Beriman Pada Hari Kemudian

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.  “  (QS Al-Baqarah, 2: 4)

Pedihnya rasa sakit dan hukuman yang dialami di neraka tidak dapat dibandingkan dengan sakit apa pun di dunia ini.  Siksa api ada bermacam jenis.  Penghuni neraka terus-menerus menjerit agar diselamatkan dari api, mereka dimampatkan ke dalam ruang-ruang yang sempit; tangan mereka terikat ke leher, mereka menggelinjang kesakitan.  Mereka dicambuk dengan cambuk besi.  Lapar dan haus mereka menjadi tak tertahankan.  Rasa sakit mereka tidak pernah berkurang.  Keadaan mengerikan ini diperburuk oleh penyesalan besar, perasaan putus asa, dan kehilangan harapan.  Mereka ingin musnah selama-lamanya, namun sia-sia.  Mereka diceritakan sebagai berikut:

Masuklah ke dalamnya (dan rasakanlah kepanasan apinya): maka, baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu: kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan.  (QS Al-Thur, 52: 16)

Mereka yang beriman sempurna terus-menerus merenungkan siksa neraka yang dilukiskan Qur’an dan berpaling kepada Allah.  Orang yang beriman sempurna selalu mengingat bahwa ia bisa, setiap saat, menemui malaikat kematian dan berlalu menuju ke hari kemudian.  Keputusan, sikap, perilaku dan caranya berbicara mencerminkan niatnya agar layak masuk surga dan dijauhkan dari api neraka, sebab tak seorang pun di dunia ini dapat terlepas dari ganjaran ilahiah.

Menyadari bahwa “timbangan yang tepat” (QS Al-Anbiya, 21: 47) akan dipasang pada Hari Pengadilan, ia tidak ingin kehilangan seberat zarah pun kebajikan.  Allah telah memperingatkan manusia akan hal ini sebagai berikut:

Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.  Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.  (QS Al-Zilzal, 99: 6-8)

Dengan cara serupa, ia dengan gigih meniadakan perbuatan apa pun yang akan menuai kemurkaan Allah, sebab tiap perbuatan yang dilakukannya akan mendekatkannya ke surga atau ke neraka.  Tidak sesuatu pun ada di antara kedua tempat ini.

Mereka yang beriman sempurna yang memiliki kesadaran pasti tentang kenyataan-kenyataan ini merasakan “ketakutan dan harapan” yang sinambung sepanjang kehidupan mereka.  Mereka tidak pernah melupakan keadaan orang-orang yang menanti dibawa entah ke surga atau ke neraka pada Hari Pengadilan.

Bagaimana seseorang berperilaku jika ia ada di persimpangan surga dan neraka pada saat ini dan menyadari bahwa kehidupan abadinya akan dimulai sebenar-benarnya setelah ia diadili?

Berada di tepi neraka, akankah ia berani menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan, yang segera akan diperhitungkan?  Pasti tidak!  Sebaliknya, siapa pun yang ada di dalam keadaan mengerikan itu akan melakukan apa pun untuk menggapai surga dan memanfaatkan kebijaksanaan dan nuraninya untuk menunjukkan sikap yang paling menyenangkan Allah.  Bahkan seseorang yang tidak pernah terlibat dalam upaya sungguh-sungguh seperti itu sepanjang hidup, mengira Hari Pengadilan jauh dari dirinya, akan merasakan kepanikan besar dan berjuang memperbaiki perbuatan buruknya.  Namun, pada hari itu, tidak ada waktu dianugerahkan untuk membuat perbaikan.  Waktu yang dianugerahkan berakhir dengan kematian dan catatan-catatan ditutup.  Dari saat itu seterusnya, tak seorang pun akan dibalas  atas apa pun selain daripada yang telah diperbuatnya.

Memiliki keimanan yang tak tergoyahkan kepada hari kemudian, surga dan neraka, dan menjaga benak mereka selalu tersaput ingatan akan kematian, menjelaskan upaya tak kenal lelah mereka yang beriman sempurna.  Untuk menghindari ketakutan dan penyesalan di hari kemudian, setiap saat dalam kehidupan mereka menganggap diri seolah sedang menunggu keputusan Allah atas mereka di Hari Pengadilan.  Mereka menyiapkan diri bagi kehidupan akhirat dengan kesadaran dan keimanan penuh, dengan cara seperti orang yang telah melihat indahnya surga dan ngerinya neraka dengan mata kepala sendiri, lalu dikembalikan ke dunia.  Karena itu, dalam menghadapi setiap keadaan, mereka berjuang menunjukkan sikap terbaik, sebab mereka mengetahui bahwa kelalaian atau ketakjujuran kecil apa pun mungkin menempatkan mereka di jalan penyesalan yang tidak ada pemulihnya.

Kesimpulannya, keyakinan mutlak mereka yang beriman sempurna memastikan janji tak goyah untuk lebih mendekat kepada Allah dan tegak dalam ketakutan kepadaNya.  Menuruti ayat, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu… “ (QS Al-Taghabun, 64: 16), mereka yang beriman sempurna takut kepada Allah sebanyak mereka bisa dan berharap layak masuk surga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s