PERBEDAAN KEUTAMAAN AMAL KARENA PERBEDAAN KEADAAN

Posted: 14 Juni 2009 in Umum

Syaikh  al-Islam  berkata,  “Satu  amalan  boleh   jadi   kita dianjurkan  untuk  mengerjakannya  dalam satu waktu, dan boleh jadi pula kita dianjurkan  untuk  meninggalkannya,  tergantung kepada  kemaslahatan  yang timbul ketika kita mengerjakan atau meninggalkannya,  berdasarkan  dalil-dalil   syari’ah   agama. Seorang  Muslim  kadangkala  mesti  meninggalkan  sesuatu yang dianjurkan  manakala  sesuatu  itu  apabila  dikerjakan   akan menimbulkan  kerusakan  dan  tidak  mendatangkan kemaslahatan. Sebagaimana  yang  pernah  dilakukan  oleh  Nabi  saw.  Beliau meninggalkan   pembangunan  Baitullah  di  atas  fondasi  yang didirikan oleh Ibrahim, sambil berkata kepada ‘Aisyah,  ‘Kalau bukan  karena  kaummu  baru saja meninggalkan zaman jahiliyah, niscaya akan kuhancurkan Ka’bah  dan  akan  kubangun  di  atas tanah  dengan dua pintu. Satu pintu untuk masuk dan satu pintu lagi  untuk  pintu  keluar.’  Hadits  ini   disebutkan   dalam as-Shahihain. Nabi meninggalkan niatnya ini karena ada sesuatu yang lebih utama darinya. Yaitu  seandainya  niat  ini  beliau lakukan,  sedangkan kaum Muslim Quraisy baru saja meninggalkan zaman jahiliyah, niscaya perbuatan  itu  akan  membuat  mereka menjauh  dari  Islam. Sehingga menghindari kerusakan yang akan terjadi  lebih  diutamakan   atas   kemaslahatan   yang   akan diperoleh.

Oleh  sebab  itu,  Imam  Ahmad  dan ulama lainnya lebih senang melakukan  sesuatu  yang  lebih  utama,  jika  perbuatan   itu dianggap  dapat  tetap  menjaga keutuhan persatuan umat Islam. Menurutnya, memisalkan  shalat  witir  dianggap  lebih  utama;

yaitu  dengan  melakukan  salam  pada dua rakaat yang pertama, kemudian baru melakukan shalat satu  rakaat  pada  salam  yang kedua;  jika  dia  menjadi  imam pada suatu kaum yang memiliki pandangan  memisahkan  witir.  Misalnya  tidak   memungkinkan baginya    untuk    memisahkan    witir,    dan    dia   terus menyambungkannya, maka kemaslahatannya sendiri  dapat  dicapai tetapi  orang-orang  merasa benci untuk shalat di belakangnya. Begitu  pula  halnya  dengan  orang  yang  berpandangan  bahwa membaca  basmalah  dengan suara pelan lebih utama, atau dengan

suara keras yang lebih  utama,  tergantung  kepada  kebanyakan ma’mumnya.  Dalam  hal  ini  harus ada sesuatu yang diutamakan sehingga  kemaslahatan  dan  menjaga  persatuan  tetap   dapat dijalankan.

Begitu  pula  halnya  apabila  kita  mengerjakan  sesuatu yang berbeda  tetapi  lebih  utama,  untuk  memberikan   penjelasan terhadap  sunnah  dan  mengajarkannya  kepada orang yang belum mengetahuinya, merupakan sesuatu yang  baik.  Seperti  membaca

doa iftitah, ta’awwudz, atau basmalah dengan suara keras, agar diketahui oleh manusia bahwa perbuatan itu  merupakan  sesuatu  yang  disyari’ahkan  di  dalam  shalat, sebagaimana dijelaskan oleh sebuah hadits  shahih  bahwa  Umar  bin  Khattab  membaca

iftitah  dengan suara keras. Dahulu Umar bin Khattab melakukan takbiratul-ihram, kemudian mengucapkan, “Mahasuci Engkau wahai Allah  dan  Maha  Terpuji,  yang  nama-Mu  membawa berkah, dan kesungguhan-Mu  yang  Maha  Tinggi,  dan  tiada  Tuhan  selain Engkau.”  Al-Aswad  bin Yazid berkata, “Aku shalat di belakang Umar lebih  dari  tujuh  puluh  kali  shalat.  Dia  bertakbir, kemudian  dia  mengucapkan  doa  tersebut.”  Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.  Dan  oleh  sebab  itu,  doa  iftitah tersebut sangat populer di kalangan masyarakat sehingga mereka dapat melakukan hal yang sama. Begitu pula yang dilakukan oleh Ibn  Umar  dan  Ibn ,Abbas, kedua orang ini mengeraskan bacaan ta’awwudz, dan tidak sedikit sahabat yang  mengeraskan  bacaan

basmalah.   Dan   menurut   para   imam   jumhur,  yang  tidak berpandangan mengeraskan basmalah dalam shalat, bahwa hal  itu dilakukan  agar  semua  orang mengetahui bahwa bacaan basmalah adalah sesuatu yang disunnahkan di dalam  shalat.  Sebagaimana diriwayatkan  dalam  sebuah  hadits  shahih  bahwa  Ibn  Abbas melakukan perbuatan itu agar masyarakat  mengetahui  bahwa  ia adalah  sesuatu yang sunnah. Oleh sebab itu, ada dua pandangan besar yang berkaitan dengan shalat jenazah.

Pertama, kelompok yang tidak memandang bahwa di  dalam  shalat itu ada bacaan, sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama salaf, dan ini merupakan mazhab Abu Hanifah.

Kedua, kelompok yang memandang bahwa bacaan  di  dalam  shalat itu  merupakan  sesuatu  yang  sunnah.  Dan  ini adalah mazhab Syafi’i dan Ahmad; berdasarkan hadits Ibn Abbas dan lain-lain.

Kemudian ada kelompok lain lagi yang mengatakan  bahwa  bacaan di  dalam  shalat  itu adalah wajib sebagaimana kewajiban yang berlaku di dalam shalat.

Sebagian kelompok lainnya mengatakan, “Bacaan  ayat  al-Qur’an itu  hukumnya sunnah, dan tidak wajib.” Pendapat ini merupakan pendapat  yang  moderat  dibandingkan  dengan  tiga   pendapat sebelumnya.  Karena  sesungguhnya para ulama salaf mengerjakan ini dan yang lainnya  mengerjakan  itu.  Dan  kedua  perbuatan mereka  sangat  masybur  di  kalangan  mereka.  Dahulu  mereka melakukan shalat  jenazah  dengan  bacaan  dan  tanpa  bacaan, sebagaimana  mereka  kadang-kadang mengeraskan bacaan basmalah dan kadangkala tidak mengeraskannya. Kadangkala mereka membaca doa iftitah dan kadangkala tidak membacanya. Kadangkala mereka mengangkat kedua tangan pada tiga tempat, dan kadangkala tidak mengangkatnya.  Kadangkala  mereka mengucapkan dua salam dalam shalat, tetapi kadangkala mereka hanya mengucapkan  satu  kali salam  saja. Kadangkala mereka membaca bacaan di belakang imam dengan  hati,  tetapi  kadang-kadang  mereka  tidak   membaca. Kadangkala  mereka  bertakbir empat kali dalam shalat jenazah, kadang-kadang  membaca  takbir  lima  kali.  Bahkan  ada  yang bertakbir  sebanyak  tujuh kali. Semua perbuatan ini dilakukan oleh para sahabat r.a.

Begitu pula riwayat yang menyatakan  bahwa  di  kalangan  para sahabat ada yang melakukan adzan lagi, dan ada pula yang tidak melakukannya. Mereka juga ada yang  mengganjilkan  iqamat  dan ada pula yang menggenapkannya. Kedua hal ini merupakan riwayat yang berasal dari para sahabat Nabi saw.

Ketiga hal ini, walaupun salah satu di  antaranya  lebih  kuat daripada  yang  lain,  seandainya  ada yang melakukan pendapat yang tidak kuat, maka  dia  dianggap  melakukan  sesuatu  yang boleh  dilakukan.  Dan  kadangkala  sesuatu  yang  tidak  kuat menjadi lebih kuat  melihat  kepada  kemaslahatan  yang  dapat diperoleh;   sebagaimana   meninggalkan   suatu  perkara  yang dianggap kuat dinilai lebih baik karena ada kemaslahatan  yang ada di balik itu.

Perkara  seperti  ini dapat berlaku dalam semua amalan. Karena sesungguhnya amalan yang termasuk lebih penting, kadang-kadang menempati  suatu kondisi lain yang lebih penting lagi. Seperti shalat merupakan sesuatu yang lebih penting  daripada  membaca al-Qur’an,  dan membaca al-Qur’an lebih utama daripada dzikir, dan dzikir lebih utama daripada doa. Kemudian  shalat  setelah shalat  Subuh  dan shalat Asar merupakan sesuatu yang dilarang padahal bacaan al-Qur’an, dzikir, dan doa  diperbolehkan  pada

waktu-waktu itu. Begitu pula bacaan al-Qur’an pada waktu ruku’ dan sujud itu dilarang, sehingga zikir pada saat  seperti  itu dianggap  lebih  utama  daripadanya. Dan doa pada akhir shalat setelah melakukan  tasyahud  dipandang  lebih  utama  daripada dzikir.

Dan  kadang-kadang  ada  sesuatu  perbuatan  yang tidak begitu diutamakan  tetapi  ia  dapat  menjadi  lebih   utama   ketika dilakukan  oleh  orang  tertentu, karena orang itu tidak dapat melakukan  sesuatu  yang  lebih   utama   daripada   perbuatan tersebut,  atau  karena  kecintaan, kesenangan, perhatian, dan faedah yang diperoleh dari sesuatu perbuatan yang tidak begitu diutamakan  itu  lebih  banyak,  sehingga  perbuatan  tersebut

menjadi lebih utama baginya, karena adanya peningkatan amalan, kecintaan,  kemauan,  dan  manfaat.  yang  diperkirakan  dapat diperoleh. Seperti yang terjadi pada orang sakit,  yang  hanya mau meminum obat kesukaannya dan bermanfaat bagi kesehatannya, tetapi tidak mau meminum obat  yang  tidak  disukai,  walaupun obat yang terakhir ini dianggap lebih utama.

Atas  dasar  ini, dzikir untuk sebagian manusia dalam beberapa waktu  adalah  lebih  baik  daripada  membaca  al-Qur’an;  dan membaca   al-Qur’an   bagi  sebagian  orang  pada  waktu-waktu tertentu adalah lebih baik  daripada  shalat  sunnah;  melihat kegunaannya  dan  tidak  melihat  kepada  jenisnya  yang lebih utama.

Pembahasan mengenai persoalan ini, “melebihkan sebagian amalan atas  sebagian yang lain”, jika belum dikenal adanya prioritas di dalamnya, akan sangat beragam dan terpulang kepada  kondisi ketika amalan itu dilakukan. Dan jika tidak ada ketergantungan

kepada  kondisi  seperti  itu,  maka   akan   terjadi   banyak kekacauan.   Karena   ada   orang  yang  tetap  berkeras  hati menganggap suatu perkara sebagai sesuatu yang  utama  di  mana saja  dan  pada  keadaan  apapun,  tanpa mempedulikan keadaan, sehingga akhirnya  dia  menjadi  pengikut  hawa  nafsunya  dan sangat fanatik terhadap pandangannya. Sebagaimana kita temukan orang-orang yang menganut suatu  mazhab  sehingga  dalam  satu persoalan  dia  selalu  berpegang  kepada  mazhabnya sekaligus menganggapnya sebagai syiar mazhabnya.

Di antara mereka juga ada  yang  berpandangan  terhadap  suatu perkara  lebih  utama meninggalkan hal seperti itu. Dia selalu berpegang kepada pandangan ini walaupun ada sesuatu yang lebih besar  yang  harus  dia  tinggalkan  ,  misalnya  meninggalkan hal-hal  yang  diharamkan  kepadanya.   Sehingga   orang   ini mengikuti  hawa  nafsunya  dan  fanatik terhadap pandangannya. Juga ada orang  yang  berpandangan  bahwa  meninggalkan  suatu perkara  yang  dilarang  dalam  mazhabnya, harus dipertahankan sedemikian rupa. Hal itu tentu merupakan suatu kesalahan.

Seharusnya kita memberikan  hak  kepada  sesuatu  yang  berhak menerimanya,   dan  memberikan  keleluasaan  sebagaimana  yang diberikan Allah SWT dan rasul-Nya, dan merapatkan hati manusia yang dianjurkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya, menjalin jalinan yang  diperintahkan  Allah  SWT  dan   Rasul-Nya,   memelihara berbagai   kemaslahatan  yang  dicintai  oleh  Allah  SWT  dan rasul-Nya, memelihara tujuan-tujuan syari’ah, dan  mengajarkan bahwa  sebaik-baik  ucapan  ialah  Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad saw. Dan bahwasanya Allah SWT telah   mengutusnya   sebagai   rahmat   untuk  alam  semesta, mengutusnya untuk kebahagian manusia  di  dunia  dan  akhirat, dalam  segala  urusan.  Ajaran  yang bersifat global itu harus dijelaskan   rinciannya,   sehingga   manusia   tidak    hanya berkeyakinan  terhadap  perkara  yang  bersifat global, tetapi tidak   meyakini   rinciannya,   baik   karena   kebodohannya, kezalimannya   atau   karena  mengikuti  hawa  nafsunya.  Kami bermohon kepada Allah SWT agar  Dia  memberi  petunjuk  kepada kami  ke  jalan yang lurus, jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat dan karunia Allah SWT, yang  terdiri  dari  para  nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada’, dan orang-orang shaleh, karena mereka itulah sebaik-baiknya ikhwah (teman).

Atas  dasar  fiqh  inilah,   Imam   Hasan   al-Banna,   pernah mengeluarkan  fatwa  ketika  dia ditanya oleh orang-orang yang berselisih pendapat mengenai shalat tarawih: apakah  ia  harus dilakukan  sebanyak dua puluh rakaat seperti yang dilakukan di al-Haramain dan tempat-tempat lain, dan seperti  yang  masyhur dalam mazhab yang empat; ataukah shalat itu dilakukan sebanyak delapan rakaat, sebagaimana yang dianjurkan  oleh  para  ulama salaf?  Dalam  pada  itu,  semua  penduduk  desa yang bertanya kepada  Syaikh  al-Banna  nyaris  saling  baku  hantam  karena persoalan ini.

Syaikh  al-Banna  memberikan  pandangan  kepada  mereka  bahwa sesungguhnya shalat tarawih itu hukumnya sunnah dan  persatuan umat   Islam  itu  hukumnya  wajib.  Lalu,  bagaimana  mungkin orang-orang  itu  mengabaikan  sesuatu   yang   fardhu   untuk melakukan  perkara  yang  hukumnya  sunnah.  Kalau mereka akan shalat di rumah-rumah mereka tanpa  melakukan  permusuhan  dan pergaduhan,  tentu  hal itu akan lebih baik dan dianggap lebih benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s