaruh kepercayaan kepada Allah saat menemui kesukaran.  Sementara itu, mereka tidak pernah lupa berdoa bahwa Allah tidak akan membebani mereka dengan yang lebih daripada kemampuan mereka menanggungnya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.  Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.  (Mereka) berdoa: ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.  Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.  Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.  Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.  Engkau Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (QS Al-Baqarah, 2: 286)

Dalam menghadapi kesusahan, mereka mengerti bahwa itu adalah cobaan “yang mereka mempunyai kekuatan untuk menanggungnya” dan karena itu mencoba menunjukkan kepasrahan mereka kepada Allah dan kepercayaan mereka kepadaNya dengan cara sebaik mungkin.  Mereka mengetahui bahwa sikap-sikap yang mereka anut pada masa-masa senang dan yang mereka perlihatkan dalam masa-masa susah tidaklah sama di mata Allah.  Dalam hal ini, Allah memberikan contoh berikut:

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.  Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.… (QS Al-Nisa, 4: 95)

Sebagaimana ditekankan ayat di atas, mereka yang mencari rida Allah di masa-masa susah lebih unggul daripada mereka yang tidak berupaya apa pun.  Pegangan erat kepada agama mereka dalam masa-masa susah seperti itu menyingkapkan kebesaran iman mereka.  Sukar menilai ketulusan seseorang yang berkorban di masa-masa mudah.  Menempatkan manusia ke dalam cobaan melalui kesukaran adalah cara Allah membedakan antara mereka yang bersungguh-sungguh dan mereka yang pendusta.

Cobaan Allah pada mukmin dengan kesukaran-kesukaran memiliki maksud lain.  Telah mengalami kesukaran membuat seseorang menghargai lebih baik nilai sebuah nikmat dan membuatnya merasa lebih bersyukur.  Ini karena kesukaran dan kesakitan mendewasakan jiwa manusia.  Kesukaran-kesukaran di dunia ini membuat manusia mampu membuat pembandingan antara yang baik dan yang buruk, kelebihan dan kekurangan, kenyamanan dan keresahan.  Hanya melalui pembandingan-pembandingan ini seorang manusia menghargai nilai nikmat lahiriah dan batiniah yang ia rasakan.  Lebih penting lagi, kesukaran-kesukaran ini membuatnya mampu sungguh-sungguh mengerti bagaimana ia membutuhkan Allah dan memahami kelemahannya di hadapanNya.

Macam kesukaran melalui mana seseorang dapat ditempatkan ke dalam cobaan di dunia ini diterangkan sebagai berikut:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.  Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (QS Al-Baqarah, 2: 155)

Seorang mukmin yang mengingat ayat ini menyiapkan diri bagi kesukaran-kesukaran bahkan sebelum menemuinya dan berjanji kepada Allah bahwa ia akan menunjukkan ketabahan dalam kesabaran dan kepasrahan, dan tetap mengabdi, apa pun keadaan menjadi.  Keimanan sempurnanya menyebabkankan sikap mulia ini.  Dalam menghadapi ketakutan, kelaparan tak terperi, kemiskinan, cedera atau kehilangan orang terkasih, ia tetap bertekad berpuas diri dengan Allah dan menganut sikap bersyukur kepadaNya.  Ia melihat semua keadaan itu sebagai cara untuk lebih mendekat kepada Allah dan untuk meraih surga.  Satu ayat berbunyi:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.  Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.  (Itu telah menjadi) Janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an.  Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?  Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.  (QS Al-Taubah, 9: 111)

Mukmin yang telah mencapai kedewasaan iman ini sadar bahwa orang tidak dapat meraih ganjaran akbar seperti surga hanya dengan mengatakan: “Saya beriman”:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.  (QS Al-Ankabut, 29: 2-3)

Lagi di ayat yang lain Allah menarik perhatian kita ke kebenaran penting ini:

Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelummu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ”Bilakah datangnya pertolongan Allah?“ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.  (QS Al-Baqarah, 2: 214)

Ayat-ayat ini menyingkapkan bahwa, dalam kepatuhan kepada hukum Allah yang tak bisa diubah, segenap manusia yang pernah muncul di bumi telah menghadapi kesukaran-kesukaran ini.  Mereka juga diuji dengan menempatkan harta dan jiwa mereka sebagai taruhan; mereka juga dihadapkan dengan kekejaman dan tekanan dari kafirin dan karenanya perbedaan antara mukmin sejati dan yang tidak tulus menjadi tampak.  Itulah mengapa, saat seorang mukmin mengenal Qur’an, ia mulai menyiapkan diri bagi peristiwa-peristiwa ini.  Akan tetapi, peristiwa-peristiwa ini, yang terjadi sejalan dengan saripati cobaan, mungkin tidak sama tepat dengan yang terjadi dalam keadaan di zaman Nabi kita SAW.  Di zaman kita, kita mungkin menemui kesukaran-kesukaran dalam keadaan yang sangat berbeda.

Seorang manusia yang telah meraih keimanan sempurna mengetahui bahwa setiap peristiwa merugikan yang dialaminya adalah, tanpa kecuali, cobaan dari Allah.  Macam musibah yang dihadapinya mungkin kelaparan, kehilangan harta atau jiwa, maupun cobaan-cobaan yang mungkin ia temui di dalam kehidupan sehari-hari.  Kadang kala semua macam kesusahan datang silih berganti.  Seseorang mungkin kehilangan orang tercinta pada waktu yang tak terduga.  Di saat yang sama, ia mungkin menghadapi masalah keuangan.  Semua tekanan ini mungkin dilipatgandakan oleh masalah kesehatan yang parah.  Sementara itu,  melihat semua ini sebagai kesempatan, iblis mungkin mencari cara menggoda si orang yang menderita ini.  Di tengah-tengah kesulitan ini, seorang mukmin lain mungkin meminta bantuannya.  Di bawah semua keadaan, orang yang beriman sempurna menanggapi dengan sikap yang paling menyenangkan Allah dan tidak pernah membuat siapa pun yang meminta bantuannya menjadi sadar akan kesukaran-kesukaran yang sedang digelutinya.  Nada suaranya, raut wajahnya atau bahasa tubuhnya menyampaikan keikhlasannya membantu.

Orang yang beriman sempurna menunjukkan semua kesabaran dan kebijaksanaan-kebijaksanaan akhlak mulia ini karena pengabdian, penghormatan, ketakutannya, dan kepasrahannya kepada Allah.

Contoh di atas dengan jelas menyampaikan hal bahwa tak masalah betapa mengerikan keadaan menjadi, orang yang beriman sempurna tidak pernah menyimpang dari perilaku dan sikap bijaksana.  Sadar bahwa semua musibah yang menimpa manusia adalah atas kehendak Allah, ia mencari penghiburan dan pemecahan hanya dari Allah.  Dunia ini bukan apa-apa melainkan persinggahan sementara baginya; ia akan tinggal di sini hanya untuk masa waktu tertentu dan lalu berangkat; apa yang penting adalah menjalankan kesabaran di bawah semua keadaan, hidup dengan nilai-nilai yang menyenangkan Allah dan meraih ridaNya.

Apa pun dalam kehidupan di dunia ini fana adanya.  Seorang manusia harus secara azasi mengingat bahwa ia sedang dicoba dengan peristiwa-peristiwa sementara dan, berdasarkan pada akibat cobaan-cobaan ini, sebuah tempat abadi menantinya di hari kemudian.  Tempat sejati manusia adalah hari kemudian.  Bahkan jika seseorang mengalami kesakitan, kesukaran, atau tekanan  yang terparah di dunia ini, semua itu akhirnya lenyap atau akan disudahi oleh kematian.

Hal ini juga berlaku untuk yang sebaliknya.  Tiada nikmat yang dirasakan seseorang di dunia ini sungguh-sungguh miliknya.  Ketika kematian menjemput, ia akan meninggalkan semua itu.  Mungkin saja bahwa seseorang yang menjalani kehidupan bermain-main di dunia ini akan berakhir dalam siksa neraka.  Apa yang kami maksudkan di sini adalah, mutu kehidupan menyenangkan yang manusia rasakan di dunia ini bukan sebuah syarat; karena hidup bukan apa-apa melainkan cobaan.  Orang yang telah melalui kesukaran-kesukaran di dunia ini mungkin orang yang layak hidup bahagia di surga.  Hal itu karena di dunia ini, ia mengangkat Allah sebagai sahabat, dan menerapkan kesabaran untuk meraih ridaNya.  Orang-orang ini akan mengatakan yang berikut di hari kemudian:

Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.  Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.  Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.”  (QS Fathir, 35: 34-35)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s