Jangan Bermegah-megahan!

Posted: 12 Juni 2009 in Nasehat

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS Altakasur [102]: 1-4).

Dalam surat di atas, Allah menjelaskan bahwa perbuatan bermegah-megahan di dunia merupakan sifat jelek dan harus dijauhi. Sebaliknya, Islam mengajarkan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti kita meninggalkan dunia, tetapi memiliki harta dunia hanya sesuai kebutuhan. Kalau kita memiliki harta di luar kebutuhan, ini bisa digolongkan dengan bermegah-megahan atau takasur .

Salah satu fenomena atau contoh yang membawa sifat bermewah-mewah adalah hobi memiliki kendaraan mewah di tengah kondisi masyarakat yang sulit serta dilanda berbagai bencana alam, kemiskinan, dan kelaparan. Kendaraan yang harganya ratusan hingga miliaran rupiah itu kalau dilihat dari fungsinya sama dengan kendaraan yang harganya mungkin 10 kali lebih murah.

Belum lagi, ketika kita memakai kendaraan tersebut di jalan raya, sifat mutakabbir (sombong) akan muncul. Tak jarang, mereka juga tidak mengindahkan hak-hak pengendara lain. Allah SWT sangat tidak suka dengan hamba-Nya yang takabur. Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan dan kekasih-Nya saja hidup dengan sederhana dan jauh dari sikap itu. Maka, sudah sepatutnya kita menjauhi perilaku sombong atau membanggakan diri.

Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa sifat takasur hanya bisa dihentikan dengan dua hal. Pertama, dengan jalan tobat. Kedua adalah liang kubur (kematian). Bila liang kubur yang menghentikan kita, kita akan celaka di akhirat kelak karena kita akan dimurkai Allah SWT dengan hanya memikirkan kemegahan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, ”Barang siapa yang di dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun sebesar biji zarrah , dia tidak akan masuk surga.” (Muttafaq ‘Alaih).

Sekaranglah waktunya untuk merenungi kekeliruan kita dalam menyikapi harta dunia. Kalau kita diberi kelebihan harta oleh Allah SWT, bukan berarti kita bebas menggunakannya sesuai dengan hawa nafsu dunia. Lihatlah sekitar kita, adakah anak-anak yang tidak bisa meneruskan sekolah karena ayahnya kehilangan pekerjaan? Adakah anak-anak dengan derita kurang gizi karena penghasilan orang tuanya tak mampu untuk membeli makanan yang layak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s