Antara Emas dan Pasir

Posted: 14 Juni 2009 in Nasehat

Wahb ibn Munabbih mengisahkan bahwa seseorang menemui gurunya dan berkata, “Aku telah memuang hawa nafsu”….. “Apakah kamu masih bisa membedakan antara wanita dan obat-obatan ?” tanya gurunya. Orang itu menjawab, “Ya”

“Kau bukan membuang hawa-nafsu, tetapi malah membuatnya semakin kokoh,” tandas sang Guru.

Nabi Isa Ibn Maryam as. bertanya kepada kaumnya, “Menurut kalian apakah kedua barang ini sama ?” Di tangan kanannya EMAS, sedangkan di tangan kirinya PASIR. “Tidak !” jawab mereka. “Bagiku keduanya sama,” sanggah Nabi Isa as…… Inilah orang [maksudnya Nabi Isa as.] yang berhasil menaklukkan hawa-nafsunya.

Barangkali ada yang bertanya, “Bagaimana hati menganggap pasir dan emas itu sama ?” Manusia membedakan keduanya, atau lebih menghargai emas daripada pasir karena dorongan hawa-nafsu dalam shadrnya. Menjadikan ia melihat emas lebih bermanfaat daripada pasir sehingga lebih menghargainya.

Karena itu, sepatutnyalah orang yang ingin lepas dari belenggu hawa-nafsu agar mengolah-jiwanya hingga mampu memandang segala sesuatu dengan cahaya keyakinan. Semua adalah ciptaan Allah Ta’ala, semua adalah makhluk Allah Ta’ala. Penilaiannya terhadap setiap ciptaan-Nya senantiasa diselaraskan dengan penilaian Allah Ta’ala kepada ciptaan-Nya itu. Allah Ta’ala bisa saja memberikan nilai yang dikandung emas kepada batu atau kaca, sehingga nilai emas menjadi rendah.

Tidakkah anda pernah mendengar bahwa Umar bin Khattab ra. pernah hendak membuat dirham dari kulit sapi ?

Penghargaan terhadap dirham dan dinar harus sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala, bukan dengan dorongan hawa-nafsu. Kalau ada orang pergi ke Samarkand dengan membawa uang yang berlaku disana, dia pasti akan sangat menghargai uang itu. Dia akan sedih bila uang itu hilang dan senang jika mendapatkannya kembali. Tetapi seandainya dia pergi ke daerah lain tempat uang yang dibawanya tidak berlaku, dia tentu tidak berkeberatan membuang uang itu.

Ini adalah bukti bahwa emas sangat berharga dalam hati karena logam itu memiliki manfaat besar. Ia sebenarnya bisa saja ditukar dengan segala sesuatu. Atas dasar inilah, Allah Ta’ala sangat membenci orang yang menghargai dinar dan dirham (atau segala sesuatu) karena manfaatnya, bukan karena Allah.

Anda harus melatih dan memisahkan diri anda dari semua pandangan demikian supaya hati bersih dan berjalan di atas keyakinan yang lurus. Dengan begitu anda bisa melihat dinar dan dirham sama seperti makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta’ala lainnya.

Setelah itu, barulah anda mampu menilainya sesuai dengan penilaian Allah Ta’ala. Apabila anda sudah mampu menilai keduanya dengan benar seraya menyadari manfaat keduanya, saat itulah anda akan mengetahui nilai hakiki keduanya. Kedua logam itu tak lain adalah salah satu di antara sekian banyak ciptaan-Nya. Inilah maksud pernyataan Nabi Isa. as di atas.

Penilaian kita terhadap manusia lain juga seharusnya demikian, bukankah ….. tidak ada yang berbeda diantara setiap manusia dihadapan Allah Ta’ala kecuali disebabkan ketaqwaannya ….

”…… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu….” QS.[49]:13

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s