TERTIPU OLEH TUJUAN ANTARA

 

Seharus  kita berdzikir mengingat  Allah sepanjang waktu yang dimiliki.  Tidak hanya seusai shalat, tetapi sejak bangun pagi sampai kita tidur kembali. Demikianlah dimaksudkan Allah dalam berbagai firman-Nya, bahwa tetaplah berdzikir setelah selesai shalat.   Dan teruslah berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.

QS. An-Nisaa’ (4) : 103.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Ayat yang lain memperjelaskan apa dan bagaimana yang dimaksud dengan ingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring itu.

QS. Ali Imran (3) : 191.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Jika kita bertanya pada diri sendiri atau kepada orang lain, Manakah yang lebih penting dunia atau akhirat? Tentu kita akan menjawab  akherat….! Lalu jika kita bertanya lagi, lebih banyak mana waktu yang kita habiskan untuk dunia atau akhirat? Tentu kita akan menjawab untuk dunia………..

Ya, ternyata kita tidak konsisten! Katanya akhirat lebih penting daripada dunia. Tetapi dalam kegiatan sehari-hari lebih banyak kita mengejar dunia. Daripada akhirat.

Coba saja dalam sehari yang kita alokasikan untuk kegiatan dunia. Bandingkan dengan waktu untuk mengejar akhirat. Untuk tidur, katakana rata-rata 6 jam. Untuk bekerja 8 jam. Untuk makan sekitar 2 jam. Untuk bersantai, olah raga, nonton, baca Koran kurang lebih 3 jam. Untuk berkendaraan anggap 2 jam!

Sisanya yang 3 jam kita bagikan untuk shalat dan berdzikir, masing-masing 20 menit dikalikan 5 waktu, sekitar 100 menit. Baca Qur’an setiap hari 20 menit. Mendengar pengajian, baca buku dan beramal kebajikan lainnya rata-rata 1 jam per hari. Habislah waktu 3 jam yang tersisa….!

Coba kita perhatikan kenyataan waktu yang kita habiskan! Digunakan untuk urusan dunia 21 jam. Sedangkan urusan akhirat 3 jam! Begitukah cara kita mengejar akherat?!

QS. Al An’am (6) : 70

“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” 

Allah mengingatkan kepada kita secara tersirat tapi tegas dalam ayat di atas. Jangan sampai kita tertipu oleh dunia, sehingga kelak kita menyesal. Kebahagian sesungguhnya berada di akherat. Selama ini kita telah tertipu oleh angan-angan kosong kita sendiri. Dan tanpa sadar menjadi tidak konsisten. Bahkan tidak masuk akal. Apa yang menjadi tujuan utama, kita lalaikan. Sedangkan yang menjadi tujuan antara kita kejar habis-habisan. Allah mengkritik orang yang bodoh dan lalai.

QS. Ar Ruum (30) : 7.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”

Maka, apakah yang harus kita lakukan? Jawabnya sederhana saja : “bertindaklah yang proporsional.” Kalau kita sudah paham akhirat  tujuan utama, maka utamakanlahn ia. Sedangkan dunia sebagai ‘tujuan antara’, maka jadikan ia sebagai perantara untuk mencapai tujuan akhirat.

Lantas, bagaimana cara formulanya? Bukankah waktu kita hanya 24 jam sehari semalam? Kita tidak perlu memisah-misahkan antara kegiatan dunia dan akhirat. Karena keduanya karunia Allah. Yang satu diberikan sekarang dan yang lain diberikan nanti. Kedua-duanya harus kita ambil dan kita nikmati.

Karena sekarang adalah kehidupan dunia, maka jadikan kehidupan dunia sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Jangan ditinggalkan dan jangan dijauhi.

Jangan tidak bekerja dengan alasan mengganggu shalat dan dzikir kita. Jangan pula tidak berolah raga dengan alasan bisa mengganggu tidak bisa baca Alqur’an. Jangan pula tidak berumah tangga, karena takut mengganggu kedekatan kita kepada Allah. Karena semuanya bisa dilakukan secara simultan.

Betapa banyak orang yang bekerja tetapi tetap bisa melakukan shalat dan dzikir kepada Allah. Betapa banyak orang yang berolah raga sambil menghafal Alqur’an. Dan betapa banyak orang yang berumah tangga sambil memenuhi perintah Allah untuk menyiapkan generasi berkualitas di masa depan yang akan mengembalikan kejayaan umat Islam sebagai umat teladan…..

Dunia buka untuk diabaikan. Tapi untuk dikelola supaya memberikan kebahagiaan kepada manusia. Tapi ingat, ini bukan tujuan final. Karena kita sedang menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat.

Seorang muslim harus menjadi kaya, agar bisa naik haji. Agar bisa membantu orang miskin. Agar bisa membantu janda-janda miskin dan anak yatim. Agar bisa menciptkan lingkungan yang sehat dan nyaman.

Seorang muslim harus pandai dan berilmu pengetahuan tinggi, agar kita tidak terus menerus menjadi orang bodoh seperti sekarang ini.

Seorang muslim harus menjadi pengusaha, agar potensi umat Islam ini bisa dikelola secara baik. Hidup damai sejahtera yang dirahmati dan diridhoi oleh Allah.

Pokoknya umat Islam harus maju dalam segala bidang. Dunia harus berada dalam genggaman kita. Bukan malah tersingkir dari kenikmatan dunia. Padahal dunia diciptakan untuk kita. Tapi malah kita acuhkan, sungguh kita berdosa kepada Allah. Kita melecehkan Allah yang telah menciptakan semua ini untuk kebahagiaan manusia….

QS. Al-Baqarah (2) : 29.

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”      

QS. Ibrahim (14) : 32.

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Dan masih banyak ayat-ayat yang bercerita tentang betapa Allah telah menciptakan segala yang ada ini untuk kebahagiaan manusia. Tidak ada ayat yang melarang kita menikmatinya. Yang dilarang itu adalah hidup bermewah-mewah dan bermegah-megahan, sehingga lupa dari mengingat Allah. 

Wallahu’alam.

APAKAH KHUSYUK BISA DIUKUR???

 

Apakah Dzikir, Do’a dan Shalat yang kita lakukan sudah khusyuk? Dan bisakah kita mengukur khusyuk? Pertanyaan demikian agar kita benar-benar bisa menjadi hamba yang mantap dalam beribadah.

Allah SWT telah mengajarkan cara mencapai  kekhusyukan dan sekaligus mengukurnya. Dalam beberapa ayat Allah SWT menyinggung masalah kekhusyukan diantaranya

QS. Al Baqarah (2) : 45-46

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Ayat di atas menerangkan bahwa yang dimaksud dengan khusyuk adalah orang-orang yang meyakini mereka akan bertemu dengan Tuhannya saat berkomunikasi, dan suatu ketika akan kembali bertemu dengan-Nya.

Seseorang bisa disebut khusyuk, jika ia menyadari penuh dengan keyakinan bisa bertemu dengan Allah. Baik saat dzikir, do’a dan shalatnya. Bahkan saat nanti ketika ia meninggalkan dunia ini. Jadi orang yang tidak memantapkan hatinya akan bertemu dengan Allah disebut tidak khusyuk.

Untuk mencapai kekhusyukan tidak bisa instant, melainkan melalui proses kepahaman sampai  memperoleh keyakinan. Bahwa Allah bisa ditemui kapanpun dan dimanapun. Keyakinan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Allah meliputi semua makhluk-Nya termasuk manusia. Kita harus memahami konsep Tauhid secara holistic, jika tidak maka tidak akan bisa mencapai kekhusyukan.

QS. Al Israa’ (17) : 106-110.

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakan perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud,
108. dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”   Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.   Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya  dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Kekhusyukan berkaitan erat dengan kepahaman terhadap Alqur’an. Karena itu Allah menurunkan Alqur’an secara berangsur-angsur. Kemudian disuruh membaca dan memahaminya secara perlahan-lahan.

Berdasarkan proses pembelalajaran tersebut, lantas kita bisa meyakini dan beriman kepada Allah SWT. Bagi orang yang berilmu akan gemetar membaca Alqur’an, karena Alqur’an berisi ilmu pengetahuan tingkat tinggi, kemudian tersungkur dan sujud kepada Allah.

Orang-orang yang beriman akan selalu bertasbih dan mensucikan Allah semata. Dan bertambah mantap keimanannya dengan kebenaran Allah. Mereka akan tersungkur kemudian menangis sambil bersujud dan bertambah khusyuk dalam ibadahnya.

Jadi substansi dari kekhusyukan adalah paham tentang Allah, kenal, yakin bisa bertemu dengan Allah dan yakin bakal kembali kepada-Nya. Bertasbih, bersujud sampai meneteskan air mata, berdzikir dan berdo’a dengan suara yang lembut.

Pelajaran dari nabi Zakaria, dia melakukan  kekhusyukan beribadah kepada Allah dengan cara bersegera berbuat baik dan harap-harap cemas ketika berdo’a.

QS. Al Anbiyaa’ : (21) : 90.

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Dalam bahasa sederhana khusyuk adalah perasaan bisa bertemu dengan Allah saat berdo’a, berdzikir dan shalat. Bukan berarti bisa melihat dan mendengar dengan panca indra. Ketika bisa ‘CURHAT’ kepada pemilik alam semesta ini, mencurahkan gundah gulana, keluh kesah, mohon bantuan dari segala kesulitan. Ketika seseorang merasa plong dan ringan setelah curhat kepada Allah berarti Insya Allah ia telah bertemu Allah dan  ia termasuh orang-orang khusyuk.

Saat melakukan Dzikiri berguna  untuk menyambung jiwa kita dengan Allah SWT. Melatih supaya selalu bisa bertemu dan  akhirnya merasa selalu bertemu dengan-Nya. Sedangkan isi dzikir kita adalah memuji kebesaran Allah, memuji kekuasaan-Nya, Memuji Keagungan-Nya, dan meng-ESAkan-Nya. Sedang berdo’a adalah untuk meminta segala kebutuhan seorang hamba kepada khaliq-Nya.

Jika kita sudah merasakan bertemu dengan Allah, maka sebenarnya kita sudah melakukan ibadah dengan khusyuk. Dan kekhusyukan itu akan membekas, walaupun sudah selesai dzikir, do’a dan shalat. Itulah khusyuk yang sebenarnya. Khusyuk di dalam shalat dan khusyuk di luar shalat. Inilah ukuran khusyuk, walaupun bersifat kualitatif.      

Orang yang khusyuk adalah orang yang jiwanya sedang tenang, tawadhu’, sabar, ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT. Sebaliknya orang-orang yang tidak khusyuk adalah orang-orang jiwanya sedang kacau, stress, bergejolak, egois, memberontak dan sebagainya.

Dua kondisi tersebut akan menghasilkan getaran yang bertolak belakang. Orang yang khusyuk akan menghasilkan gelombang yang lembut. Hati dan perilakunya lembut. Orang itu akan menyenangkan dan menyejukkan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Sementara orang yang tidak khusyuk, akan menyebarkan kejelekan di tengah masyarakat. Hati dan perilakunya akan kasar dan akan merugikan orang-orang yang berada di dekatnya.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang khusyuk dalam dzikir, do’a dan shalat. Dan kita digolongkan hamba-hamba-Nya yang khuyuk……….. Amin. Wallahu’alam.    

SISTEM ALAM SEMESTA

QS. An Naazi’at (79) : 27-28.

“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.”

Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan sempurna. Alam semesta jauh lebih rumit dan raksasa jika dibandingkan badan manusia. Badan manusia hanya merupakan sebagian saja dari system alam semesta. Manusia hanya menjadi salah satu system penyusun alam semesta ini.

Jika boleh kita umpamakan dengan system jaringan computer, maka alam semesta adalah computer induk. Pusatnya ada di Arsy Allah. Disanalah terdapat prosesor utamanya. Sebuah system memori yang disebut Lauh Mahfuzh. Disinilah semua peristiwa tersimpan.

Sedangkan manusia bagaikan sebuah computer kecil yang terhubung ke sistim jaringan computer alam semesta. Kita bisa mengakses masuk ke system jaringan jika kita menyamakan system operasinya terlebih dahulu dan memiliki passwordnya atau kata sandi.

Jika tidak, maka kita akan terkungkung dalam diri sendiri. Tidak bisa masuk ke jaringan alam semesta. Ibarat bagi pengguna handphone, berada di luar service area, di luar jangkauan.

Meskipun secara fisik kita sudah berada di alam semesta, jika tidak bisa nyambung secara informasi, kita akan terasa jauh dari siapa-siapa. Jauh dari mana-mana. Persis seperti orang yang membawa handphone tetapi sedang terkungkung pada suatu gedung bertingkat sehingga tidak memperoleh sinyal. Dalam istilah Alqur’an kita berada jauh dari Allah SWT.

QS. Ibrahim (14) : 3.

“(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”     

Orang yang terjebak pada kehidupan dunia adalah orang-orang yang tersesat jauh. Karena ia terpaku pada realitas fisik saja. Padahal realitas kehidupan ini bukan hanya itu. Ada yang bersifat lahiriah dan ada yang batiniah.

Orang-orang yang terjauhkan dari informasi Al-Qur’an disebut jauh dari Allah dan tersesat. Padahal, sebenarnya Allah itu dekat, cuma kita saja yang berada di luar service area. Karena kita tidak menggunakan password untuk masuk jaringan computer alam semesta.

Pada saat seseorang yang berdzikir pada Allah, ketika itu ia memiliki password bisa masuk ke jaringan universal. Masuk pada sebuah system informasi canggih yang bebas hambatan. Frekuensi getaran jiwanya nyambung dengan frekuensi alam semesta.

Maka, pada saat kita sudah terhubung dengan jaringan pusat, kita bisa melakukan kontak dengan miliaran computer lainnya, seperti berada dalam jaringan internet.

Betapa dahsyatnya kecepatan informasi dalam jaringan alam semesta ini. Bandingkan dengan kecepatan pengiriman informasi dewasa ini. Yang paling rendah lewat internet, hanya sekitar puluhan ribu atau ratusan ribu bit per detik. Yang lebih tinggi lewat jaringan satelit bisa mencapai jutaan bit per detik. Bit adalah unit terkecil dari informasi.

Jaringan informasi alam semesta lebih dahsyat lagi. Kecepatannya ribuan sampai jutaan kali lebih hebat. Allah mengatakan satu  hari sama dengan 1000 tahun. Dan suatu ketika bisa mencapai satu hari 50.000 tahun.

QS. As Sajdah (32) : 5.

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”

QS. Al Ma’arij (70) : 4.

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”

Saat kita melakukan ibadah dan dzikir dibutuhkan keikhlasan dan kekhusyukan. Jika tidak, maka kita tidak bisa masuk dan mengakses system informasi yang ada.   Karenanya jangan heran jika banyak do’a-do’a kita yang tidak terkabulkan. Disebabkan tidak bisa menyelaraskan kondisi jiwa dengan system alam semesta. 

Adapun orang-orang yang sudah punya password, kemudian bisa masuk ke jaringan informasi  yang sangat canggih ini.  Ia bebas mengakses data yang disukai. Dengan data ini ia semakin faham hakekat kehidupan manusia. Sehingga tubuh orang-orang yang memahami data tersebut menjadi gemetar karena takut kepada Allah.  Sebaliknya tubuhnya menjadi tenang saat mengingat Allah SWT.

QS. Az-Zumar (39) : 23.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”

Wallahu’alam.

ADAKAH YANG LEBIH BAIK DARI RASULULLAH???

Allah telah menyampaikan informasi yang benar dan tegas di dalam Alqur’an, bahwa tauladan yang paling baik ada pada diri Muhammad saw. Dialah manusia yang menerima  kitab bernama Alqur’an.  Dan selain Rasulullah saw tidak bisa dijadikan tauladan yang baik, kecuali para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad..

Kenapa demikian?  Karena Rasulullah  telah teruji kepribadian dan Akhlaknya. Lantas, Allah  memilih beliau untuk menyampaikan misi kerasulan kepada umat manusia hingga akhir zaman. Kedatangan Rasulullah saw sangat ditunggu-tunggu bagi orang yang mengharapkan Rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat.

QS. Al Ahzab (33) : 21.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Keteladanan yang paling sempurna tentang apa yang diajarkan Allah ada pada keteladanan yang telah dicontohkan Rasulullah. Sedangkan pada Nabi dan Rasul sebelum Muhammad juga terdapat ketauladanan yang baik. Yaitu pada diri Ibrahim dan orang-orang bersama dengannya.

QS. Al Mumtahanah (60) : 4.

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

Jika kita bercermin dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, tentu akan memberikan inspirasi dan tuntunan yang paling jelas. Tuntunan utama adalah Alqur’an dan penjabarannya ada pada diri dan prilaku beliau.

Sungguh luar biasa apa yang ada pada diri Rasulullah itu, sampai-sampai Allah yang menjamin kebersihan dan kebenaran akhlaknya. Bagaimana akhlak Rasulullah itu?

Akhlak pribadi. Sangat sulit mencari bahkan tidak ada tandingannya akhlak beliau. Aisyah pernah berkata : “Rasulullah itu bagaikan Alqur’an berjalan”. Apa yang diperintah Alqur’an,  itu yang dijalankan.

Sangat banyak teladan yang bisa dipraktekkan dari Rasulullah saw diantaranya : jujur, adil, dipercaya, rendah diri, sulit marah, mudah memaafkan, selalu mendahului orang lain, kasih sayang, sangat perhatian dan seluruh perilaku kehidupan. Beliau telah menjalankan Alqur’an dan bukan sekedar  teori saja.

Sudahkan kita sebagai pengikut Muhammad menjalankan Alqur’an sebagaimana Rasulullah? Jika belum, masihkah kita berharap umat ini menjadi teladan? Perlu kita ingat, bahwa keberhasilan Rasulullah dalam mengajak orang-orang kafir masuk Islam karena akhlak beliau.

Perjuangan Rasullah pada saat memulai dakwah  sangat berat. Beliau memulainya dengan single fighter, berjuang sendirian. Namun dengan akhlak pribadinya telah menjadikan dakwah berkembang dengan pesat. Bahkan hingga hari ini jumlah umat Islam lebih dari satu miliar yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Itulah keberhasilan Rasulullah, beliau tidak saja membaca Alquran tetapi langsung mempraktekkannya.

Akhlah berkeluarga. Bagi orang-orang yang telah berkeluarga, maka Rasulullah teladan yang terbaik. Beliau tidak pernah berkata kasar kepada isteri dan anaknya. Bahkan pembantunya bernama Anas ra. telah mengabdi kepada beliau selama 10 tahun, mengaku tidak pernah Rasulullah berkata kasar apalagi menghardik.

Beliau bertutur kata lembut  dan suka mencium anak-anak. Dalam suatu riwayat diceritakan beliau mencium cucunya Hasan ibnu Ali. Seorang lelaki bernama Aqra’ Ibnu Habis berada bersama beliau kemudian berkata, “saya punya anak sepuluh, tapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Rasulullah memandang Aqra’, dan kemudian mengatakan, “Orang yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.”

Sungguh banyak keteladan yang telah diberikan Rasulullah dalam kehidupan berumah tangga.

Akhlak bermasyarakat. Dalam bermasyarakat Rasulullah bisa merangkul semua elemen masyarakat. Bukan malah terjebak dan terkotak-kotak dalam golongan tertentu.

Beliau  mencontohkan dimulai dari keluarga, kemudian ditularkan pada tetangga. Beliau menghargai dan mengasihi tetangga tanpa membeda-bedakan secara ekonomi, sosial, politik, agama dan ukuran lainnya.

Rasulullah   berpesan kepada kita, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia bersikap baik kepada tetangganya.” Banyak yang telah diteladankan Rasulullah dalam rangka memuliakan tetangganya dalam bermasyarakat. Sampai-sampai Allah memuji akhlah beliau.

QS. Al Qalam (68) 4.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Meskipun begitu, beliau tidak gila hormat dan tidak mau dipuji-puji para sahabat secara berlebihan.

Akhlak berpolitik. Tujuan politik Rasulullah adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur dalam ridha Allah. Beliau menjalankan politik bersih penuh dengan keadilan dan kasih sayang. Sangat berbeda dengan berpolitik zaman modern ini,  cara berpolitik untuk berebut kekuasaan.

Suatu ketika sedang shalat Fajar berjamaah di Hudaibiyah. Tiba-tiba datang serombongan kaum kafir menyerbu. Akhirnya mereka tertangkap oleh kaum Muslimin. Tapi Rasulullah membebaskan mereka tanpa tebusan apa-apa.

Pada saat penaklukan kota Mekkah Rasulullah memberikan pengampunan kepada orang-orang kafir Quraisy yang pernah menyakiti dan mengusir kaum Muslimin. Beliau adalah orang yang mudah memaafkan.

Begitulah Rasulullah, orang yang sangat menghargai manusia lain dan kemanusiaan. Walaupun berbeda politik, berbeda suku, berbeda bangsa bahkan berbeda agama. Sejak awal Islam disyi’arkan oleh Rasulullah dengan damai dan akhlak yang mulia.

Ternyata Rasulullah menjadi tauladan pada segala bidang dan sisi kehidupan. Tidak ada satupun manusia yang bisa menyamainya. Maka pantas beliau dijadikan sebagai teladan yang baik yang pernah hadir di muka bumi. Semoga kita senantiasa mentauladani akhlak Rasulullah dalam bersikap dan bertingkah laku dalam menyampaikan dakwah dan menjalankan syariat Allah………….. Amin. Wallahu’alam.