SYAIKH UMAR TILMISANI

Posted: 11 Juni 2009 in Tokoh

(Mursyid ‘Aam III Ikhwanul Muslimin, 1322 – 1406 H/1904 – 1986 M)

Syaikh Umar Tilmisani adalah salah seorang dari tokoh-tokoh da’i dan murobbi. Nama lengkapnya Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani. Beliau pernah menjabat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah wafatnya Mursyid ‘Aam kedua, Hasan Hudhaibi pada bulan November 1973.

TEMPAT, TANGGAL LAHIR DAN MASA KECIL SYAIKH UMAR TILMISANI
Garis keturunan Syaikh Umar Tilmisani berasal dari Tilmisan, Aljazair. Beliau dilahirkan di kota Cairo pada tahun 1322 H/1904 M, di jalan Hausy Qadam, Al Ghauriyah. Ayah dan kakeknya merupakan pedagang kain dan batu permata.
Kakek beliau merupakan seorang salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena itu beliau hidup dan besar dalam suasana yang jauh dari bid’ah. Syaikh Umar Tilmisani mendapat pendidikan awal di sekolah yang dikelola oleh yayasan sosial tingkat menengah dan atas di Madrasah Ilhamiyah, kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum. Tahun 1933 beliau lulus dari Fakultas Hukum kemudian menjadi pengacara di Syabin Al-Qanathir dan bergabung dengan jama’ah Ikhwanul Muslimin.
Syaikh Umar Tilmisani merupakan pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan, mewakafkan pemikiran dan potensi untuk membelanya. Beliau merupakan orang kuat Hasan Al-Banna. Beliau sering menyertai Al-Banna dalam beberapa kunjungan, baik di dalam maupun di luar Mesir. Bahkan, Imam Syahid sering meminta bantuannya dalam menyelesaikan beberapa masalah.
Syaikh Umar Tilmisani nikah ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Istrinya wafat pada bulan Agustus 1979 setelah menyertainya selama setengah abad lebih. Dari perkawinannya itu, mereka dikaruniai empat orang anak : Abid, Abdul Fattah dan dua orang putri.
Kesibukan beliau sebagai pengacara tidak membuatnya lupa untuk selalu menuntut ilmu. Beliau banyak menelaah berbagai ilmu, seperti : tafsir, hadits, fiqh, sirah, tarikh dan biografi para tokoh. Syaikh Umar Tilmisani juga mengikuti perkembangan berbagai konspirasi musuh-musuh Islam, baik di dalam maupun di luar Mesir. Beliau sangat serius dalam mengkaji dan menentukan sikap serta menentang konspirasi dengan bijaksana dan nasihat yang baik. Beliau juga membantah tuduhan-tuduhan, mengikis syubhat-syubhat dengan ‘izzah seorang mukmin yang faham ketinggian agamanya dan kehinaan selain Islam. Tiada penolong selain Allah Ta’ala dan tiada agama yang diridhai selain Islam.

KOMITMEN DIRI SYAIKH UMAR TILMISANI
Syaikh Umar Tilmisani meninggalkan kesan positif pada setiap orang yang mengenal dan berhubungan dengannya. Beliau dikaruniai kejernihan hati, kebersihan jiwa, kehalusan ucapan, keindahan ungkapan yang keluar dari lisannya, lidah yang fasih dengan teknik berdebat dan dialog yang sangat tersusun. Beiau menceritakan tentang dirinya : “Karena itu saya tidak bermusuhan dengan siapapun, kecuali dalam rangka membela kebenaran atau mengajak menerapkan Kitabullah. Kalaupun ada permusuhan, maka itu berasal dari pihak mereka, bukan dariku. Saya bersumpah untuk tidak menyakiti seorangpun dengan kata-kata kasar, meskipun tidak setuju dengan kebijakannya atau bahkan dia menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi permusuhan antara diriku dengan seseorang karena masalah pribadi”.
Tidak berlebihan kalau disimpulkan bahwa siapapun yang keluar dari majelisnya pasti mengagumi, menghormati, dan mencintai da’i unik yang menjadi murid Imam Hasan Al-Banna ini. Da’i yang lulus dari madrasah Ikhwan, bergabung dengan jama’ahnya sebagai da’i yang tulus dan ikhlas.

AKHLAK DAN SIFAT SYAIKH UMAR TILMISANI
Syaikh Umar Tilmisani sangat pemalu, seperti diketahui orang-orang yang mengenalnya dari dekat. Orang yang sering duduk dan berdialog dengan Syaikh Umar Tilmisani merasakan betapa keras dan lamanya ujian yang beliau alami di penjara, malah mensterilkan dirinya sehingga tiada tempat di dalam dirinya kecuali kebenaran. Beliau mendekam di penjara selama hampir dua puluh tahun. Beliau masuk penjara pada tahun 1948 dan masuk lagi pada tahun 1954. Penguasa Mesir memenjarakannya untuk ketiga kalinya tahun 1981. Namun ujian-ujian itu tidak mempengaruhi dirinya, bahkan justru menambah ketegasan dan ketegarannya.
Dalam wawancara dengan majalah Al-Yamamah Arab Saudi edisi 14 Januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tabiat yang membesarkanku membuatku benci kekerasan, apapun bentuknya. Ini bukan hanya sekedar sikap politik, tapi sikap pribadi yang terkait dengan struktur keberadaanku. Bahkan, andai dizalimi, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Mungkin saya menggunakan kekuatan untuk mengadakan perubahan, tetapi tidak untuk kekerasan.”

SURAT UNTUK PRESIDEN

Dalam surat terbuka untuk Presiden Mesir yang dimuat dalam surat kabar Asy-Sya’ab Al-Qahiriyyah edisi 14 Mei 1986, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Wahai Presiden Yang Mulia, yang terpenting bagi kami, kaum muslimin Mesir adalah menjadi bangsa yang aman, stabil dan tenang di bawah naungan syari’at Allah Ta’ala. Sebab kemaslahatan umat ini terletak pada penerapan syari’at-Nya. Tidak berlebihan bila saya katakan, bahwa penerapan syari’at Allah Ta’ala di Mesir akan menjadi pembuka kebaikan bagi seluruh wilayahnya. Dengan itulah, penguasa dan seluruh rakyat mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.”

NASEHAT-NASEHAT SYAIKH UMAR TILMISANI

Dalam untaian nasehat yang disampaikan kepada generasi muda Ikhwan, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tantangan yang dialami da’i sangat berat dan sukar. Kekuatan material berada di tengah-tengah musuh-musuh Islam yang bersatu untuk memerangi umat Islam, meskipun mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Jama’ah Ikhwanul Muslimin sekarang menjadi sasaran tembak mereka.
Menurut logika dan akal manusia, pasukan Thalut yang beriman tidak mampu melawan Jalut dan tentaranya. Tetapi, ketika pasukan kaum mukmin yakin kemenangan itu datang dari Allah Ta’ala, bukan hanya bergantung pada jumlah pasukan dan kelengkapan persenjataan, maka mereka dapat mengalahkan Jalut dengan izin Allah Ta’ala.
Saya tidak meremehkan kekuatan pribadi, juga tidak meminta da’i selalu membisu, zikir dengan menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri, memukulkan telapak tangan dan menengadahkan dagu, karena itu semua bencana yang membahayakan dan mematikan. Sesungguhnya yang saya inginkan ialah berpegang teguh dengan wahyu Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar, tidak menghiraukan gangguan, menjadikan diri sebagai teladan dalam kepahlawanan, bersikap ksatria, istiqomah dan yakin bahwa Allah Ta’ala pasti menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, agar dapat diketahui siapa yang tulus dan siapa yang munafik. Aspek-aspek inilah yang merupakan faktor-faktor penyebab kemenangan. Kisah-kisah di dalam Al-Quran merupakan argumen paling baik dalam masalah ini.
Semangat pemuda yang diiringi pemahaman mendalam tidak memerlukan banyak eksperimen, tetapi sangat memerlukan kesabaran, kekuatan dan komitmen pada aturan Al-Quranul Karim, dan mengkaji sirah generasi pendahulu yang telah menerapkannya di setiap aktivitas mereka. Itu penting, agar Allah Ta’ala mengkaruniakan kemengangan, kemuliaan dan kekuasaan yang hampir dianggap mustahil”.

ISTIQOMAH DAN KEBERANIAN SYAIKH UMAR TILMISANI
Ustadz Umar Tilmisani dikenal sebagai seorang yang tegas di dalam maupun di luar penjara. Beliau tidak pernah tunduk pada ancaman atau intimidasi. Beliau juga dikenal sebagai seorang yang zuhud, ‘iffah (menjaga kehormatan), hanya takut kepada Allah Ta’ala dan selalu mengharap ridho-Nya.
Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Saya tidak pernah takut kepada siapapun selama hidupku, kecuali kepada Allah Ta’ala. Tidak ada yang dapat menghalangiku mengucapkan kebenaran yang saya yakini, meskipun orang lain merasa berat dan saya mendapatkan kesusahan karenanya. Saya katakan apa yang saya yakini dengan tenang, mantap dan sopan, agar tidak menyakiti pendengar atau melukai perasaannya. Saya juga berusaha menjauhi kata-kata yang mungkin tidak disukai lawan bicaraku. Dengan cara seperti itu, saya mendapatkan ketenangan jiwa. Andai cara ini tidak dapat merekrut banyat kawan, maka berdiam diri menjagaku dari kejahatan lawan.”

Sikap tulus dalam ucapan, serius bekerja, berani menghadapi persoalan, istiqomah dan teguh menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar adalah ciri khas Ustadz Umar Tilmisani. Dalam dialog terbuka di kota Ismai’iliyah yang dihadiri Ustadz Umar Tilmisani dan disiarkan langsung di radio dan TV, Presiden Anwar Sadat menuduh jama’ah Ikhwanul Muslimin sebagai dalang dari fitnah Sekretariat. Anwar Sadat juga melontarkan tuduhan palsu lainnya kepada Ikhwan. Tidak ada pilihan bagi Ustadz Tilmisani kecuali berdiri menjawab tuduhan Anwar Sadat, “Siapapun yang berlaku zalim kepadaku, maka biasanya saya adukan kepada Anda. Karena Anda rujukan tertinggi – setelah Allah Ta’ala – buat orang-orang yang mengadu. Sekarang, kezaliman itu datang dari Anda, karena itu saya adukan Anda kepada Allah Ta’ala !”.
Mendengar itu semua, Anwar Sadat terkejut dan gementar, kemudian meminta agar Ustadz Umar Tilmisani menarik kembali pengaduannya. Ustadz Tilmisani menjawab dengan tegas, sopan, dan menegaskan, “Saya tidak mengadukan Anda kepada pihak yang zalim, tapi kepada Zat Yang Maha Adil. Dialah yang mengetahui segala yang saya katakan!”

Gaya Hidup Syaikh Umar Tilmisani
Gaya menawan dalam dialog yang mewarnai setiap tindakan Syaikh Umar Tilmisani bukanlah tindakan yang dibuat-buat. Itulah ciri khas yang melekat pada ucapan, perilaku, akhlak, dan interaksinya; baik dengan individu, jamaah,pemimpin, penguasa, dan majoriti manusia, tanpa membeda-bedakan orang kecil atau orang besar, orang miskin atau orang kaya. Syaikh Umar Tilmisani sangat meyakini prinsip Ikhwanul Muslimin yang diambil dari Al-Qur’an, As-Sunah, dan ijma’ para ulama’.

Jamaah dan Syaikh Umar Tilmisani

Syaikh Umar Tilmisani berpendapat, Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang tulus dan murni. Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Orang yang menghayati langkah-langkah Ikhwanul Muslimin, semenjak berdirinya pada tahun 1347 H./I928 hingga hari ini, tidak akan menjumpai sesuatu pun kecuali serangkaian pengorbanan berkesinambungan untuk menegakkan aqidah, potensi optimum yang produktif di semua sektor kegiatan sosial, berupaya mengukuhkan ikatan persaudaraan antara berbagai-bagai bangsa muslim, dan usaha menyebarkan perdamaian di seluruh negara.
khwanul Muslimin diperangi berbagai aliran; baik dari dalam maupun luar negeri.
Meskipun demikian, Ikhwanul Muslimin tidak pernah sekali-kali berusaha menyebarkan fitnah, memecah-belah persatuan, menghancurkan lembaga-lembaga lain, berdebat secara anarkis, atau menbuat fitnah untuk menjatuhkan seseorang.”
Ciri khas lain Syaikh Umar Tilmisani ialah menyejukkan, membangunkan semangat, dan dasar interaksinya yang setia, meskipun terhadap orang yang tidak pernah mau sepakat, bahkan memerangi Ikhwanul Muslimin. Syaikh Umar Tilmisani berwasiat, “Muslim tidak mengenal istilah ‘agama milik Allah dan tanah air milik semua orang.” Setiap muslim meyakini segala yang ada di alam ini milik Allah Ta’ala semata. Siapa yang berusaha mengubah makna ini merupakan penipu yang ingin merampas sumber kekuatan negara, agar mudah dikhianati. Orang muslim tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara. Mereka yakin sepenuhnya pemerintah tidak mempunyai hak bersama Allah Ta’ala., sebab apabila diyakini pemerintah mempunyai hak bersama Allah Ta ‘ala, maka pemerintah menjadi sekutu bagi-Nya. Sedang muslim tidak mengakui kemusyrikan dalam bentuk apa pun.”

Sifat Zuhud, Tawadhu, dan Sederhana Syaikh Umar Tilmisani
Ustadz Umar Tilmisani adalah dai, murabi, dan pemimpin yang hidup secara tulus dengan Allah Ta ‘ala, berjuang untuk menegakkan agama-Nya, aktif dalam dunia dakwah, bersabar, selalu meningkatkan kesabaran, berjaga, berjihad, berpegang teguh pada tali agama Allah Ta’ala yang kokoh, dan bekerjasama dengan mujahid yang tulus, baik ketika menjadi perajurit atau pemimpin, di penjara atau di luar penjara.
Beliau tidak pernah mengubah sikap, pembohong, menyimpang, tamak terhadap keindahan dunia dan kekuasaan. Beliau meninggalkan kehidupan yang penuh dengan bunga-bunga dunia, untuk menghadap Allah Ta ‘ala.Beliau tinggal di apartment yang sangat sederhana dan bersyukur dengan hidupnya, tanpa memaksakan diri. Saya (penulis artikel ini-Red) sedih hingga air mataku ingin keluar membasahi pipi, tapi saya berusaha menahannya karena khuatir beliau menyadarinya. Apalah artinya kita jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibebaskan imannya dari penyakit cinta dunia, dan mengorbankan apa saja untuk memperjuangkan agama! Apartment Syaikh Umar Tilmisani berada di lorong sempit Komplek Al-Mulaiji Asy-Sya’biyah AI-Qadimah, wilayah Ath-Thahir Kairo. Tangga menuju ke kediamannya sudah tua dan usang, dan perabotnya sangat sederhana. Padahal beliau berasal dari keluarga yang kaya-raya dan berstatus tinggi. Ini semua mencerminkan kezuhudan, kesederhanaan, dan ketawadhuannya. Syaikh Umar Tilmisani dicintai pemuka masyarakat Mesir di semua lapisan. Orang-orang Qibthi juga mencintai dan menghormatinya. Bahkan ahli kerajaan pun amat menyeganinya dan mengakui sifat-sifat mulianya.
Seluruh anggota Ikhwanul Muslimin menganggapnya sebagai contoh teladan, berlomba-lomba untuk menimba ilmunya, dan berebut untuk melaksanakan seruannya. Ini karena cinta kepada Allah Ta ‘ala merupakan landasan interaksi mereka, penerapan syariatNya merupakan target mereka, dan keredhaanNya tujuan mereka.
Kunjungan Syaikh Umar Tilmisani ke berbagai negara Islam; baik Arab maupun non-Arab, dan kaum muslimin di tempat pengasingan, adalah penglipur lara luka-lukaumat, sekaligus memberi bimbingan untuk kaum muslimin dalam melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk agama, umat, dan tanah air mereka. Seluruh kajian, ceramah, dialog, nasihat, bimbingan, dan ucapan Syaikh Umar Tilmisani memberi motivasi kepada umat, terutama para pemuda, intelektual, dan golongan ulama, agar memikul tanggungjawab dan menunaikan peranan dalam mengembalikan kejayaan Islam, sesuai dengan posisi dan bakat masing-masing. Inilah tugas dai di setiap masa dan tempat, sebab inilah risalah yang dibawa oleh para rasul yang diwariskan kepada ulama, aktivis pergerakan, dai yang tulus, dan kaum mukminin yang ikhlas.

Karya-Karya Syaikh Umar Tilmisani

Ustadz Umar Tilmisani menyumbangkan khazanah pemikiran Islam menerusi beberapa karya tulisan dalam beberapa tema. Antara karyanya yang paling terkenal ialah:

1. Syahidul Mihrab ‘Umar Ibnu Al-Khathab.

2. Al-Khuruj Minal Ma’zaqil Islamir Rahin.

3. Al-Islamu wal Hukumatud Diniyah.

4. Al-Islamu wal Hayah.

5. Araa Fid Din Was Siyasah.

6. Al-Mulhimul Mauhub Hasanul Banna;Ustadzul Jil.

7. Haula Risalah (Nahwan Nur).

8. Dzikrayat La Mudzakkirat.

9. Al-Islam wa Nazhratuhus Samiyab Lil Mar’ah.

10. Ba’dhu Ma ‘Allamanil Ikhwanul Muslimun.

11. Qalan Nasu Walam Aqulfi Hukmi ‘AbdinNasir.

12. Ayyam Ma’as Sadat.

13. Min Fiqhil I’lamil Islami.

14. Min Sifatil ‘Abidin.

15. Ya Hukkamal Muslimin, Ala Takhafunallah?.

16. Fi Riyadhit Tauhid.

17. La Nakhafus Salam, Walakin.

Ditambah lagi karya tulisan berupa pengantar redaksi didalam majalah Ad-Dakwah Al-Qahiriyah, makalah tentang persoalan Islam yang dimuat dalam berbagai majalah dan surat khabar, ceramah di seminar; baik di negara-negara Arab, Islam, maupun Barat, kajian, dan bimbingan yang disampaikan dalam program-program Ikhwan.

Komentar Umum tentang Syaikh Umar Tilmisani
Dalam bukunya, ‘Umar Tilmisani Al-Mursyid Ats-Tsalis Lit Ikhwan Al-Muslimun, Ustadz Muhammad Said Abdur Rahim menyatakan, ” Thaghut (penguasa zalim; Abdun Naser) meninggal dunia, lalu para tahanan yang meringkuk di dalam penjara selama bertahun-tahun dikeluarkan, Ujian yang menimpa mengukuhkan jiwa, dan menguatkan tekad mereka. Fisik mereka memang menjadi lemah, tetapi ruh mereka semakin rindu kepada apa yang ada di sisi Allah Ta ‘ala dan menganggap dunia tidak ada artinya. Bahkan, ketakutan hilang dari hati mereka. Mereka keluar dari penjara menjadi manusia yang istiqomah dan kukuh, laksana gunung-ganang karena di penjara mereka menghafal AI-Qur’anul Karim dan menimba ilmu. Dalam penjara, mereka berjaya menundukkan syahwat dan mengenal watak asli manusia. Benar, penjara menjadi madrasah dan guru yang memberi lebih banyak kepada mereka, daripada yang diminta dari mereka.
Di antara orang yang keluar dari penjara ialah Ustadz Umar Tilmisani. Allah Ta ‘ala menyiapkannya memimpin Jamaah pada fasa menakhodai bahtera yang sedang mengarungi gempuran badai samudra dengan bijaksana, sabar, tenang, dan lembut disertai keteguhan iman dan semangat baja.
Pada zaman kepimpinan Syaikh Umar Tilmisani, dakwah berkembang pesat melebihi masa-masa sebelumnya. Para pemuda yang ingin tahu kepada Islam, hingga semangat keislaman menjadi warna dominan di berbagai kampus dan persatuan, bahkan di Mesir secara keseluruhannya. Beliau mampu menakhodai bahtera secara piawai, tangkas, dan profesional. Dan hasilnya, bahtera dapat melintasi berbagai-bagai perangkap dan gelombang bahaya, hingga akhirnya tiba di pantai yang aman.
Umar Tilmisani —rahimahullah- mengalami berbagai ujian dan menghabiskan sekitar dua puluh tahun umurnya di penjara. Beliau tabah dan sabar menghadapi penyiksaan dari penjaga penjara. Meskipun mendapat siksaan keras dan perlakuan kasar dari penjaga penjara, lisannya tidak pernah bosan berzikir kepada Allah Ta ‘ala dan mengajak saudara-saudaranya bersabar dan istiqomah. Bahkan, lisannya tidak pernah mengucapkan kata-kata keji kepada penjaga penjara dan orang-orang yang
menzaliminya. Beliau menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta ‘ala kerana Dialah sebaikbaik pihak yang diserahi.

Kembali ke Rahmatullah

Ustadz Umar Tilmisani pulang ke rahmatullah pada hari Rabu, 13 Ramadhan 1406, bersamaan dengan 22 Mei 1986 di rumah sakit, karena menderita sakit, dalam usia hampir 82 tahun.

Syaikh Umar Tilmisani disholatkan di Masjid Jami’ Umar Mukarram, Cairo, dengan dihadiri pelayat yang jumlahnya mendekati seperempat juta manusia. Bahkan ada yangmengatakan setengah juta manusia dari penduduk Mesir dan utusan yang datang dari luar Mesir.
Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan kesempatan padaku (penulis artikel ini-Red) untuk ikut melayat beliau bersama beberapa Ikhwan dari negara-negara Arab. Inilah biografi ringkas Ustadz Umar Tilmisani, Mursyidul Am Ketiga Ikhwanul Muslimin,
Semoga Allah Ta ‘ala menerima dan memasukkannya ke dalam golongan hambahamba-Nya yang shalih, serta menyertakan kita bersama mereka di sisi-Nya.
QS An-Nisa 4 : 69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.
[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s