Akhlak Mulia

Posted: 15 Juni 2009 in Umum

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.  “  (QS Al-Qalam, 68: 4)

Setiap manusia yang sepenuh hati beriman kepada Allah memenuhi semua perintahNya tanpa syarat.  Tekad ini memastikan penyusunan sebentuk kesempurnaan akhlak.  Penaatan seksama perintah-perintah Qur’an-lah yang menyebabkan kesempurnaan akhlak yang menjadi ciri mereka yang beriman sempurna.

Manusia dapat menggapai semua sifat baik dan terpuji hanya dengan menuruti perintah-perintah Qur’an.  Dalam Qur’an, Allah memerintahkan ketakwaan, keadilan, kesabaran, pengorbanan, kesetiaan, pengabdian, penepatan janji, kepasrahan, kerendahhatian, penenggangan, penyayang, pengasih, pengendalian amarah, dan banyak lagi sifat-sifat akhlak.  Menunjukkan kesempurnaan akhlak ini sebagaimana disajikan dalam Qur’an bergantung pada ketakutan seseorang kepada Allah dan karena itu mengikuti suara nuraninya.  Semakin seseorang takut kepada Allah dan seksama mengikuti apa yang diserukan nuraninya, semakin patuh ia kepada perintah Allah.  Akan tetapi, seseorang yang tidak memiliki sifat-sifat ini gagal menunjukkan tanggung jawab untuk hidup dengan akhlak-akhlak Qur’an.  Ia mungkin memperlihatkan sebagian sifat-sifat akhlak yang diridai Allah, namun, ketika menghadapi keadaan di mana ia merasa kepentingannya dipertaruhkan, ia mungkin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Keadaan ini nyata menyingkapkan keunggulan mereka yang telah meraih kedewasaan iman.  Orang yang beriman sempurna tanpa lelah menunjukkan kesempurnaan akhlak di setiap saat kehidupannya.  Kesabaran terbesar, derajat tertinggi pengorbanan dan kepasrahan, cinta terkuat kepada Allah terwujud dalam perilakunya.  Sifat-sifat ini membuatnya seorang yang istimewa.  Dalam kata-kata Qur’an, ia menjadi “imam bagi orang-orang yang bertakwa.”  (QS Al-Furqan, 25: 74)

Sasaran utama bagi setiap Muslim adalah mencapai kesempurnaan akhlak seperti itu.  Menentukan batas-batas bagi diri mendorong manusia berpuas diri, yang merupakan sikap yang harus gigih dihindari manusia.  Dalam satu ayat, Allah menekankan bahwa rasa puas diri merupakan kerusakan yang sungguh-sungguh:

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.  Karena dia melihat dirinya serba cukup.  (QS Al-Alaq, 96: 6-7)

Karena alasan ini, setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian harus membuat sasaran utamanya adalah hidup dengan nilai-nilai Qur’an dalam cara sebaik mungkin.  Hanya orang dengan sasaran semulia itu dapat berharap meraih surga dan berkumpul dengan para nabi, aulia, syuhada, dan mereka yang bertakwa.  Allah memberitahu kita bahwa hanya ketaatan yang tegas membuat orang berhasil dalam upaya mulia ini:

Dan barang siapa yang menaati Allah dan rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqien, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.  Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.  (QS Al-Nisa, 4: 69)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s